2 Juli, PPDB SD-SMP Dimulai

0
461
WAKIl Ketua I DPRD Kota Tanjungpinang Ade Angga dan anggota Komisi I Simon Awantoko saat berkunjung ke SDN 003 Tepilaut Tanjungpinang, belum lama ini. F-martunas/tanjungpinang pos

Siswa Bebas Pilih Sekolah dalam Satu Zona

Mulai 2 Juli bulan depan, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kota Tanjungpinang akan dimulai.

TANJUNGPINANG – DI Tanjungpinang, penerimaan siswa baru masih menggunakan sistem manual atau orangtua siswa bersama anaknya datang mendaftarkan diri ke sekolah.

Beda dengan untuk SMA/SMK sederajat, pendaftaran melalui aplikasi online. Sehingga orangtua siswa tak perlu datang dan antre mendaftar di sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang, Dadang AG mengatakan, pendaftaran tetap menggunakan sistem zonasi (dulu disebut rayonisasi). Siswa bebas memilih sekolah mana saja asalkan masih di zonasi tempat tinggalnya.

”Kita tidak batasi harus dua atau tiga sekolah. Tapi bebas mau pilih sekolah dimana. Nanti kalau sudah diterima, maka siswa yang bersangkutan memilih dimana dia hendak sekolah,” ujar Dadang AG kepada Tanjungpinang Pos via ponselnya, Senin (25/6).

Dijelaskannya, orangtua tidak perlu panik. Sebab, pihak Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang sudah menghitung jumlah kursi yang ada dengan jumlah siswa yang hendak sekolah dan mencukupi.

Yang penting, kata Dadang, orangtua siswa mampu jangan berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Beri kesempatan bagi warga yang ekonominya lemah.

Sistem zonasi, kata Dadang, sudah lama diberlakukan di Tanjungpinang dan kini diperkuat dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) tentang PPDB.

”Kita sudah pengalaman tentang PPDB ini. Daya tampung juga mendukupi,” tambah Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Kepulauan Riau itu.

Dadang mengatakan, dengan sistem zonasi atau rayonisasi ini, maka tidak ada lagi sekolah unggulan atau sekolah rujukan untuk PPDB. ”Sekolah rujukan itu ada untuk peningkatan mutu pendidikan, bukan sekolah rujukan untuk PPDB. Sehingga tidak ada sekolah yang diberi kewenangan khusus untuk menerima siswanya. Sekarang semua sekolah sudah sama,” sambungnya.

Mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemprov Kepri ini mengatakan, dengan tidak adanya istilah sekolah rujukan atau sekolah favorit, maka siswa tidak berlomba-lomba untuk sekolah di satu sekolah tertentu. Karena semua sekolah sudah sama.

Sekolah rujukan, selain untuk peningkatan mutu pendidikan, juga untuk membina sekolah-sekolah lain dalam mendapatkan penghargaan Adiwiyata. Sekolah rujukan yang sudah mendapatkan Adiwiyata, bisa membina beberapa sekolah lain yang belum mendapatkan Adiwiyata.

Dadang pun berpesan kepada orangtua siswa yang hendak mendaftarkan anaknya masuk SD, maka syarat utama yang dibutuhkan adalah usia 7 tahun dibuktikan dengan Kartu Keluarga (KK) dan juga akta lahir si anak.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here