68 Warga Diserang DBD

0
55
Petugas kesehatan sedang melakukan fogging untuk mematikan atau mengusir nyamuk penyebab Deman Berdarah Dengue (DBD). f-istimewa/Humas Dinkes tanjungpinang

Demam Berdarah Dengue (DBD) penyakit yang rentan menyerang masyarakat pesisir dan perkotaan di Tanjungpinang.

TANJUNGPINANG – Dari data pihak Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang, memang dari tahun ke tahun jumlah masyarakat yang terserang terus berkurang. Tahun ini sudah 68 warga Diserang DBD. Masyarakat harus tetap waspada walau jumlahnya terus berkurang. Minimal harus bisa menjadi Juru Pemantau Jentik (Jumantik) untuk rumahnya sendiri. Tahun ini, jumlah kasus DBD naik turun. Misalnya, Januari ditemukan 14 kasus, Februari 17 kasus, Maret 4 kasus, April 3 kasus, Mei 16 kasus, Juni 14 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang, Rustam mengatakan, kini curah hujan tidak pasti. Kadang hujan, kadang panas. Ini membuat jentik nyamuk DBD cepat berkembang biak. Di Tanjungpinang, khususnya di Kecamatan Tanjungpinang Timur dan Kecamatan Bestari ini yang paling banyak ditemukan kasus DBD.

”Masalah DBD, harus tetap menjadi kewaspadaan kita bersama. Minimal masyarakat harus menjadi Jumantik di rumahnya sendiri-sendiri,” kata Rustam, kemarin.

Selama ini, kata dia juru pemantau jentik atau Jumantik adalah kader bentukan puskesmas. Di Tanjungpinang memang masih minim. Namun, saat ini satu rumah harus ada satu jumantik. Sehingga minimal harus memperhatikan titik-titik genangan air di sekitar rumah. ”Apalagi warga kita menampung air hujan baiknya tempat untuk menampung air hujan tersebut harus ditutup rapat-rapat agar jentik nyamuk tidak berkembang,” ujarnya. Selain itu yang harus diperhatikan adalah air yang berada di dispenser, air yang ada di belakang kulkas. Sebab catatan dinkes, demam berdarah, karena nyamuk berkembang dispenser dan belakang kulkas. Karena, DBD berkembang justru di tempat bersih bukan tempat kotor.

Kemudian, paskalebaran bisa saja jentik berkembang di tempat bak mandi terutama rumah yang ditinggal penghuninya mudik kemarin. ”Begitu juga di sekolah-sekolah, tetap kita waspadai setelah libur sekolah ini takut genangan air di halaman sekolah jadi tempat jentik nyamuk berkembang,” bebernya.

Masih kata Rustam, kasus DBD masih sering karena salah satu faktornya, masyarakat masih belum peduli terhadap lingkungannya. Kemudian, beberapa daerah yang penduduknya padat juga masih sering ditemukan genangan air di ban, kaleng-kaleng di sekitar perkarangan rumah tidak dibersihkan.

Namun, secara umum masyarakat sudah mulai sadar pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, supaya terhindar dari penyakit. Kata dia, setelah lebaran kemarin, penyakit yang diderita masyarakat dan sudah berobat di rumah sakit dan puskesmas adalah penyakit Hipertensi dan Ispa.

Sambung dia, hipertensi bisa saja disebabkan dari faktor makanan yang di konsumsi selama lebaran. Sedangkan Ispa disebabkan karena perubahan musim, kadang panas dan kadang hujan. ”Ayo berobat sebelum sakit parah,” harapnya. (Abas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here