90 % Warga Tak Setuju Listrik Naik

0
770
Pembangkit Tanjungkasam: Pembangkit Tanjungkasam, Batam ini menjadi salah satu pembangkit penyuplai daya ke PLN untuk kebutuhan listrik di Pulau Batam dan Pulau Bintan.f-dokumen/tanjungpinang pos

Mengaku Rugi Rp 16 Miliar Sebulan, PLN Batam Minta Kenaikan TDL

Bright PLN Batam yang merupakan anak perusahaan PT PLN Persero kembali mengusulkan kenaikan tarif listrik. Namun, 90 persen warga Kecamatan Sagulung Batam menolaknya.

BATAM – DAERAH Sagulung merupakan kecamatan terpadat kedua di Batam setelah Kecamatan Batamcenter dengan jumlah penduduk sekitar 161 hingga 170 ribu jiwa. Daerah ini sedang berkembang dan kebanyakan kelas menengah ke bawah. Sehingga, sangat wajar keberatan listrik naik di tengah banyaknya warga yang pengangguran saat ini.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepri Amjon, menyampaikan, terkait rencana kenaikan tarif listrik PLN ini, sudah dilakukan sosialisasi. ”Kalau sosialisasi yang sudah dilakukan 50-50 (fifty-fifty) masyarakat menerima dan tidak menerima. Hanya saja, akademisi menyetujui dan mereka paham. Kalau ormas ada yang setuju ada yang tidak. Tapi kalau masyarakat Sagulung masih 90 persen tidak setuju,” ujar dia, kemarin. ditunggu Dinas Pertambangan dan ESDM Pemprov Kepri untuk dilaporkan ke Gubernur Kepri dan Wali Kota Batam.

Baca Juga :  Nabrak Toyota Rush, Pengendara Suzuki Tewas

Ia mengatakan, dalam hal ini PLN Batam dan Pemprov tidak mengancam masyarakat.
Dijelaskannya, saat ini Bright PLN Batam sedang mengalami kondisi sulit. Menurut Amjon, berdasarkan laporan yang dia terima, setiap bulan kerugian yang dialami Bright PLN Batam sekitar Rp 16 miliar. ”PLN saat ini mengalami kerugian Rp 16 miliar per bulan. Tapi kita belum berani menaikkan tarifnya. Karena untuk menaikkan itu harus mengubah juknas-juknis dulu. Karena juknis kita kemarin, hanya mendukung kenaikan 12 persen,” terang Amjon, saat ditemui di Dompak.

Walaupun sempat polemik karena Pemprov mendukung kenaikan tarif PLN tersebut, hal itu belum menutup problem yang saat ini tengah menjerat Bright PLN Batam.  ”Kenaikan 30 persen pertama waktu itu, PLN balance. Artinya mereka tidak rugi dan juga tidak untung. Itu kita sudah hitung sematang-matangnya. Kemudian naik 15 persen berikutnya, itu baru keuntungan mereka. Nah, keuntungan inilah yang kita gunakan untuk menerangi pulau-pulau terluar. Nyatanya oleh masyarakat Batam dianulir. Mereka minta 15 persen saja dulu,” beber Amjon ”15 persen tetap rugi. Artinya PLN bertahan dua bulan saja. Sedangkan bulan ketiga PLN sudah masuk rugi. Saat ini sudah masuk bulan keempat PLN Batam merugi,” timpal Amjon.

Baca Juga :  Menteri Susi Bangun 5.000 Rumah di Natuna

Pada perinsipnya, sah-sah saja PLN mengusulkan rencana kenaikan tarif baru saat ini. Hanya saja Dinas Pertambangan dan ESDM Pemprov tak bisa langsung meresponnya untuk menyetujui kenaikan. Untuk menyetujui kenaikan itu, Amjon berharap, PLN gencarkan sosialisasi kepada masyarakat secara luas, supaya kemudian hari para pelanggan ini tidak kaget. ”Melihat kerugian PLN saat ini, mereka tentu sudah itung-itung, tidak sembarangan. Ada tim auditnya, tidak boleh macam-macam,” ujar Amjon lagi

Pemprov tidak merta-merta menyetujuinya. ”Kita ingin itu disosialisasikan dulu, audit dulu, kalau hasil audit benar, tergantung pimpinan daerah. Kalau mereka setuju kenaikan, saya siap buat juklak juknisnya. Kalau tidak, tak berani saya,” bebernya. Sebelumnya, Direktur Bisnis dan Komersial Bright PLN Batam, Khusnul Mubien juga mengakui bahwa kondisi keuangan PLN sedang tidak sehat. Mereka merugi. ”Kami merugi saat ini dan kemampuan sangat terbatas untuk beroperasi. Pemadaman bergilir itu jadi alternatif. Tidak ada pilihan buat kami. Posisi kami sangat dilematis. Hanya penyesuaian tarif yang bisa menyelematkan,” terangnya.

Baca Juga :  Pemprov Kepri Tak Serius Tangani Krisis Air

Khusnus mengakui, walau posisi PLN Batam dilematis, mereka harus menyelamatkan listrik. Mereka, ingin berjalan dan tidak melakukan pengurangan daya. Pengurangan daya, akan berdampak pada meningkatnya beban masyarakat. Pengeluaran masyarakat meningkat untuk membeli alat penerangan atau genset.(SUHARDI-MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here