2020, Batam Bakal Kekurangan Air Bersih

0
281
Kepala BP Batam Lukita saat ikut kegiatan sosial penghijauan hutan di sisi DAM Duriangkang beberapa waktu lalu. f-istimewa/huams BP batam

Proyek DAM Tembesi Ditunda

Batam sebagai kota industri membutuhkan cadangan air yang banyak untuk mendukung dunia industri dan parwisata serta untuk kebutuhan masyarakat. Saat ini sduah aa banyak sumber air yang dikelola oleh PT Adya Tirta Batam (ATB) selaku pengelola air bersih untuk wilayah Batam.

BATAM – Waduk-waduk yang ada di Batam adalah Waduk Sungai Harapan, Waduk Mukakuning, Waduk Seiladi dan Dam Duriangkang. Ada satu waduk lagi yang dulu pernah jadi tumpuan namun kini sudah ditutup karena pendangkalan yakni Waduk Baloi.

Hanya saja karena tingginya pertumbuhan penduduk serta meningkatnya kebutuhan air untuk industri, waduk yang ada sudah tidak mencukupi untuk menyuplai kebutuhan air bersih. Hingga, pemerintah melalui BP Batam membuat dua waduk lagi yang secara kuantitas lebih besar yakni Dam Tembesi dan Dam Seigong. Dua waduk ini belum dioperasikan. Seperti halnya dam tembesi yang yang mestinya beberapa tahun ke depan sudah bisa digunakan dan sudah harus dibenahi, namun ini tidak bisa digesa.

Badan Pengusahaan (BP) Batam memutuskan menunda rencana lelang pengelolaan Dam Tembesi, yang memiliki kapasitas cukup besar, atau sekitar 600 meter kubik per detik ini. Dam yang ada di Batam saat ini, diakui masih cukup untuk memenuhi kebutuhan Batam, hingga tahun 2020, namun jika Dam Tembesi tidak disiapkan, bisa mengganggu kebutuhan air Batam ke depan. Dam tembesi ini berada di sisi kiri jalan jika hendak menuju Jembatan 1 Barelang.

Kondisi ketersediaan air di Batam ini diungkapkan Direktur PT Adhya Tirta Batam (ATB) Benny Andrianto Antonius, Kamis (20/12) di sela-sela kegiatan donor darah yang di gelar di Mal Pelayanan Publik (MPP) Batam. Keberadaan Dam Tembesi itu diakui, dibutuhkan agar cadangan air di Batam, survive. Rencana lelang pengelolaan waduk Tembesi, seharusnya dimulai Desember 2018, sebelum ditunda Badan Pengusahaan (BP) Batam.

”Untuk saat ini tidak perngaruh, jika Dam Tembesi belum beroperasi. Pengaruh pada ketersediaan air,” kata Benny.

Menurutnya, Batam butuh survive hingga tahun 2020 mendatang. Jika tidak ada cadangan, maka akan mengganggu pada kondisi air di Batam. Di sisi lain, waktu penundaan tender pengelolaan Dam Tembesi, belum diketahui sampai kapan. ”Air baku di Batam butuh survive sampai 2020. Kalau tidak ada cadangan tambahan, akan terganggu pada ketersediaan air,” sambungnya.

Diharapkan, rencana kelanjutan lelang pengelolaan Dam Tembesi, akan ada kepastian dalam satu tahun kedepan. ”Jika tidak, ATB harus mencari solusi untuk menyiasati penundaan. Kami ingin agar, saat ATB menyelesaikan kontrak kerjaama nanti, ketersediaan air di Batam, aman,” harapnya.

Terkait konsesi yang akan berakhir tahun 2020 mendatang, ATB mengaku tidak ada persiapan khusus. Pihaknya lebih memilih untuk meningkatkan pelayanan. Demikian dengan pelayanan yang tidak akan terganggu selama masa proses berakhirnya kontrak ATB dengan BP Batam. ”ATB ingin, kontrak berakhir secara profesional. ATB tetap ingin ada dengan proses yang benar,” kata dia.

Pihaknya tidak memiliki persiapan untuk mengakhiri konsesi. ”ATB tidak persiapan khusus, terkakhir konsesi. Kita tetap meningkatkan pelayanan. Selama peralihan nanti, tidak ada ada masalah. Pelayanan tetap tidak terganggu,” sebutnya.

Demikian dengan rencana ATB untuk mengikuti tender pengelolaan air ke depan, setelah kontrak mereka berakhir. Sampai saat ini pihaknya masih menunggu kabar dari BP Batam, terkait konsep pengelolaan air ke depan, pasca tahun 2020.

”Belum jelas tender ke depan. Itu yang sudah kami tunggu. Siapapun nanti yang melanjutkan, termaksud jika ATB, maka komitmennya untuk meningkatkan pelayanan,” imbuh Benny.

Sebelumnya, BP Batam sudah melakukan penjajakan minat atau market sounding pengelolaan Dam Tembesi. Kegiatan itu dihadiri peserta didominasi BUMN, yang digelar dalam bentuk workshop. D iantara peserta, ada ATB, Wika, Waskita dan lain. Siapa pemenang tender nanti, akan berkolaborasi dengan operator air, yang akan menjadi peserta lelang di November 2018 mendatang.

Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam, Binsar Tambunan mengatakan, market sounding rencana pelelangan dam Tembesi dilakukan, sesuai UU Sumber Daya Air. Sesuai dengan ketentuan, maka pengelolaan air bersih tidak boleh dikelola satu perusahaan dari hulu sampai hilir.

”Selain itu, masa kontrak ATB juga sudah mau habis November 2020. Sehingga waduk Tembesi sekarang ditangani BP,” jelasnya.

Diakui, dengan masa kontrak ATB yang tinggal 1,5 tahun lagi, dengan investasi yang dibutuhkan Rp300 miliar, tidak sesuai jika perusahaan air itu mengelola. Dengan hasil kajian BP, maka dibuka kerjasama B to B (bisnis to bisnis), tanpa APBN. Diakui, sampai saat ini, 25 perusahaan yang tertarik baik kontraktor maupun pengelola/operator air dari dalam air, dari Jepang, Manila dan Singapura.

Kapasitas Dam Tembesi diperkirakan 600 liter per detik. Dengan pengoperasian Dam Tembesi nanti, maka seluruh dam di Batam akan mampu memproduksi sekitar 3.435 liter air bersih per detik.

Namun kini, BP Batam menunda rencana tender pengelolaan. Permintaan penundaan proyek terutama yang sifatnya kerjasama pemerintah badan usaha (KPBU) disampaikan ke Kemenko Perekonomian. Kelanjutan proyek pembangunan disebutkan, akan ditentukan pimpinan BP Batam yang baru nanti, jika Lukita jadi diganti. (MARTUA)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here