Air Limbah dan Peluang Pemanfaatannya

0
660
Tri Apriadi

Oleh: Tri Apriadi, S.Pi, M.Si.
Dosen jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, FIKP UMRAH Tanjungpinang

Ketersediaan air bersih dan sanitasi menjadi target keenam dari 17 target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SDGs) yang dicanangkan oleh PBB hingga tahun 2030. Ruang lingkup pada isu ini tidak hanya difokuskan pada air minum, sanitasi dan kebersihan, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan sumberdaya air di dunia.

Konferensi Air PBB tahun 2015 di Zaragoza-Spanyol telah menghasilkan enam targetan penting guna menjamin ketersediaan serta pengelolaan air dan sanitasi yang berkelanjutan. Selain pemecahan permasalahan terkait pemenuhan kebutuhan air minum, sanitasi, serta upaya menanggulangi penderitaan manusia akibat kelangkaan air, targetan utama yang akan dicapai adalah peningkatan kualitas air serta perlindungan dan restorasi sumberdaya air berbasis ekosistem.

Upaya peningkatan kualitas air yang telah dirumuskan tersebut dilakukan melalui pengurangan polusi, pemusnahan dan meminimalisir pelepasan bahan kimia berbahaya, mengurangi separuh proporsi air limbah yang tidak diolah, serta meningkatkan daur ulang dan penggunaan kembali air limbah secara aman.

Perhatian khusus dunia terhadap permasalahan air limbah ini menjadi hal yang penting untuk diselesaikan. Menurut data yang berhasil dihimpun oleh Departemen Ekonomi dan Sosial PBB (UNDESA) pada tahun 2016, lebih dari 80% air limbah yang dihasilkan dari aktivitas manusia dibuang ke sungai atau laut tanpa mengalami pengolahan. Hal ini menjadi salah satu penyebab utama pencemaran perairan laut.

Pertambahan jumlah penduduk pada beberapa dekade terakhir, sejalan dengan peningkatan industrialisasi serta aktivitas manusia, mengakibatkan bertambahnya limbah yang masuk ke lingkungan. UNDESA pada tahun 2015 melaporkan bahwa sebanyak 2,4 juta miliar penduduk di seluruh dunia belum menggunakan fasilitas sanitasi yang baik.

Menurut Badan Pusat Statistik (2014), pada tahun 2013 terdapat 14,84 % penduduk Indonesia yang tidak mempunyai fasilitas tempat buang air besar. Kondisi ini sangat umum kita jumpai terutama untuk masyarakat yang menempati rumah panggung di pesisir atau bantaran sungai.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kesehatan, dan Badan Lingkungan Hidup di setiap daerah telah berupaya meminimalisir dan mengantisipasi pencemaran yang disebabkan oleh air limbah. Berbagai peraturan telah disusun untuk mencegah terjadinya pencemaran perairan.

Misalnya saja sebagai upaya pencegahan pencemaran dan kontaminasi tinja dapat dilakukan melalui pembuatan sarana sanitasi yang sesuai standar seperti yang tertuang Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 3 Tahun 2014. Penggunaan tangki septik merupakan hal yang penting untuk menjaga agar perairan tidak tercemar oleh bakteri coliform patogen seperti Eschericia coli yang dapat mengakibatkan diare serius pada bayi (Sembel, 2015).

Beberapa peraturan lain misalnya Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Limbah Cair Domestik, Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran, dan berbagai peraturan terkait air limbah lainnya.
Air Limbah sebagai Sumberdaya

Selama ini jika mendengar istilah air limbah, maka hal yang pertama kali dipikirkan oleh sebagai besar masyarakat adalah dampak negatif atau sesuatu yang tidak bermanfaat lagi. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam air limbah terdapat beragam mikroorganisme (bakteri, jamur, protozoa, serta virus) yang dapat menjadi vektor berbagai macam penyakit bagi manusia (waterborne diseases).

Akan tetapi, perlu disadari bahwa air limbah merupakan suatu sumberdaya terbarukan. Pengelolaan air limbah yang aman merupakan salah satu bentuk investasi bagi kesehatan manusia dan ekosistem. Secara tidak langsung, air limbah dapat dianggap sebagai salah satu sumberdaya pada rantai perekonomian masyarakat.

Air limbah dengan kandungan bahan organik yang tinggi memiliki ketersediaan unsur hara yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini yang menjadikan air limbah sebagai sumberdaya yang bernilai produktif dan dapat dipergunakan untuk kegiatan lainnya (FAO, 2017).

Hingga saat ini baru sedikit data tersedia tentang berapa banyak air limbah perkotaan yang berpotensi atau benar-benar digunakan untuk tujuan produktif. Menurut International Water Management Institute (2014), jutaan petani di berbagai belahan dunia mulai memanfaatkan air buangan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan air di lahan pertanian mereka, misalnya sistem irigasi menggunakan air limbah di Ghana.

Konsep ekonomi biru (blue economic concept) yang digagas Pemerintah Republik Indonesia dalam Forum KTT Rio+20 di Brasil pada Juni 2012 adalah upaya untuk memanfatkan sumberdaya alam dengan pencapaian hasil yang maksimal dan cemaran yang sekecil mungkin. Hal ini dapat dijadikan dasar dalam optimalisasi kegiatan lainnya yang membutuhkan air limbah terolah.

Konsep yang memiliki peluang dikembangkan ini merupakan pengembangan dari konsep biotransformasi dan konsep aktivitas tanpa limbah (zero waste system). Penerapan hal tersebut dapat diawali dengan pembuatan penampungan limbah pemukiman secara massal, untuk selanjutnya air yang terolah dapat dimanfaatkan dengan fokus pemanfaatan kembali nutrien oleh tanaman (aquaponic system) atau kegiatan lainnya. Semoga konsep ini bisa diadopsi dan diterapkan dalam mengatasi limbah dari kegiatan masyarakat, dalam hal ini salah satunya adalah pemukiman masyarakat pesisir. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here