Air Sumur Warga Mulai Kering

0
694
Inilah salah satu sumur warga, airnya mulai mengusut dan bakal kering.f-adly tanjungpinang pos

SWRO Belum Juga Dioperasikan

Air sumur milik warga di sejumlah kawasan di Tanjungpinang, ibu kota
Provinsi Kepulauan Riau, mulai kering.

TANJUNGPINANG – Bahkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tanjungpinang, kalau hujan baru turun kira-kira minggu ketiga Maret mendatang.

Sumur warga mulai kering salah satunya di Kampung Wonosari RT03/RW011 Kelurahan Batu10 Tanjungpinang dan di Perumahan Asri.

”Kami terpaksa beli air. Itu pun sangat sulit untuk mendapatkan air bersih,” Novendra saat dijumpai Tanjungpinang Pos di Perumahan Bandara Asri Blok A1 nomor 4, Kamis (22/2).

Kata dia, bila dalam satu pekan terakhir ini tidak ada hujan, ia memprediksikan air sumurnya habis total. Saat ini ketinggian air di dalam sumur tinggal satu meter dari 12 meter sebelum terjadi kemarau.

”Tetangga saya saja sudah beli air bersih. Harganya lebih mahal kalau beli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” ucap dia sambil melihat ketersediaan air bersih di dalam sumur miliknya.

Sementara itu, Ikhwan warga Kampung Wonosar, juga mengklaim kalau sumur di rumahnya airnya terus menyusut hingga 50 persen hingga 70 persen.

Baca Juga :  Riono Jadi Plh Wali Kota

”Sudah mulai ada tanda-tanda kalau sumur kami di rumah mulai bakal kering,” tegasnya.

Sambung dia, apabila air hujan tidak turun selama setengah bulan ke depan, ia khawatirkan air sumur miliknya akan kering. Pasalnya, air sumur milik tetangganya sudah mengalami kekeringan juga.

”Kalau tetangga sudah membeli air bersih pakai tangki mobil,” terang dia.

Ia hanya bisa pasrah hingga berdoa, berharap kepada Allah SWT untuk menurunkan air hujan ke bumi. Supaya ketersedian air bersih di sumur miliknya tetap ada. Begitu juga untuk tetangganya hingga masyarakat Kota Tanjungpinang, yang sedang membutuhkan air bersih setiap harinya

”Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini turun hujan lah,” harap dia.

Ketua RT03/RW011 Kelurahan Batu X, Ahmad Fakih Djamroni sudah mendengar keluhan dari warganya yang sedang mengalami kekeringan ari bersih disumurnya masing-masing. Yang terjadi kekeringan air bersih di dalam sumur, adalah warga yang tinggal di daerah perumahan di Kampung Wonosari.

”Hanya saja warga kita tidak melaporkan langsung ke saya,” kata Ahmad Fakih Djamroni.

Keluhan kekeringan air bersih di sumur, kata Ahmad, tidak baru pertama kalinya. Namun, sudah sering terjadi. Fenomena kekeringan ketersedian air bersih di sumur milik warganya.

Baca Juga :  Pasis Sespimti Dikrek Ke-28 Kuliah Kerja ke Polda

”Warga kita sudah pada beli air tangki. Ya, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, hujan lah,” harap dia.

Satker Ingin SWRO Segera Dioperasionalkan
Kepala Satker Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kepri, Farid mengharapkan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Batu Hitam segera dioperasionalkan.

Dituturkanya, hasil rapat dengan Sekda Tanjungpinang, Riono, SWRO akan segera launching operasional pada Maret ini.

”Terkait tanggalnya masih menunggu, masih akan ditanyakan dengan Sekda atau UPTD sebagai pengelola,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, Kamis (22/2).

Ia menyarankan, SWRO tersebut dioperasionalkan dulu. Terkait kedepannya ada kendala dan hal dibutuhkan bisa dikomunikasikan dengan Pemprov melalui Dinas PU ataupun ke Satker SPAM.

”Kalau nanti butuh bantuan Satker bisa bantu, kalau sekarang tidak dijalankan belum tahu apa kendalanya,” ungkapnya.

Farid mengakui, sudah menerima informasi secara lisan dari Sekda Tanjungpinang, terkait tidak ada alokasi anggaran operasional SWRO di APBD 2018.

Rencananya akan meminta bantuan dari Satker SPAM Kepri. Terkait hal ini, ia belum bisa memutuskan, karena belum menerima permintaan secara resmi melalui surat. ”Menyampaikan secara lisan sudah, tapi surat sebagai dasar menyampaikan ke pusat belum ada,” tambahnya.

Baca Juga :  DPRD Kepri Bahas Dua Ranperda

Ia memperkirakan, anggaran operasional SWRO per bulannya sekitar Rp 200 juta. Itu untuk biaya obat senilai Rp 50 juta, listrik sekitar Rp 100 juta dan sisanya untuk biaya operator dan operasional pendukung lainnya.

Meski demikian, menurutnya akan balik modal, sebab biaya jual air sudah menghitung biaya produksi. ”Menurut saya balik modal, tetapi untuk memastikannya perlu di jalankan dulu,” tuturnya.

Ia menuturkan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan UPTD agar biaya operasional tertutupi, selain menjual ke pelanggan tersambung pipa juga bisa menjual air minum per galon. Kini sudah ada sekitar 2.000 sambungan pelanggan SWRO. Tersebar di kawasan Kota Lama sampai ke Tanjungunggat. ”Saya fikir UPTD SPAM Tanjungpinang bisa melakukan itu, serta beberapa lainnya,” paparnya.(ANDRI-DESI)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here