Ajak Lestarikan Cagar Budaya

0
121
DOSEN UMRAH Tanjungpinang foto bersama usai melakukan seminar di Lingga, baru-baru ini. F-istimewa

Dosen UMRAH Sosialisasi di Lingga

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang turun ke Lingga untuk mengingatkan serta mengajak masyarakat, pemerintah dan elemen-elemen masyarakat lainya tentang arti penting benda cagar budaya.

LINGGA – Kegiatan ini sebagai peran perguruan tinggi yang menyandang nama besar pahlawan nasional dari Kepri yaitu Raja Ali Haji UMRAH Tanjungpinang memiliki kewajiban baik moral maupun sosial untuk melestarikan dan terus mengembangkan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan oleh Raja Ali Haji.

Tim yang dipimpin Dr. Adji Suradji Muhammad ini turun ke Lingga akhir Juli 2018 selama tiga hari. Tim yang beranggotakan Dr. Oksep Adhayanto, SH,MH dan Ady Muzwardi, S.IP, MA ini juga turut serta membawa Dr. Abdul Malik, M.Pd yang saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP UMRAH).

Sebagaimana yang diketahui bersama bahwa Dr. Abdul Malik, M.Pd selain sebagai akademisi juga dikenal sebagai budayawan dan sekaligus sejarawan Melayu yang dimiliki oleh Kepri.

Tim Abdimas UMRAH yang dipimpin Dr. Adji (sapaan akrabnya) melihat bahwa nama Raja Ali Haji yang ada di UMRAH perlu di-ejawantah-kan dalam berbagai bentuk kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Selain Tamadun Melayu dijadikan sebagai mata kuliah dasar umum yang wajib dipahami oleh mahasiswa UMRAH di berbagai Program studi, civitas akademika UMRAH juga perlu melakukan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masayarakat khususnya terkait dengan tema-tema ke-Melayu-an yang menjadi ciri khas Kepri.

Dalam kegiatan ‘Sosialisasi Pelestarian Cagar Budaya’ yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga ini, tim juga mengundang Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Batu Sangkar.

Pelibatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Batu Sangkar dikarenakan Lingga khususnya dan Kepri pada umumnya merupakan salah satu wilayah kerja Balai di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dengan demikian maka akan semakin memperkuat dan memperlancar akses informasi dan komunikasi yang ke depan akan sangat bermanfaat bagi pengembangan Cagar Budaya yang ada di Lingga.

Dalam kesempatan tersebut masing-masing narasumber memberikan pencerahan bagi masyarakat, Lembaga Adat Melayu, guru-guru, OSIS dan pemuda yang diundang tentang peran penting dan upaya-upaya pelestarian cagar budaya atau benda yang diduga sebagai cagar budaya.

Kesempatan pertama diberikan oleh Dr. Adji sebagai moderator kepada Dr. Abdul Malik, M.Pd dengan tema ‘Urgensi Budaya Bagi Peningkatan Kualitas Hidup’. Asal mula suku Melayu dan sejarahnya hingga kini. Bagaimana hubungan Melayu dengan Tionghoa juga disinggung dalam paparan mataeri yang disajikan.

”Saya mengimbau pentingnya generasi muda saat ini mengetahui, memahami dan menjunjung adat istiadat Melayu yang begitu kental dengan Islam,” ungkap Dato Malik menjelaskan di akhir pemaparannya.

Kesempatan kedua diberikan kepada Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Batu Sangkar Agoes Tri Mulyono dengan tema ‘Pelestarian Cagar Budaya melalui Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan’.

Tri, sapaan akrabnya menjelaskan, secara gamblang terkait dengan definisi cagar budaya serta bagaimana melestarikannya.

Menurut Tri benda-benda yang diduga cagar budaya harus dilaporkan kepada pemerintah melalui Dinas Kebudayaan agar bisa didaftarkan atau diregistrasikan.

Pendaftaran benda benda yang diduga cagar budaya menjadi langkah awal untuk selanjutnya tim ahli cagar budaya merekomendasikan kepada kepala daerah untuk ditetapkan sebagai benda cagar budaya dan diusulkan kepada menteri untuk ditetapkan pemeringkatannya, apakah statusnya tingkat kabupaten, provinsi atau tingkat nasional dan bahkan bisa menjadi tingkat internasional atau dunia seperti Borobudur misalnya.

Tri melanjutkan bahwa untuk itu perlu dilakukan tiga tahap utama dalam melestarikan benda-benda cagar budaya, pertama adalah melakukan pelindungan, kedua melakukan pengembangan dan ketiga melakukan pemanfaatan.

Dalam kesempatan tersebut juga ditanyakan oleh audiens bolehkah masyarakat menguasai benda cagar budaya?. Ia mengatakan, boleh saja masyarakat menguasai benda-benda cagar budaya sejauh ia mendaftarkannya dan menginformasikannya kepada Dinas Kebudayaan setempat. Sesi II, narasumber Kepala Dinas Kebudayaan Lingga M Ishak.(MARTUNAS-ADLY BARA)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here