15 Hasil Karya TTG Dipresentasikan

0
98
Ramadoni memperlihatkan hasil biji cokelat yang sudah tersangrai.

TANJUNGPINANG – 15 kelompok menjadi peserta dalam lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kota Tanjungpinang. Masing-masing mereka mempresentasikan alat yang dihasilkan di depan juri, di Aula Bulang Linggi, Jumat (3/5) pagi.

Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun oleh DP3APM Kota Tanjungpinang, upaya menumbuhkankembangkan ide-ide kreatif dan inovatif yang dimiliki oleh masyarakat. Peserta mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa dan kelompok masyarakat umum.

Salah satunya yaitu alat penyangrai buatan Ramadoni ikut serta dalam lomba tersebut. Dituturkannya, ide ini muncul karena ingin menekan biaya dari usaha yang sedang dijalankannya.Ia mengaku sedang merintis usaha membuat kue cokelat dan brownis. Membutuhkan bahan baku utama bubuk cokelate yang menurutnya mahal.

“Bubuk coklat ternyata mahal. Saya berfikir untuk menekan biaya maka mengelola dari biji cokelatnya. Apalagi harga biji cokelat di Karimun murah,” tuturnya.

Ia membeli biji cokelat di Karimun senilai Rp20 ribu per kilo. Menurutnya lebih murah daripada membeli dalam bentuk bubuk cokelat. Ramadoni mencoba meyangrai atau menggoseng biji cokelat dengan manual yaitu
menggunakan kuali dan kompor gas.

Menurutnya, selain butuh waktu yang lama ditambah memerlukan tenaga ekstra.Mempermudah proses penggosengan biji cokelate, ia membuat sendiri mesin penyangrai. Bahan-bahanya yang diperlukan tidak ribet dan
menurutnya mudah didapatkan. Diantaranya dua buah freon sudah bisa menampung 15 kilo biji cokelat serta ditambah menis dinamo serta ditambah kompor gas.

“Ini lebih murah, serta dalam dua jam biji cokelat sudah rata tersangrai. Bila manual bisa sekitar empat jam dan capek menggoseng di kuali,” tuturnya.

Ia menuturkan, bila membeli mesin sangrai dengan kapasitas 15 kilo, dihargai Rp12 juta. Alat yang diciptkannya, bila ada yang ingin membeli cukup membayar Rp3 juta. “Modalnya saya gak perlu bilang berapa, tapi murah kok,” tuturnya singkat.

Selain itu, ada teknologi pembangkit listrik dengan tenaga gelombang. Cocok digunakan para nelayan di pesisir atau masyarakat umum. Alat ini diciptakan adik-beradik yaitu Ade Novita Sari dan Ahmad Ari Saputra perwakilan Kelurahan Tanjung Ayun Sakti.

Dituturkan Ade Novita Sari, alat ini cocok bagi nelayan maupun warga pesisir. Bagi masyarakat umum, bisa digunakan saat listrik padam dengan membawa alat tersebut ke rumah. Alat ini bisa menyimpan daya setelah di
letakkan di air laut.

“Kapasitas daya nya saya belum tahu pasti. Uji coba yang saya lakukan, setelah dua jam di letakkan di laut dan diangkat bisa digunakan untuk mengidupkan lima lampu dan mengecas hp 12 jam di rumah,” ucapnya.

Dituturkannya, semakin besar gelombang, maka mikro hidro pump lebih cepat terisi. Begitu juga dengan kelompok siswa SMP Green Camp mempresentasikan pipet organik dari jenis tanaman Lepironia. Tanaman ini hanya perlu dikukus 15 menit setelah dibersihkan, diyakini sudah aman digunakan sebagai penyedot minuman.

Kadis DP3APM Kota Tanjungpinang, Ahmad Yani menuturkan, melalui perlombaan ini, makin banyak masyarakat berinovasi. Menciptakan berbagai alat yang mempermudah berbagai hal, khususnya menunjang usaha mereka.

“Alat yang diciptakan harus lebih murah dari alat yang ada sekarang. Serta bahan-bahannya harus mudah didapatkan,” tuturnya. Ditambahkannya, tahun ini peserta 15 kelompok. Serta diantaranya ada perwakilan dari SMP.

“Tahun ini menarik ada peserta siswa SMP, aya fikir mereka juga bisa memiliki karya yang mudah-mudahan bermanfaat dan semangatnya bisa ditularkan kepada siswa ainnya,” tuturnya.

Pemenang TTG tingkat kota akan mengikuti ke jenjang berikutnya di Provinsi Kepri dan tak menutup kemungkinan tingkat nasional. Ditambahkannya, dewan juri yaitu perwakilan OPD nya serta dari Provinsi Kepri. (dlp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here