17 Oktober, SWRO Batu Hitam Beroperasi

0
927
TINJAU SWRO: Ade Angga bersama anggota DPRD Tanjungpinang lainnya saat meninjau SWRO Batu Hitam, belum lama ini. f-suhardi/tanjungpinang pos

Harga Per Kubik Rp15 Ribu-Rp19 Ribu

Ini janji terbaru Pemko Tanjungpinang tentang Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Batu Hitam. Pada Awal Agustus lalu, SWRO Batu Hitam dijanjikan bakal beroperasi. Namun karena masih ada kendala hingga pengoperasianya ditunda. Kini muncul lagi janji baru.

TANJUNGPINANG – Kali ini, Pemko Tanjungpinang menyebut rencana pengoperasian atau launching SWRO akan dilakukan sekitar dua pekan lagi atau tepatnya pada 17 Oktober 2017 mendatang. Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruangan (PU dan PR) Kota Tanjungpinang, Hendri pihaknya sedang mempersiapkan pengoprasian SWRO.

Meskipun akan di-launching, namun tarif air SWRO belum bisa dipastikan. Menurut Hendri, tarif air bersih SWRO masih dalam pembahasan. ”Besarnya tarif itu belum final meski sudah ada hitung-hitungan sebelumnya. Semua masih dibahas,” kata Hendri kepada Tanjungpinang Pos, Selasa (3/10).

Diperkirakan Hendri, tarif air bersih SWRO ini antara Rp 15 ribu hingga Rp 19 ribu per kubik. Untuk pengelolaan SWRO Batu Hitam Ini, Pemko Tanjungpinang sudah menyiapkan menunjuk Pelaksana tugas (Plt) Unit Pelasana Teknis Daerah (UPTD) SWRO.

Pelanggan air SWRO Batu Hitam, sambungnya, ada 1.800 pelanggan. Angka itu sesuai dengan jumlah pelanggan yang mendaftar saat pembukaan pendaftaran pelanggan beberapa waktu lalu. ”Untuk realisasi berapa pelanggannya baru diketahui saat SWRO sudah beroperasi,” sambungnya.

Untuk instalasi ke pelanggan, sebutnya, sudah dipasang sejak beberapa tahu lalu. Hanya saja, pihaknya perlu memeriksa ulang saluran yang sudah dibuat, karena sejak instalasi pipa itu dipasang belum pernah digunakan.

”Apabila ada ditemukan pipa yang rusak, seperti bocor, maka akan langsung diperbaiki atau diganti dengan pipa baru. “Kita lihatlah nanti,” sebut dia.

SWRO ini sudah selesai dibagun sejak beberapa tahun lalu. Proyek Satker Kementrian PU ini menelan biaya pembanguan Rp97 miliar dana APBN.  Proyek ini didesain untuk bisa mengatasi kebutuhan 4000 pelanggan dengan kapasitas 50 liter per detik.

Hanya saja, karena tingginya biaya oprasional hingga tarifnya akan mahal. Untuk PDAM tirta Kepri saja, tarifnya hanya Rp 2.600 per meter kubik. Dalam sejarahnya, SWRO di Batu Hitam Tanjungpinang ini diajukan oleh Pemprov. Tetapi, ada tarik ulur antara Pemprov dengan Pemko tentang penetapan pengelolaannya.

Setelah proyek itu jadi Pemprov Kepri menolak mengoperasikan SWRO batu hitam karena biaya operasionalnya yang sangat tinggi dan tidak mau menerapkan tarif mencapai Rp19 ribu.

Belakangan, Pemko Tanjungpinang yang mengajukan ke pemerintah pousat untuk mengelola SWRO batu hitam. Pasalnya, selama ini warga sekitar pelantar harus membeli air bersih dengan harga yang lebih mahal yang dijual per drum.(Andri DS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here