32 TKA Club Med Dideportasi

0
525
Hasfarizal Handra

DPMPTSP Bintan Panggil Pengusaha

Bintan – KANTOR Imigrasi Kelas II Tanjunguban akan mendeportasi 32 dari 41 Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di Club Med Hotel, Jumat (27/1) hari ini.

Sementara, pengusaha Club Med dipanggil oleh Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dan Tenaga Kerja (Naker) Bintan, Kamis (26/1) kemarin.

Hiba Riansyah, Humas Imigrasi Kelas II Tanjunguban menyampaikan, dari pemeriksaan yang sudah dilakukan, ada 32 TKA yang secara terang melanggar izin kerja di Indonesia.

Sementara itu 7 TKA yang sempat diperiksa pihak Imigrasi, ternyata memiliki izin kerja yang tergabung dalam keluarganya.

”Insya Allah kami deportasi, Jumat (27/1) ini. Rencana awal akan dilakukan deportasi melalui Pelabuhan Bandar Bintan Telani (BBT), Kamis (26/1). Namun karena sistem kami down, sehingga tak bisa dilakukan segera,” kata Hiba, Kamis kemarin.

Ia menyebutkan, pendeportasian tersebut dilakukan setelah TKA tersebut terbukti melanggar Pasal 75 UU Keimigrasian Nomor 6 Tahun 2011. Sehingga langkah hukum administratif dilakukan.

”Dari pengakuan pihak manajemen hotel mereka bukan tidak mengurus IMTA, melainkan sedang diurus dan belum selesai. Namun, kami pastinya tetap melihat fakta di lapangan, karena perpanjangan IMTA dapat diperpanjang sebelum masa berlakunya habis,” terangnya.

Hiba menambahkan, dengan diamankannya 41 TKA pada operasi Sandi Pura beberapa waktu lalu. Pihaknya akan tetap terus meningkatkan pengawan terhadap TKA yang ada di wilayah kerjanya.

”Tetap terus kami awasi, kalau melanggar lagi kami tindak,” tambahnya.

Kepala DPMPTSP dan Naker Bintan Hasfarizal Handra mengatakan, pihaknya sudah memanggil pengusaha Club Med Lagoi, Kamis (26/1) pagi kemarin.

Pihak pengusaha belum menjelaskan atau memberikan klarifikasi mengenai 41 TKA yang bekerja di Club Med itu. Pengusaha masih fokus tentang pemeriksaan dari Imigrasi. Setelah Imigrasi menyelesaikan pemeriksaan, pihak pengusaha akan memberikan klarifikasi.

Saat pemanggilan itu, lanjut Hasfarizal, pengusaha tidak mau menjelaskan, pelanggaran apa yang dilakukan TKA itu. Pengusaha justru menyatakan, IMTA para TKA itu sedang diproses. Termasuk keterangan izin tempat tinggal terbatas (KITAS).

”Tapi bagaimana pun, kita menduga para TKA itu salah, karena tidak punya IMTA. Karena, mereka sudah bekerja sejak November 2016 lalu,” tegas Hasfarizal Handra.

Meski demikian, tambah Hasfarizal, DPMPTSP dan Naker Bintan tetap menghargai, apa keinginan pengusaha. Setelah ada hasil pemeriksaan Imigrasi, pengusaha diminta kembali memberikan penjelasan kepada DPMPTSP dan Naker Bintan. (jendaras – YENDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here