Ahok Jadi Icon Baru

0
396
Dian Fadillah, S.Sos

Dian Fadillah, S.Sos
Pengurus Gema Kota Tanjungpinang

Elektabilitas dan Popularitas merupakan istilah yang sampai saat ini masih dipergunakan dan lebih tinggi persentasenya pada saat sepereti sekarang ini. Banyak hal yang masih sulit dicerna rakyat biasa terutama kata kata intelektual yang setinggi langit.

Kalau masyarakat tidak tahu apa yang dikatakan, apa yang dibicarakan dan apa yang menjadi tujuan sebagai suatu popularitas. Popularitas dengan seringnya tampil di depan publik atau untuk meningkatkan elektabilitas. Dalam masyarakat kita majemuk bahwa seorang yang memiliki popularitas dianggap mempunyai elektabilitas yang tinggi.

Sebaliknya, seorang yang mempunyai elektabilitas tinggi adalah orang yang populer. Penentu suatu hasil yang maksimal bukanlah suatu pilihan. Kita mengejar popularitas tapi juga tidak boleh mengabaikan elektabilitas.

Ahok sebagai Gubernur DKI dan akan mencalonkan lagi di pada tahun ini merupakan objek Hot News yang dijadikan ikon baru sepanjang tahun lalu dan di tahun ini. Orang yang memiliki elektabilitas tinggi seperti itu adalah orang yang dikenal baik secara meluas di tengah masyarakat.

Ada orang baik, yang memiliki kinerja tinggi dalam bidang yang ada hubungannya dengan jabatan publik yang ingin dicapai, tapi karena tidak ada yang memperkenalkannya akan menjadi tidak elektabel. Sebaliknya, orang yang berprestasi tinggi dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi mempunyai elektabilitas tinggi karena ada yang mempopulerkannya secara tepat.

Elektabilitas sebagai tingkat keterpilihan yang disesuaikan dengan kriteria pilihan bisa diterapkan kepada barang, jasa maupun orang, badan atau partai yang sering dibicarakan menjelang suatu pemilihan.

Elektabilitas sebuah sebuah realita partai politik yang mempunyai tingkat keterpilihan partai politik di publik. Elektabilitas partai tinggi berarti partai tersebut memiliki daya pilih yang tinggi Untuk meningkatkan elektabilitas maka objek elektabilitas harus memenuhi kriteria keterpilihan dan juga populer.

Sedangkan popularitas adalah tingkat keterkenalan di mata public. Meskipun populer belum tentu layak dipilih. Sebaliknya meskipun punya elektabilitas sehingga layak dipilih tapi karena tidak diketahui public, maka rakyat tidak memilih. Untuk meningkatkan elektabilitas maka sangat tergantung pada teknik pendekatan ke masyarakatan melalui aktivitas yang diklakukan.

Dalam masyarakat yang masih belum berkembang, kecocokan profesi tidak menjadi persoalan. Yang perlu diingat, tidak semua kata, kalimat dan pembicaraan kita obral kemana mana untuk meningkatkan elektabilitas. Ada pembicaraan yang menyentuh yang tidak semua menyentuh kepentingan rakyat.

Sementara itu ada kampanye yang berkedok sebagai survei, dengan tujuan untuk mempengaruhi orang yang sulit membuat keputusan dan sekaligus mematahkan semangat lawan. Bagaimana sobat setelah membaca perihal popularitas dan elektabilitas? Apakah penentu suatu pilihan dalam pemilu, pilkada atau pilpres itu sekedar berdasarkan popularitas, elektabiliatas, atau keduanya?

Coba kita lihat pemilihan produk. Jika ada beberap pilihan produk yang sama, maka apa dasar kita untuk memilih produk yang terbaik? Di antara beberapa produk yang dipasarkan maka kita akan memperoleh satu dua produk unggulan yang memiliki tingkat keterpilihan (elektabilitas) tinggi dengan tetap melihat suatu ke popularitasan produk.

Semua produk sebenarnya memiliki tingkat kepopuleran. Elektabilitas dikaitkan dengan sosok yang akan dipilih atau nama partai peserta pemilu. Tidak pernah ada elektabilitas itu dikaitkan dengan produk sepeda motor, padahal pada prakteknya elektabilitas produk sepeda motor itu yang menentukan dipilih atau tidaknya oleh pembeli.

Bagaimana dengan bila dikaitkan dengan Pemilu, Pilkada atau Pilpres di Indoensia, apakah penentu pilihannya itu popularitas atau elektabilitas? Menjelang pemilihan umum (pemilu) yang makin dekat, partai-partai politik dan tokoh-tokoh yang berminat untuk maju dalam pemilu itu, sudah mulai bersiap-siap.

Coba lihat di media massa terutama Alasannya, istilah-istilah yang dipergunakan banyak yang masih sulit dicerna rakyat biasa. Kalau rakyat tidak tahu apa yang dikatakan, untuk apa ada kampanye? Pertanyaan yang perlu kita kemukakan, apa yang menjadi tujuan dari kampanye itu? Apakah sekedar untuk popularitas dengan sering tampil, atau untuk meningkatkan elektabilitas? Istilah popularitas dan elektabilitas dalam masyarakat memang sering disamaartikan. Padahal keduanya mempunyai makna dan konotasi yang berbeda, meskipun keduanya mempunyai kedekatan dan korelasi yang besar.

Dalam masyarakat, sering diartikan, orang yang populer dianggap mempunyai elektabilitas yang tinggi. Sebaliknya, seorang yang mempunyai elektabilitas tinggi adalah orang yang populer. Popularitas dan elektabilitas tidak selalu berjalan seiring. Ada orang baik, yang memiliki kinerja tinggi dalam bidang yang ada hubungannya dengan jabatan publik yang ingin dicapai, tapi karena tidak ada yang memperkenalkan menjadi tidak elektabel.

Sebaliknya, orang yang berprestasi tinggi dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi mempunyai elektabilitas tinggi karena ada yang mempopulerkannya secara tepat.

Keputusan yang telah menyebabkan beberapa pihak kecewa karena ahok dinilai sebagai langkah mundur di bidang “pembangunan” demokrasi, sehingga masih dicarikan cara untuk menggagalkan keputusan itu melalui uji materi atau hak angket oleh DPR tentunya bukanlah suatu perkara yang mudah.

Tentunya prosesdemi proses akan berjalan secara lamban apalgi pemilihan serentak itu sudah dilakukan pada 15 Februari 2017 ini. Bagi sebagian pihak yang lain, Pemilukada tidak langsung atau langsung dinilai sama saja. Tetapi satu hal prinsip yang harus digarisbawahi apakah hasil yang dipilih itu akan dapat menyenangkan rakyat secara keseluruhan ataukah tidak ? Coba kita renungi sejenak apakah tanggungjawab kita pada NKRI ini untuk kita jadikan kenang kenangan anak cucu kita nanti.

Hanya gara gara seseorang kita harus melupakan kewajibnan dan haklain sebagai masyarakt luas. Kita meyakini bahwa Apabila salah satu pintu kebahagiaan tertutup, yg lain akan terbuka tapi selalunya kita akan memandang pintu yg telah tertutup itu terlalu lama hinggakan kita tidak nampak pintu lain yg telah pun terbuka untuk kita. Anda, saya dan kiuta semua punya niat baik untuk memajukan Negara ini melebihi apa yang dirasa untuk memberikan kehidupan lebih baik dan menuju standar yang lebih tinggi.

Berbagai figure mulai bermunculan atau sengaja dimunculkan melalui cara cara tertentu serta diabu domba tanpa peduli akan menghasilkan kebukrukan apapun akan tetapi ndibali semua itu kita harus prihatin ancaman besar dalam bentuk perperanagan saudara diantara kita akan tidak dapat dibentdung sehingga itulah yang ditakutkan oleh The Founding Father kita Soekarni-Hatta sehingga Pemerintah sebagai moratorium yang merupakan otorisasi legal untuk menunda suatu kewajiban tertentu selama batas waktu yang ditentukan bahwa moratorium adalah keputusan berdaulat dari sebuah pemerintahan sehingga dapat mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki terhadap kesejahteraan rakyatnya.

Menurut Bung Karno bahwa ”Memproklamasikan Negara adalah gampang,tetapi menyusun Negara, mempertahankan Negara, memiliki Negara buat selama-lamanya adalah Sukar” (Bung Karno dalam Kata Mutiara 69). ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here