200 Biksu Keliling Bawa Patta

0
699
warga memberikan bekal kepada calon biksu di acara puncak pelatihan Pabajja Samanera di Jalan Merdeka Tanjungpinang, kemarin.

TANJUNGPINANG – Animo warga Ibukota Tanjungpinang, khususnya etnis Tionghoa berada di Vihara Bahtra tidak surut meskipun panas , Jumat (28/6) siang. Mereka menyaksikan ritual khusus, yakni 200 biksu berkeliling sambil membawa patta (mangkok makanan).

Para biksu keliling mulai dari Jalan Merdeka, Jalan Pos, Jalan Pasar Ikan, Jalan Pasar, Jalan Gambir, Jalan Tambak dan Jalan Potong Lembu.

Puncak program Pabajja Samanera diakhiri dengan dengan melakukan Pindapatta yang dimulai di Vihara Bahtera Sasana di Jalan Merdeka Tanjungpinang.

Pindapatta adalah tradisi Budhis (Umat Budha) dilaksanakan para biksu atau rohaniawan maupun Samanera, dengan berjalan kaki sambil membawa Patta. Ini simbol menerima makanan dari umat sebagi berlangsungnya kehidupan biksu.

Pelatihan biksu telah berlangsung di Yayasan Maitri Paramita (Vihara Avalokitesvara Graha) Km 14 Tanjungpinang. Pesertanya dari beberapa negara yaitu, Srilangka, Taiwan, Singapura, Malaysia dan Indonesia sendiri.

Baca Juga :  Pertimbangkan Tanjungpinang Jadi Kota Industri

Sepanjang jalan yang dilintasi, warga memberikan amplop atau makanan dan minuman ke para peserta calon biksu dan biksu senior. Pada Pindapatta ini, seluruh peserta dipimpin beberapa biksu senior.

Mereka melakukan jalan kaki sambil membawa Patta untuk menerima dana dan makanan dari umat Buddha. Dana dan makanan itu untuk kelangsungan hidup mereka.

Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Provinsi Kepri, Hengky Suryawan juga ikut berjalan kaki dari Jalan Merdeka sampai di Jalan Akau Potong Lembu. Ritual tersebut menjadi tontonan masyarakat setempat.

Ini juga menjadi hiburan bagi masyarakat yang kebetulan melintas di Jalan Merdeka dan sekitarnya. Pihak kepolisian terlihat berada di lokasi menjaga keamanan.

Baca Juga :  Nama Pejabat Bisa Berubah di Injury Time

Hengky Suryawan mengatakan, untuk menjadi biksu, tidaklah mudah. Harus melalui proses panjang dan tidak mudah menentukannya. Para biksu senior benar-benar memilih dan menentukan berdasarkan dari keikhlasan, penjiwaan serta berpasrah diri kepada yang Widdhi dari peserta Pabajja Samanera ini.

Sambung dia, Pabbajja Samanera merupakan salah satu latihan untuk meninggalkan kehidupan duniawi seperti tidak berumah tangga dan mempraktikan Dharmmavinaya. Serta guna mendapatkan pemahaman dan pengertian yang lebih baik dalam mempelajari dan menghayati ajaran
agama Buddha. Diyakini sebagai bekal untuk masa depan dalam menjalani kehidupan yang lebih luhur.

Sedangkan Pindapatta adalah merupakan tradisi Buddhis yang dilaksanakan oleh para biksu/rohaniawan maupun Samanera dengan cara berjalan kaki tanpa alas kaki sambil membawa patta untuk menerima
atau memperoleh dana makanan dari umat guna menunjang kelangsungan hidupnya.

Baca Juga :  AKP Syamsurizal Dapat Penghargaan dari Presiden

Melalui latihan ini penganut Buddha dituntun mempraktikkan Dhammavinaya guna memahaman secara lebih baik dan menghayati ajaran agama Buddha yang tentunya akan berguna sebagai bekal untuk masa depan.

” Apapun yang diberikan warga para biksu harus menerimanya tidak boleh menolaknya,” kata Hengky.

Dituturkannya, setelah melaksanakan ritual di Tanjungpinang, para peserta kembali ke Batam, melaksanakan pelatihan. (bas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here