60 Tahun, Bakar Tak Ingin Tinggalkan Gasing

0
1230
GASING: Bakar menggantung gasing yang dibuatnya untuk dijual, Rabu (7/6) kemarin.F-jendaras/TANJUNGPINANG POS

TELUKSEBONG – Gasing yang dibuat dari kayu, merupakan permainan tradisional yang sudah ratusan tahun melegenda di tanah Melayu ini. Hal itu pula yang menjadikan Bakar tak ingin meninggalkan gasing, selama 60 tahun lalu. Ia terus membuat gasing untuk dimainkan bagi generasi mutasi, secara turun-temurun.

Bakar (76), warga Desa Sebong Pereh, Kecamatan Teluk Sebong seperti tak menyadari ketika beberapa orang tamu menghampirinya, Rabu (7/6) pagi kemarin. Ia terus memotong, meraut kayu sambil membentuk kepala gasing dan ekor gasing yang runcing. Ya, hampir seperti itu lah kegiatan ayah delapan orang anak ini, sejak 60 tahun silam.

Baca Juga :  KPU Bintan Kekurangan Surat Suara, Empat Formulir C-1 Plano Rusak

Ia mengatakan, permainan gasing ini sudah ada di Bintan sejak lama. Bahkan saat dirinya masih berumur 7 tahun sudah bermain gasing. Tidak hanya bermain gasing, ia menjadi perajin dan penjual gasing hingga negara Singapura dan Malaysia.

Kini, Bakar sudah membuka warung untuk berdagang gasing, di Taman Wan Seri Beni, Sebong Pereh. Tampak ia selalu membuat gasing dari kayu jenis klungut dan lainnya, dengan menggunakan alat seadanya yang masih tradisional. Seperti parang, amplas, besi kaleng bekas, kulit ikan pari dan pernis. Tangan Bakar yang renta masih sangat telaten memotong bagian demi bagian kayu, yang akan dibuat gasing.

Baca Juga :  OPD Saling Tolak Bangun Batu Miring di Lokasi Bauksit

”Kalau kini buat bisa 2 hingga 4 buah gasing per hari. Dijual antara Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu, tergantung ukurannya,” sebutnya. Tidak hanya warga sekitar, turis asing yang melintas juga ada yang membeli gasing buatannya. Ia ingin gasing tetap lestari di bumi Pulau Bintan. (aan)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here