Kalau Lalu Lintas Pangan Pun Dipersulit, Cabut Saja Status FTZ

0
744
Tino Rila Sebayang

BINTAN – Masih menjadi masalah mengenai lalu lintas barang di wilayah Free Trade Zone (FTZ) merupakan hal yang belum terpecahkan hingga saat ini. Peraturan dan penegakannya yang tidak sejalan juga membingungkan banyak pelaku usaha.

Tino Rila Sebayang, Pengamat Ekonomi Politik Internasional Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fisip Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, yang juga merupakan warga Bintan mengungkapkan hal sama. Menurutnya, dampak dari FTZ belum memberikan kontribusi yang jelas bagi masyarakat Bintan.

Ia menjelaskan, landasan hukum tentang Kawasan Bebas (FTZ) terus mengalami revisi. Evaluasi terakhir adalah tahun 2017, dengan dikeluarkannya PMK No.120/PMK.04/2017. Hal ini untuk mengatur beberapa poin atas perubahan dari peraturan sebelumnya, yakni PMK No.47/PMK.04/2012.

Dijelaskannya, tujuan dari sebuah kebijakan tentunya dibuat untuk kepentingan masyarakat. Namun, tak sedikit pelaku usaha mengeluhkan aturan yang diterapkan petugas lapangan. Mereka yang merupakan penggerak ekonomi, justru menjadi “target buruan” aparat hukum.

Baca Juga :  Pilkada Ditunda, KPU Bintan Tunggu Kebijakan Pusat

Seperti misalnya masalah kebutuhan pangan di Bintan yang masih bergantung dengan daerah luar. Tentunya pelaku usaha akan mendatangkan barang dari daerah terdekat dengan harga yang murah serta risiko kerusakan dan kerugian yang minim. Jika hal tersebut dianggap sebagai sebuah kejahatan besar, maka itu menjadi sesuatu yang aneh.

Saat ini, permasalahan krisis bahan pangan kerap terjadi dan di Bintan salah satunya. Pelaku usaha kerap mengeluh menipisnya ketersediaan bahan pangan diakibatkan oleh alur distribusi yang terganggu. Salah satunya adalah banyaknya penangkapan yang dilakukan oleh pihak Bea Cukai terhadap kapal-kapal yang membawa barang kebutuhan pokok.

Mendengar hal itu, seolah regulasi tentang FTZ di Bintan yang telah diperbaharui pun berpotensi menghambat kegiatan perdagangan, khususnya untuk barang-barang kebutuhan pokok. Padahal wilayah Bintan bahkan Kepri yang merupakan kepulauan nyaris tidak memproduksi bahan pangan pokok.

Baca Juga :  RT/RW Harus Cepat Tuntaskan Prona

“FTZ yang dilandasi oleh prinsip non-tarif barriers (tanpa hambatan tarif) – harusnya memberi dampak positif bagi Masyarakat. Namun justru menimbulkan hambatan-hambatan kecil di kalangan pedagang Bintan,” ucapnya.

Ia mengatakan, seperti barang yang dibawa dari Batam yang merupakan sesama kawasan bebas pun seolah tidak tersentuh oleh prinsip dan tujuan FTZ itu sendiri. Ini membuat Batam dan Bintan bagaikan 2 negara yang berbeda.

“Hal yang dilematis memang, di mana FTZ sangat dibutuhkan di kawasan industri demi menambah geliat perdagangan, namun di sisi lain justru tak dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar. Bahkan, regulasi FTZ seolah hanya diperuntukkan bagi pebisnis kelas kakap dengan kapasitas industri yang besar pula. Padahal, perdagangan kebutuhan pokok pangan antar pulau, misalnya dari Batam ke Bintan adalah sektor yang paling berdampak langsung bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Tidak hanya itu saja, Batam pastinya merupakan sumbu kebutuhan pokok untuk seluruh wilayah di Kepri,” jelasnya.

Baca Juga :  Setelah Bintan, Golkar Bantu APD ke RSUD RAT Kepri

Disebutkannya, Apapun strategi dan tujuan dari kebijakan FTZ di Bintan, fokus pentingnya adalah kebijakan itu harus berdampak positif bagi masyarakat. Bukan justru mempersulit para pelaku usaha untuk melakukan pemindahan barang dari Batam ke Bintan. Apalagi jelang Natal dan Tahun Baru, di mana permintaan terhadap bahan-bahan kebutuhan pokok akan meningkat tajam.

“Kadang kami berpikir harusnya FTZ dicabut saja dan terapkan aturan biasa tanpa FTZ. Kalau sudah begitu jelas kan hitungan pajaknya. Seharusnya juga sasaran dari penegak hukum adalah penyelundupan yang merupakan kejahatan besar seperti Mikol ilegal, rokok ilegal, barang ballpress dan sebagainya, karena itu dampak kerugian negaranya besar dan manfaat di masyarakat juga minim,” tegasnya. (aan)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here