35 Kasus Kecelakaan Pelayaran

0
639
BERLABUH: Kapal nelayan berlabuh di Kampung Bugis. Banyak nelayan tidak melaut karena cuaca buruk. f-suhardi/tanjungpinang pos

Selama Tahun 2017

TANJUNGPINANG – Kantor Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) atau Basarnas Kelas A Tanjungpinang mencatat sebanyak 35 kasus kecelakaan pelayaran yang ditangani selama 2017 lalu. Tidak hanya itu, BNPP Tanjungpinang juga menggelar operasi penyelamatan kejadian kondisi membahayakan jiwa manusia sebanyak 10 kasus. Kepala Kantor BNPP Tanjungpinang Budi Cahyadi mengatakan, total operasi yang mereka laksanakan sepanjang 2017 ada 45 kasus dengan jumlah korban 199 orang.

Budi merincikan untuk kasus kecelakaan pelayaran sebannyak 35 kasus dengan jumlah korban sebanyak 118 orang. Diantaranya orang meninggal dunia sebanyak 19 orang, 19 orang hilang, dan 71 orang selamat.

Sedangkan kejadian kondisi membahayakan jiwa manusia sebanyak 11 orang korban. Diantaranya 8 orang meninggal dunia, 2 orang hilang, dan 1 orang selamat. Dia juga menuturkan, contoh kasus kondisi korban membahayakan korban jiwa manusia seperti orang jatuh ke dalam sumur, hilang saat memancing, serta kasus lainnya.

”Total yang meninggal dunia sebanyak 27 orang, 20 orang hilang, dan 73 orang selamat,” katanya Selasa (2/1).

Dari total 45 kasus yang ditangani terjadi di seluruh wilayah kerja BNPP Tanjungpinang meliputi di Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Tanjungpinang, Kabupaten Tanjungbalai Karimun, dan Kabupaten Lingga.

Budi menyampaikan, untuk kasus kecelakaan penerbangan dan kasus bencana alam nihil. Menurut dia, untuk kejadian yang paling banyak terjadi kasus kecelakaan pelayaran di mana wilayah kerja BNPP Tanjungpinang lebih luas lautnya dibandingkan dengan daratan.

”Kasus tertinggi kasus pelayaran karena wilayah kerja kita didominasi lautan,” sebutnya.

Tidak hanya melakukan tugas mencari dan monolong orang kecelakaan pelayaran di Provinsi Kepri. SAR Tanjungpinang juga membantu pencarian dan pertolongan kasus kecelakaan pelayaran yang terjadi di wilayah perairan internasional perbatasan Indonesia dengan negera tetangga Singapura dan Malaysia. Seperti kasus kecelakaan pelayaran kapal tabrakan antara kapal perang Amerika USS John S Mccain (DDG) 56 dengan MV Alnic MC berbendera Liberia, beberapa waktu lalu.

Begitu juga dengan operasi pencarian dan pertolongan dua korban hilang Tan Soon Heng (25) dan Chan Chon Kuok (51) berkewarganegaraan Malaysia, saat kapal kayu yang ditumpanginya terbalik.

”Kita juga turut membantu kasus kecelakaan yang terjadi di perairan internasional,” tuturnya.

Dalam mengantisipasi meminimalisasi korban kecelakaan di laut, SAR Tanjungpinang berencana akan memberikan pelatihan dan pembinaan kepada masyarakat pesisir atau nelayan.

Sebab, selama ini masyarakat pesisir banyak membantu korban pada saat terjadi kecelakaan pelayaran di laut. Apalagi wilayah laut di Kepri kerap terjadi kasus kecelakaan pelayaran. Budi menambahkan, program pelatihan pembinaan masyarakat pesisir sangat penting dilaksanakan.

Menurut dia, selama ini nelayan sangat berperan dalam membantu korban kecelakaan pelayaran. Tidak jarang nelayan lebih dulu dari pada petugas SAR atau instansi lainnya dalam memberikan pertolongan terhadap korban kecelakaan di laut, khususnya daerah rawan terjadi kecelakaan pelayaran.

”Kita amati dan perhatikan yang menolong evakuasi korban kecelakaan di laut lebih banyak nelayan. Tahun ini program pelatihan akan kita laksanakan,” jelasnya.

Dia menjelaskan, rencana pelatihan dan pembinaan yang akan diberikan seperti cara-cara menolong korban di dalam air, Medical First Responder (MFR) untuk meminimalisir korban yang masih selamat.

Budi menyampaikan, tujuan pelatihan ini untuk memudahkan nelayan nantinya dalam memberikan pertolongan saat menemukan adanya korban di laut.”Kita ingin memberdayakan nelayan dalam memberikan pertolongan terhadap korban kecelakaan di laut. Di wilayah kita kecelakaan pelayaran paling banyak,” ujarnya (ray)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here