265 Ribu Anak Tak Imunisasi MR

0
341
WALIKOTA Tanjungpinang H Syahrul turut membantu petugas medis saat imunisasi MR di Tanjungpinang, belum lama ini. f-andri/tanjungpinang pos

Virus Campak-Rubella Mengancam Kepri

Virus Campak dan Rubella masih ancaman serius bagi kesehatan warga Kepri lantaran progres imunisasi MR yang dilakukan pemerintah rendah. Dari 608 ribu anak di Kepri, hanya 55 persen atau 335 ribu yang diimunisasi MR.

TANJUNGPINANG – HINGGA, Selasa (23/10), anak-anak yang berusia 9 bulan hingga 15 tahun baru 55 persen (335 ribu) yang imunisasi. Sekitar 265 ribu lagi tidak diimunisasi karena mendapat penolakan dari orangtua dan pihak sekolah.

Padahal, pemerintah sudah menargetkan bahwa Kepri harus bebas dari campak dan rubella tahun 2020 nanti setelah dicanangkannya imunisasi Measles Rubella (MR) secara nasional Agustus lalu.

Targetnya , 95 persen anak-anak di Kepri yang berusia 9 bulan hingga 15 tahun sudah terimunisasi vaksin MR ini hingga akhir September lalu.

Namun, karena persoalan kehalalan vaksin yang digunakan, banyak warga yang menolaknya. Kemudian, pemerintah memperpanjang imunisasi ini hingga akhir Oktober ini.

Diperkirakan, hingga akhir Oktober ini, capaian hanya 60 persen dari 608 ribu anak-anak di Kepri atau sekitar 360 ribu, sisanya sekitar 248 ribu belum divaksin.

 

Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Kepri, Tjetjep Yudiana mengatakan, setelah Oktober berakhir, tidak ada lagi perpanjangan imunisasi MR.

”Saat ini baru 55 persen. Yang jelas kita sudah berusaha. Petugas di lapangan sudah capek dan terus sosialisasi. Malah ada yang diusir. Semoga campak dan rubella tidak berkembang di Kepri. Kita tak menginginkannya,” ujar Tjetjep, kemarin.

Saat ini, banyak sekolah swasta yang menolak imunisasi ini. Bahkan kepala sekolahnya ikut menolak program nasional tersebut. Sekolah negeri lainnya, pihak sekolah mengizinkan, namun orangtua yang melarang anaknya divaksin.

Banyaknya orangtua yang menolak imunisasi MR ini karena vaksinnya dinyatakan mengandung enzim hewan haram. Sehingga tidak diperkenankan orangtua disuntik ke dalam tubuh anaknya sekalipun itu untuk menjaga tubuh anak dari penyakit campak dan rubella.

Fatwa Majelis Ulama Islam (MUI) juga menyatakan bahwa vaksin tersebut mengandung hewan yang diharamkan dalam Islam. Namun, karena sifatnya darurat dan belum ada vaksin penggantinya, maka imunisasi MR ini diperbolehkan.

Tjetjep mengatakan, fatwa MUI tersebut ternyata tidak menggugah hati masyarakat untuk mengizinkan anaknya diimunisasi. Ia mengatakan, vaksin yang sisa nanti akan dikirim ke pusat atau ke provinsi lain yang membutuhkan.

”Kita tidak menyimpannya. Masih ada daerah lain yang membutuhkan. Dan sampai saat ini, belum ada arahan perpanjangan waktu imunisasi,” tambahnya.

Tanjungpinang dan Anambas tergolong bagus karena sudah mencapai 70 persen. Artinya, tidak banyak lagi anak-anak di dua daerah ini yang belum diimunisasi. Batam yang saat ini banyak penolakan dari pihak sekolah.

Imunisasi nasional ini dimulai per 1 Agustus lalu untuk anak-anak sekolah. Dilanjutkan September untuk anak-anak berusia 9 bulan. Karena progresnya rendah, akhirnya pekan imunisasi MR diperpanjang hingga Oktober.

MUI telah mengeluarkan Fatwa No.33 tahun 2018 pada 21 Agustus 2018 lalu yang menyatakan bahwa para ulama bersepakat untuk membolehkan (mubah) penggunaan vaksin Measles Rubella (MR) yang merupakan produk dari Serum Institute of India (SII) untuk program imunisasi.

Keputusan ini didasarkan pada tiga hal, yakni kondisi darurat syar’iyyah, keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya menyatakan bahwa terdapat bahaya yang bisa timbul bila tidak diimunisasi, dan belum ditemukan adanya vaksin MR yang halal dan suci hingga saat ini.

Fatwa MUI memberi kejelasan bagi masyarakat, sehingga tidak ada keraguan lagi di masyarakat untuk bisa memanfaatkan vaksin MR dalam program imunisasi yang sedang dilakukan saat ini sebagai ikhtiar untuk menghindarkan buah hati dari risiko terinfeksi penyakit Campak dan Rubella yang bisa berdampak pada kecacatan dan kematian.

Bertepatan dengan keluarnya Fatwa MUI tersebut, Menteri Dalam Negeri RI, Tjahjo Kumolo juga telah menerbitkan surat dukungan pelaksanaan imunisasi MR fase II kepada seluruh Gubernur, Bupati dan Walikota di 28 Provinsi di Luar Pulau Jawa.

Di samping itu, Kementerian Kesehatan juga terus mendukung dan mendorong para akademisi, peneliti dan ilmuwan untuk terus mencari dan menggali teknologi kesehatan dengan tetap menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan.

Berdasarkan data yang dipublikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia.

Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah kasus Campak dan Rubella yang ada di Indonesia sangat banyak dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Adapun jumlah total kasus suspek Campak-Rubella yang dilaporkan antara tahun 2014 sampai Juli 2018 tercatat sebanyak 57.056 kasus (8.964 positif Campak dan 5.737 positif Rubella).

Tahun 2014 tercatat 12.943 kasus suspek Campak-Rubella (2.241 positif Campak dan 906 positif Rubella); Tahun 2015 tercatat 13.890 kasus suspek Campak-Rubella (1.194 positif Campak dan 1.474 positif Rubella); Tahun 2016 tercatat 12.730 kasus suspek Campak-Rubella (2.949 positif Campak dan 1.341 positif Rubella).

Tahun 2017 tercatat 15.104 kasus suspek Campak-Rubella (2.197 positf Campak dan 1.284 positif Rubella) dan sampai Juli 2018 tercatat 2.389 kasus suspek Campak-Rubella (383 positif Campak dan 732 positif Rubella).

Lebih dari tiga per empat dari total kasus yang dilaporkan, baik Campak (89%) maupun Rubella (77%) diderita oleh anak usia di bawah 15 tahun.

Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat mudah menular (ditularkan melalui batuk dan bersin). Gejala penyakit Campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk dan/atau pilek dan/atau konjungtivitis yang dapat berujung pada komplikasi berupa pneumonia, diare, meningitis dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Ketika seseorang terkena Campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum memiliki kekebalan terhadap Campak. Kekebalan terbentuk jika telah diimunisasi atau pernah terinfeksi virus campak sebelumnya.

Komplikasi dari campak yang dapat menyebabkan kematian adalah Pneumonia (radang Paru) dan ensefalitis (radang otak). Sekitar 1 dari 20 penderita Campak akan mengalami komplikasi radang paru dan 1 dari 1.000 penderita akan mengalami komplikasi radang otak.

Selain itu, komplikasi lain adalah infeksi telinga yang berujung tuli (1 dari 10 penderita), diare (1 dari 10 penderita) yang menyebabkan penderita butuh perawatan di RS.

Sementara itu, Rubella adalah penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan dengan gejala yang tidak spesifik (tidak jelas) dan juga mudah menular.

Hal yang menjadi perhatian bidang kesehatan adalah efek teratogenik apabila virus Rubella menginfeksi anak yang berada dekat dengan wanita hamil, dan menularkan virus tersebut terutama pada masa awal kehamilan (pembentukan janin).

Infeksi Rubella pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan permanen pada bayi yang dilahirkan atau dikenal dengan Congenital Rubella Syndrome (CRS) yang bisa berupa ketulian, gangguan penglihatan bahkan kebutaan, hingga kelainan jantung.

Data dari 12 rumah sakit yang menjadi sentinel pemantauan kasus CRS selama lima tahun terakhir sampai Juli 2018 telah menemukan 1.660 kasus suspek CRS.

Penyakit Campak atau Rubella bisa menyerang siapa saja baik lelaki maupun perempuan. Hingga saat ini, belum ada satupun pengobatan yang ditemukan yang dapat mematikan virus Rubella yang masuk ke dalam tubuh seseorang.

Imunisasi merupakan satu-satunya upaya yang dapat kita lakukan yang paling efektif sebagai langkah pencegahan.

Imunisasi Campak Bukan Hal Baru
Sejak tahun 1982, Indonesia sudah melaksanakan pemberian imunisasi campak secara rutin untuk anak usia 9 bulan.

Dalam kurun waktu tiga dasawarsa program imunisasi rutin campak ini berjalan, cakupan yang dicapai secara nasional sudah cukup tinggi namun tidak merata di seluruh wilayah sehingga menyisakan daerah kantong yang berpotensi terjadi kejadian luar biasa (misalnya: KLB Campak di Asmat di awal tahun 2018 lalu).

Di sisi lain, dengan mempertimbangkan situasi beban penyakit Rubella dan CRS di Indonesia, maka dilaksanakan introduksi (pengenalan) vaksin Rubella ke dalam program imunisasi rutin.

Vaksin Rubella dikemas dalam bentuk kombinasi dengan vaksin Campak menjadi vaksin Measles Rubella (MR) dan mulai digunakan pada tahun 2017 lalu di 6 provinsi (pulau Jawa), dan saat ini mulai digunakan di 28 provinsi lainnya (luar pulau Jawa).

Berdasarkan hasil kajian terhadap situasi di Indonesia oleh Kemenkes bersama para ahli dari WHO dan akademisi dari beberapa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat di Indonesia pada Oktober 2014 lalu, maka direkomendasikan agar dilakukan kampanye imunisasi MR dengan sasaran usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun.

Untuk dapat memutuskan mata rantai penularan maka diperlukan cakupan imunisasi minimal 95% di seluruh tingkat wilayah agar terbentuk herd immunity (kekebalan kelompok) seperti yang diharapkan.

Kerugian ekonomi yang ditimbulkan apabila seseorang terkena Campak tanpa komplikasi lebih kurang memakan biaya Rp2,7 juta rupiah per kasusnya.

Lain cerita jika seorang anak menderita Campak dengan komplikasi radang paru atau otak, biaya pengobatan minimal lebih kurang menghabiskan hampir Rp13 juta rupiah per kasus, di luar biaya hidup yang dibutuhkan saat penderita mendapatkan perawatan.

Sementara itu, pembiayaan minimal yang dibutuhkan untuk pengobatan seorang anak dengan CRS mencapai lebih dari Rp395 juta rupiah per orang untuk penanaman koklea di telinga, operasi jantung dan mata.

Namun setelah itu tentu tetap dibutuhkan pembiayaan untuk perawatan kecacatan seumur hidupnya.

Seorang ibu dari anak penderita CRS (inisial Yn), mengungkapkan biaya yang dikeluarkan untuk perawatan anaknya hingga berusia 8 tahun mencapai Rp619 juta, termasuk biaya untuk pemasangan implant koklear sebesar Rp370 juta, operasi katarak sebesar Rp22 juta, dan terapi bicara yang menghabiskan Rp74 juta.

Sementara ibu penderita CRS lainnya dengan (inisial GM) juga mencatat biaya bahwa biaya pemasangan alat bantu/penunjang anaknya mencapai Rp327 juta, biaya cek kesehatan sebesar Rp34 juta dan biaya rehabilitasi mencapai Rp2,6 juta setiap bulannya.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here