105 Guru Agama Ikuti Pelatihan BNPT di Hotel Aston Batam

0
349
Pejabat BNPT foto bersama pengurus FKPT Kepri dan narasumber.

BATAM – Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) RI bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Cabang Kepri menggelar kegiatan lintas agama yang digelar di Hall Lantai I Hotel Aston Batam, Kamis (7/11/2019).

Kegiatan ini dihadiri Deputi I BNPT RI Mayjend TNI Hendri P Lubis dan diikuti oleh para guru agama dari TK, SD hingga SMP di Batam. Menurut Ketua FKPT Kepri Reni Yusneli, peserta yang ikut pada kegiatan sosialisasi kali ini ada juga dari kalangan pendidik agama tingkat PAUD sampai ke SMP.

 “Pesertanya ada 105 peserta dari Kota Batam. Selain penyampaian materi, peserta juga diajarkan tentang penyusunan Rencana Penyusunan Pembelajaran (RPP). Tujuannya selain untuk bekal memberikan materi sehari-hari juga akan ada perlombaan di tingkat nasional,” kata Reni Yusneli.

DI kegiatan FKPT bidang Agama dan Budaya ini juga, tampak panitia menghadirkan tiga narasumber yang berasal dari kalangan tokoh agama yaitu MUI Kepri, peneliti agama dari BNPT RI dan Kabid Agama FKPT Kepri Edy Akhyari.

Menurut Ketua FKPT Kepri, terorisme dan radikalisme dan yang akan tumbuh dan berkembang dimana lahan ia berada. Kalau di lahan kering, tentu mereka akan mati.

“Saat ini mereka sudah bijak mencari lahan yang produktif. Untuk itu, kita perlu terus memberikan nilai-nilai agama sebagai landasan moral, hakekat keberadaan manusia dalam lingkungan sebagai upaya kita bersama menangkal terorisme dan radikalisme. Siswa perlu diberikanksadaran dalam berfikir dan bertindak dengan baik agar tidak jauh dari nilai agama yang membawa harmoni kebangsaan,” sebutnya.

Kata Reni Yusneli, ada tiga institusi soisial yang sangat penting untuk memerankan diri dalam melindungi generasi muda. Masing-masing lembaga pendidikan, keluarga dan komunutas.

Menurutnya, FKPT dibentuk oleh BNPT untuk mengnyinergikan upaya pencegahan terorisme di daerah dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat dan pemerintah daerah berbasiskan penerapan nilai kearifan lokal.

Sementara itu, menurut Deputi 1 BNPT, banyak hal yang menyebabkan munculnya terorisme dan radikalisme yang patut selalu kita waspadai bersama. “Bermula dari sikap anti keberagaman lalu menuju intoleran yang apa bila tidak dikelola dengan baik akan memantik lahirnya radikalisme yang berujung pada terjadinya aksi terorisme,” sebut Deputi BNPT RI

Menurutnya, tingginya potensi radikalisme belakangan ini adalah karena faktor kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan pengetahuan berliterasi dengan bijak bagi masyarakat.

“Di Era Disrubsi ini, informasi menjadikan masyarakat yang tidak siap mengalami kesulitan dalam membedakan mana informasi yang benar dan mana yang hoaks. Situasi ini semakin diperparah dengan merebaknya hoaks yang mengalir deras di media sosial. “Potensi pemanfaatan teknologi ini yang perlu sama-sama kita agar tidak dimanfaatkan oleh kelompok teroris. Penggunaan internet saat ini sangat disukai teroris karena memiliki dampak yang sangat luas dan cepat,” terangnya. (jek)

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here