Ahui Hanya Divonis Denda Rp150 Juta

0
521
AHUI usai mengikuti sidang vonis di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Senin (15/1) malam. Hanya divonis denda Rp150 juta. f-raymon/tanjungpinang os

TANJUNGPINANG – Setelah dituntut rendah oleh Jaksa, terdakwa pengoplos beras murah malah divonis lebih rendah lagi oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang pada Senin (16/1). Waktu sidangnyapun di luar dugaan. Kalau biasanya sidang berlangsung siang hingga sore hari, namun perkara pengusaha ternama yang tertangkap mengoplos beras ini disidang pada malam hari sekitar pukul 19.00.

Bos Minimarket Pinang Lestari Tjeng Hui alias Ahui ini divonis hukuman denda Rp 150 juta oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Tanjungpinang.

Saat tuntutan, sudah banyak warga yang mempertanyakan “keganjilan” dengan tuntutan tersebut.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Zaldi Akri yang didampingi Jaksa Ricky Triyanto menuntut Direktur utama PT Pinang Lestari ini dengan 1 bulan penjara atau denda sebesar Rp 200 juta.

Pada sidang vonis kemarin, putusan ini dibacakan mejelis hakim Santonius Tambunan yang didampingi Monalisa Siagian dan Acep Sopian Sauri.

Dalam putusannya, majelis hakim menyatakan, pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau memperdagangkan barang dan jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dalam ketentuan perundang-undangan, sebagaimana melanggar pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 ayat 1 UU RI nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

”Menjatuhi hukuman denda sebanyak Rp 150 juta apabila tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan penjara,” kata Santonius. Selama ini Ahui hanya tanahan rumah.

Sementara itu, barang bukti berupa beras 577 karung merek Bulog dengan berat 50 Kg, 169 karung Roda Emas seberat 50 Kg, Beras Kita 58 karung dengan berat 50 Kg dan satu unit truk merk Dyna dikembalikan kepada terdakwa.

”Karena di dalam persidangan beras-beras tersebut dibeli secara legal, artinya dibeli secara sah, dan beras tersebut masih tersegel sehingga dapat dipastikan bahwa itu bukan beras oplosan sehingga dikembalikan kepada terdakwa,” sebutnya.

Sedangkan untuk barang bukti beras, bertuliskan merk Bulog Premium 5 Kg dalam kemasan yang belum dipres ada 30 karung, 873 yang sudah dikemas dan dipres dengan ukuran 5 Kg, 11 bungkus yang didapat dari Swalayan Pinang Lestari dan 9 karung ditemukan di gudang dirampas untuk negara, karena barang bukti itu masih memiliki nilai ekonomis.

”Seluruh alat-alat yang digunakan untuk mengoplos beras dimusnahkan,” jelasnya. Santonius menyebutkan, awal niat dari terdakwa melakukan pengoplosan beras dikarenakan tingginya permintaan masyarakat terhadap beras bulog dengan kemasan 5 Kg. Dikarenakan Bulog tidak lagi mengeluarkan produk beras dengan kemasan 5 kg tetapi 50 kg maka timbul niat terdakwa melakukan pengoplosan beras.

”Sebagai mana diketahui dalam keterangan ahli, beras yang dioplos ada tiga jenis yang berkualitas premium dan medium sehingga hasinya menjadi baik,” tuturnya.

Menurutnya, untuk keuntungan yang didapatkan dalam per 5 kg terdakwa mendapatkan Rp 3 ribu. Dalam waktu pelaksaanan terdakwa sudah melakukan sekitar tiga bulan sekali. ”Dalam tiga bulan, tidak setiap hari melakukan pengoplosan beras namun sekali melakukan pencapuran menggunakan partai besar,” sebutnya.

Santonius menjelaskan, alasan majelis hakim menjatuhkan hukuman denda Rp 150 juta dikarenkan terdakwa merupakan pelaku usaha dan didalam undang-undang konsumen seorang pelaku melanggar dijatuhi pidana denda atau pidanan penjara.

”Jika dibandingkan denda terlalu ringan, majelis hakim menimbang bahwa pelaku usaha bisa saja bukan terdakwa bisa jadi pelaku usaha yang mengengah kebawah sehingga ini merupakan efek jera untuk terdakwa dan menjadi contoh bagi masyarakat untuk tidak meniru perbuatan yang sama,” jelasnya. (ray)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here