2018, Optimis Pertumbuhan Ekonomi 4,2 Persen

0
1207
Cari kerja: Ribuan pencari kerja rebutan untuk memasukan lamaran di salah satu perusahaan di kawasan Batamindo Mukakuning bebebrapa waktu lalu. f:dokumen/tanjungpinang pos

Proyek Minim, Batam Sudah Tak Seperti Dulu lagi

Kondisi Ekonomi di Kepri memburuk beberapa tahun terakhir. Akibat minimnya proyek di sekotor swasta belakangan ini, membuat banyak karyawan di-PHK. Bahkan di Batam, sudah ratusan ribu warga memilih pulang kampung untuk tidak kembali lagi, karena Kota Batam sudah tidak bisa diandalkan lagi. Seperti apa pertumbuhan Ekonomi di Kepri ke depan?

BATAM – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 sekitar 2,4 sampai 2,6 persen. Sementara, untuk tahun 2018, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Batam berkisar 4,2 sampai 4,6 persen. BI optimis, khusus Batam, pertumbuhan 7 persen dalam dua tahun, hingga 2019, bisa tercapai. Namun harus ada pembenahan di berbagai sektor.

Proyeksi pertumbuhan itu disampaikan Kepala BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, Kamis (21/12) di Batam, saat pertemuan tahunan Bank Indonesia. ”Mencermati perkembangan perekonomian global, nasional dan regional Kepri di 2017 serta tantangan ke depan. Kami memperkirakan perekonomian Kepri 2018 akan tumbuh pada kisaran 4,2 sampai 4,6 persen (yoy),” katanya.

Pertumbuhan ekonomi Kepri diperkirakan akan menguat dibanding 2017. Demikian dengan perekonomian global diperkirakan tumbuh menguat sekitar 3,7 persen pada 2018. Perbaikan ekonomi global akan mendorong permintaan produk ekspor nonmigas Kepri dengan negara tujuan ekspor utama.

”Yaitu Singapura, Amerika Serikat, Tiongkok dan Jepang,” harapnya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi sejalan dengan perkiraan pemulihan ekonomi global di 2018. Sehingga, harga komoditas diperkirakan akan meningkat didorong peningkatan permintaan global. “Perbaikan harga migas diperkirakan akan mendorong ekspor migas Kepri di sektor gas alam.

”Makanya, kami usulkan beberapa proyek strategis, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Seperti pembangunan Jembatan Batam Bintan, pengembangan pelabuhan Batu Ampar, pengembangan dan modernisasi dan sarana Bandara Hang Nadim,” katanya.

Selain itu, BI mengusulkan agar ditetapkan kawasan ekonomi khusus (KEK) Tanjung Sauh. Selain KEK Pulau Asam di Kabupaten Karimun dan yang sudah ada saat ini, KEK Galang Batang di Kabupaten Bintan. ”Harus didorong pariwisata di Kepulauan Anambas dan KEK Industri Perikanan di Natuna,” sarannya.

Selain itu, diminta agar pembangunan bandara di Bintan dan fasilitas MRO Garuda Indonesia, perlu dipercepat eksekusinya. Hal itu diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Kepri ke depan. ”Faktor-faktor lain yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Kepri antara lain investasi yang diperkirakan tetap tumbuh terutama pada investasi bangunan,” harap Gusti.

Dia juga menilai program Pemko Batam untuk mendorong perekonomian Batam dengan fokus utama di sektor pariwisata dan pengembangan pulau-pulau terluar, sangat positif kedepan. ”Selain itu, potensi pariwisata akan terus ditingkatkan terutama pada sektor bahari, shopping dan leisure,” imbuhnya.

Menurut Gusti, pemulihan sektor utama, dalam hal ini, industri pengolahan dapat ditopang melalui restrukturisasi industri. Seperti dengan menggabungkan perusahaan-perusahaan shipyard berskala kecil agar lebih efisien dan memiliki kapabilitas lebih baik untuk memenuhi permintaan.

”Termasuk dalam melakukan proses maintenance kapal, serta mendorong penggunaan teknologi tinggi dalam proses produksinya. Sehingga memiliki kemampuan dalam memproduksi jenis ragam kapal termasuk jenis kapal komersial,” imbaunya.

Dengan pengembangan produksi kapal komersial seperti kapal pesiar, kapal penumpang dalam jumlah dan ukuran besar, akan mengurangi ketergantungan terhadap permintaan kapal dari industri migas. BI juga mengapresiasi BP yang berencana untuk mewujudkan 2018 sebagai tahun Pariwisata Batam.

”Kami juga mendukung penuh rencana BP Batam untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 7 dengan salah satunya melalui menjadikan Batam sebagai pusat logistik,” imbaunya.

Disampaikan Gusti, prospek inflasi Kepri 2018 diperkirakan akan membaik pada rentang sasaran 3,51 persen (yoy). Prestasi pengendalian inflasi secara nyata telah berhasil diwujudkan oleh TPID Kota Tanjungpinang dengan berhasil menjadi TPID Kabupaten/Kota Terbaik se-Sumatera pada tahun 2017.

”Namun pada 2018 tantangan pengendalian inflasi tetap perlu diwaspadai. Perkiraan perbaikan ekonomi Kepri pada 2018, akan mendorong tingkat konsumsi yang akan mendorong laju inflasi kelompok inti,” ujar Gusti.

Diyakini, jika program yang direncanakan berjalan mulai tahun depan, akan baik untuk Batam kedepan. Dari sisi investasi, akan ada peningkatan. Dengan catatan, yang direncanakan BP Batam bisa berjalan. ”Kita sepakat mendorong pertumbuhan lewat parawisata dan perikanan di Kepri. Karena parawisata dan perikanan, masih kecil yang tergarap. Padahal perikanan kita bisa sampai 1juta ton per tahun,” katanya.

Karena itu, kedepan diminta agar pengembangan perikanan tidak hanya pada tangkap. Namun pada budidaya dan ditindaklanjuti dengan pembangunan pabrik untuk mengemas ikan. ”Tapi kita juga butuh tata ruang laut, terpisah dari RTRW. Itu perlu dipikirkan ke depan,” imbau Gusti.

Batam juga diminta segera berubah dari FTZ ke KEK. Sehingga produk Batam bisa dipasarkan dalam negeri.

”Produk yang di Batam, banyak dibutuhkan dalam negeri, tapi karena status FTZ, menjadi sulit. Karena menambah biaya. Dengan adanya FTA, yang dari Singapura- Jakarta, pajak Rp0. Sementara dari Batam, harus ke Singapura dulu baru ke Jakarta,” pesannya. (mbb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here