215 Tahun Penyengat

0
407
Masjid sultan riau di pulau penyengat

SEJAK tengah pekan lalu, ada keriuhan di pulau Penyengat. Walau konon terdengar, tidak seriuh tahun-tahun sebelumnya, hilir-mudik pompong menuju ke Penyengat tengah pekan lalu tetap lebih ramai ketimbang hari-hari biasa. Semua itu berpunca gelaran Festival Pulau Penyengat (FPP). Ini masuk tahun ketiga. Sebuah pertanda dari tahun ke tahun, sebenarnya ada harapan yang ditumpukan pada festival yang seluruh kegiatannya dipusatkan di Penyengat ini.

Sudah pasti harapan tentang pariwisata. Dengan dimasukkan festival ini sebagai hajatan rutin tahunan dan kalender pariwisata Kementerian Pariwisata RI, diharapkan semakin tenar pamor Penyengat ke pasar pariwisata internasional. Semakin dekat mimpi hendak menjadikan pulau bersejarah ini sebagai Warisan Dunia. Sehingga mimpi melihat pelancong-pelancong dari pelbagai dunia berduyun-duyun menyeberang dari Tanjungpinang bukan lagi sekadar angan. Maka, kepada festival ini harapan sedemikian dititipkan.

Lalu harapan lain yang tidak kalah penting, tetapi tidak terasa langsung dampaknya, adalah pelestarian budaya. Betapa kerja ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Seberapa pun anggaran yang dialokasikan tidak bisa diukur dengan angka-angka. Dalam pelestarian, termasuk kerja-kerja menumbuhkan kebanggaan, semangat rasa memiliki, dan tekad untuk terus melestarikan produk-produk kesenian atau nilai-nilai budaya Melayu.

Dua harapan ini kemudian dibungkus dalam inovasi-inovasi gelaran setiap tahunnya. Satu yang paling berbeda sekaligus menonjol pada gelaran tahun ini dibandingkan tahun pertama dan kedua adalah disejalankan dengan perayaan Hari Ulang Tahun Penyengat.

Bukan ulang tahun kesatu, kedua, atau ketiga – sesuai angka festivalnya, tapi perayaan kemarin sebenarnya adalah perayaan ke-215 tahun Penyengat, jika mengacu peristiwa historis sebagai latar belakangnya.

Mari sejenak menengok setahun lalu. Kala itu, digelar msuyawarah untuk menetapkan Hari Jadi pulau bersejarah ini. Kala itu, pada musyawarah yang berlangsung di Balai Adat Indera Perkasa, disepakati peristiwa 25 Februari 1803 (kemudian diralat menjadi 13 Februari 1803) sebagai momen historis penetapan Hari Jadi.

Peristiwa bersejarah itu adalah penyerahan pulau Penyengat dari Sultan Mahmud kepada Engku Puteri Hamidah, yang santer dikabarkan sebagai mahar pernikahan keduanya. Peristiwa ini sejatinya bagian dari beberapa rangkaian peristiwa penting yang terjadi menyusul Perdamaian Kuala Bulang, yakni sebuah peristiwa bersejarah yang terjadi di atas Perahu Engku Busu (yang berlabuh di Kuala Bulang, dekat Pulau Bulang-Batam) pada 24 Agustus 1803, dan sekaligus mendai berakhirnya perselisihan anata puak Melayu di bawah Temenggung de facto Raja Muhammad dan pihak Bugis di bawah Yang Dipertuan Muda Raja Ali (Marhum Pulau Bayan) di hadapan Sultan Johor-Riau-Lingga dan Pahang, Sultan Mahmud Riayatsyah.

Setelah peristiwa itu Sultan Mahmud, Raja Ali, dan Engku Muda Raja Muhammad mudik ke Riau dan bersemayam di Tanjung Unggat dekat Tanjungpinang sekarang. Di antara peristiwa penting itu dalah Sultan Mahmud kemudian menikahi Raja Hamidah.

Semua naskah dan satu edisi cetak Tuhfat al-Nafis mencatat bahwah setelah sampai di Riau, “… maka baginda Sultan Mahmud pun dinikahkan oleh Yang Dipertuan Muda Raja Ali dengan paduka anakanda Raja Hamidah yaitu Engku Putri, putera Marhum yang mangkat di Teluk Ketapang … Syahdan setelah selesai daripada bernikah kahwin itu, maka lalu memperbuat istana di Tanjung Unggat. Maka tetaplah baginda Sultan Mahmud itu di dalam Negeri Riau, bersuka-sukan sehari-harinya adanya.”

Lantas, sebenarnya kapan peristiwa paling terkenang dalam pikiran kita itu terjadi, ketika Raja Hamidah dipindahkan Sultan Mahmud menetap di Pulau Penyengat? Merujuk Tuhfat al-Nafis, diicatatkan bahwa Sultan Mahmud memerintahkan Punggawa Bakak yang tinggal di Pulau Penyengat untuk menebas dan membersihkan pulau itu dan menitahkan Encik Kaluk bin Encik Suluh memimpin pembangunan istana, pagar (kota) dan benteng istana, balairung, dan masjid, untuk Raja Hamidah di Pulau itu.

“Maka apabila selesai Pulau Penyengat itu jadi negeri tempat kerajaan maka baginda pun memindahkan paduka adinda Engku Putri, yaitu Raja Hamidah istrinya, ke istana Pulau Penyengat dengan orangnya dan anak raja sertanya.” (Tuhfat al-Nafis)

Peristiwa ini kemudian ditandai dengan titah Sultan Mahmud kepada Raja Hamidah di hadapan anak raja-raja seperti seperti Raja Mahmud putra Tengku Panglima Besar ibni Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, dengan titah sebagai berikut: “… Hai Raja Hamidah, adalah saya membuat Pulau Penyengat ini dijadikan negeri. Sudah cukup dengan istana serta kota paritnya. Maka Raja Hamidah lah yang saya buatkan, jadi milik kepada Raja Hamidah …”

Peritiwa inilah yang terjadi jauh setelah pernikahan Rajaa Hamidah dan Sultan Mahmud pada 1803. Dan tampaknya, peristiwa inilah yang kini “dianggap” sebagai penyerahan mas kawin kepada Raja Hamidah, atau momen pembukaan Pulau Penyengat yang kemudian dipilih oleh kita yang hidup pada masa kini sebagai fakta sejerah Hari Jadi Pulau Penyengat.

Maka, sebagai momentum bersejarah untuk kali pertama merayakan Hari Jadi bersempena Festival Pulau Penyengat, masing-masing dari kita mulai berpikir (atau merenung?) tentang hal-hal positif yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan tuah Pulau Indrasakti ini.

Karena jika tidak, kegemilangan lebih dari dua abad silam hanya akan tinggal sebagai kebanggaan semu masa lampau yang kemudian tidak berdaya guna untuk kehidupan generasi muda di masa depan. Kita sama-sama tidak mau itu terjadi. Sultan Mahmud sudah memulainya. Selanjutnya kita!

(fatih – aswandi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here