30 Persen Kematian Ibu Melahirkan Akibat Aborsi

0
223

Oleh: Fitri Martawati
Ibu Rumah Tangga

Menurut data SDKI 2008, rata-rata nasional Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan mencapai 228 per 100 ribu kelahiran hidup. Dari jumlah tersebut, kematian akibat aborsi tercatat mencapai 30 persen. Sementara itu, laporan 2013 dari Australian Consortium For In Country Indonesian Studies menunjukan hasil penelitian di 10 kota besar dan 6 kabupaten di Indonesia terjadi 43 persen aborsi per 100 kelahiran hidup. Aborsi tersebut dilakukan oleh perempuan di perkotaan sebesar 78 % dan perempuan di pedesaan sebesar 40%.

Dan pada saat yang bersamaan, negara kita juga sedang gencar-gencarnya menyerukan program keluarga berencana (KB) untuk mengurangi ledakan jumlah penduduk yang menurut berbagai lembaga survei selalu meningkat setiap tahun nya. Dengan jargon “2anak lebih baik” dalam upaya penyuluhan, pendidikan kesehatan hingga memudakan akses masyarakatnya untuk membatasi kehamilan hingga KB secara permanen.

Sayangnya akses kemudahan tersebut juga berlaku bagi siapa saja termasuk pasangan remaja yang secara kematangan  sexual sudah siap dan seakan ter “fasilitasi”. Pergaulan bebas hingga perzinahan dilakukan tanpa rasa khawatir akan dampak buruknya seperti kehamilan, dan jikapun terjadi kehamilan maka solusi fragmatis lain pun mudah diperoleh dengan bebasnya penjualan obat aborsi ditambah kurangnya kontrol negara akan hal tersebut. Yang juga di aamiini dan dibela oleh adanya dasar Hak Asasi Manusia (HAM).

Di lain sisi, kemudahan memperoleh solusi justru tidak di dapat bagi remaja yang memilih untuk menikah di usia dini bahkan dengan alasan agar tidak berzinah. Mereka dipersulit dan dibuly habis-habisan. HAM tidak berlaku bagi mereka.

Sadarkah bahwa anak usia remaja belum siap untuk mendapatkan kebebasan tersebut, mereka perlu kontrol sosial dari lingkungan terutama dari Seorang pemimpin bangsa dengan payung hukum yang sempurna untuk mengatur dan memberikan solusi yang sesuai fitrah manusia, menenagkan jiwa serta memuaskan akal bagi segala aspek kehidupan termasuk adab pergaulan antar remaja, politik, ekonomi serta kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kembalikan saja pada islam kaffah, dimana para pemimpin nya bahu membahu mengupayakan agar remajanya kelak menjadi generasi penerus Al Fatih yang mengguncang dunia, generasi yang bertanggungjawab, mampu berdaya saing dibidang akhlaq, keilmuan, inovasi, prestasi serta kreatifitas baik bagi dirinya sendiri, lingkungan maupun bagi negaranya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here