60 Persen Tour Wisata Dibatalkan

0
321
Buralimar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri

Dampak Tiket dan Bagasi Mahal

Naiknya harga tiket pesawat domestik dan bagasi berbayar diprediksi akan berdampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri. Salah satunya dari sektor pariwisata. Saat ini, sudah 60 persen paket wisata ke Kepri Januari-April, dibatalkan.

TANJUNGPINANG – ASOSIASI agent & travel di Kepri pun mengeluh lantaran paket wisata yang sudah mereka cari selama ini banyak yang membatalkan perjalanannya ke Kepri, khususnya Batam.

”Mengeluh semua agent and travel kita. Mereka sudah dapat paket hingga April nanti. Namun 60 persen membatalkannya karena naiknya harga tiket pesawat dan bagasi berbayar,” ujar Buralimar, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri kepada Tanjungpinang Pos via ponselnya, Minggu (27/1).

Sebagai agen and travel, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Meski berusaha meyakinkan calon wisatawan nusantara (Wisnus) yang akan berlibur ke Batam tersebut, namun rencana mereka tetap dibatalkan.

Buralimar mengatakan, pembatalan paket-paket wisata tersebut pertama sekali akan berdampak pada tingkat hunian hotel di Kepri. Selama ini, wisnus yang banyak menginap di hotel-hotel di Kepri. Apalagi wisnus lebih lama tinggal saat berkunjung ke suatu daerah.

Kemudian, pelanggan restoran juga akan berkurang, termasuk pendapatan angkutan darat baik itu taksi dan lainnya. Pengaruh lainnya pada belanja oleh-oleh atau suvenir khas Kepri.

”Otomatis, juga berdampak pada ekonomi Kepri khususnya Batam. Karena belanja wisnus akan berkurang di Batam. Pihak maskapai juga saya rasa akan mengalami penurunan pendapatan. Karena sudah 8 persen turun jumlah penumpang maskapai dan sudah ada beberapa penerbangan yang dibatalkan karena penumpang sepi,” ungkapnya lagi.

Setiap tahun, kata dia, jumlah wisnus yang datang ke Kepri jika dilihat dari segi pergerakan sekitar 3 juta jiwa. ”Kalau real, kita perkirakan bisa mencapai 5-7 juta jiwa,” tambahnya.

Saat pertemuan dengan pihak asosiasi industri pariwisata, kata Buralimar, banyak keluhan yang ditampungnya dan umumnya terkait dengan harga tiket pesawat dan bagasi berbayar tersebut.

Buralimar mengatakan, keluhan-keluhan ini akan disampaikan ke Menteri Pariwisata Arief Yahya. ”Agar lintas menteri yang membahasnya. Mudah-mudahan ada solusinya agar sektor wisata tidak terganggu,” harapnya.

Memang, kata dia, harga tiket yang mahal dan bagasi berbayar membuat calon penumpang berpikir dua kali naik pesawat. Kecuali bagi pegawai yang bertugas atau pengusaha yang memang harus bolak-balik naik pesawat.

Hal yang sama juga akan dialami daerah lain, tingkat kedatangan wisnus ke daerahnya akan turun lantaran jumlah penumpang dari Batam sudah turun.

Jika dilihat dari angka di atas, kedatangan wisman ke Kepri 3-7 juta setahun cukup banyak membantu perputaran uang dari belanja mereka. Karena rata-rata mereka tinggal 2-7 hari di Kepri.

Sebagian diantaranya menginap di hotel, namun ada juga yang menginap di rumah saudaranya. Yang jelas, mereka tetap membelanjakan uangnya di Kepri.

Jumlah penduduk Kepri sendiri sekitar 2 juta jiwa. Jumlah turis yang datang ke Kepri 2018 sekitar 2,5 juta jiwa dan jumlah wisnus sekitar 3-7 juta jiwa. Maka, jumlah turis dan wisnus yang datang ke Kepri 2-5 kali lipat dari penduduk Kepri sendiri.

Tahun ini, Badan Pengusahaan (BP) Batam menargetkan pertumbuhan ekonomi Kepri bisa 6-7 persen. Tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Kepri sekitar 2 persen lebih dan paling buruk sepanjang provinsi ini berdiri. Tahun 2018 naik menjadi 4 persen lebih.

Apabila sektor wisata Kepri terganggu, maka perlu kerja keras pemerintah dan stakeholder lainnya untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6-7 persen tahun 2019 ini.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here