Akasia

0
622
AKASIA

Cerpen: Nafi’ah al-Ma’rab

Kami terlahir di bumi yang tak diharapkan. Setiap kehidupan kami menjadi sesak di dada para lelaki tua di kampung ini. Kami meneduhkan bumi yang terlarang. Kami dicerca, dan mungkin saja orang-orang sudah siap membunuh kami kapan saja.

AKU dan teman-temanku selalu menanti cahaya. Saat lesatan kemuning surya menyinggahi wajah-wajah kami, itulah yang kami katakan kehidupan. Menikmatinya, menghirupnya, merasakan kesejukannya. Lalu pelan-pelan hembusan dari syurga pun datang. Ia singgah sejenak di kelopak bunga berbentuk lingkarang berwarna coklat. Lalu berhembus lagi menerbangkan butiran serbuk hitam, jatuh ke bumi. Keesokan harinya sedikit demi sedikit sebuah batang hijau tumbuh. Lalu daunnya melebar, batangnya meninggi. Terus begitu, sampai seorang lelaki menghampirinya dengan senyum sumringah. Dia begitu girang saat kami mulai tumbuh. Bukan di satu sudut bumi saja, ditiap jengkal tanah di kampung ini. Ia mengusap kumis tebalnya, manggut-manggut dan tersenyum lebar pada karyawannya.

“Bagus, kalau begini bisnis kita bisa tambah maju.”
“Tapi Pak…”
“Kenapa?”
“Ada yang tau soal ini.”
“Siapa?”
“Pak Madi.”
“Lelaki tua itu? Hah, mau kupecat anaknya jadi karyawanku?”

Sebenarnya, kami tak tau menau soal cerita lelaki itu dan karyawannya. Kami hanya mengemban risalah langit untuk tumbuh menghijaukan bumi. Kami telah mengikat janji pada buana, akan membuat penduduk kampung ini tersenyum. Membantu para anak muda memberikan sedikit rupiah pada emak-emak mereka di awal bulan. Tapi aneh, kami lihat sorot mata orang-orang di sini justru sebaliknya. Mereka seolah ingin membunuh kami, mencincang-cincang tiap belah dahan kami. Entah apa yang terjadi. Entah apa pula rahasia senyum Pak Muhtar disetiap kali menyaksikan kami mulai bertapak di tanahnya.

Kami hanya melihat kerisauan yang tak sudah di mata para lelaki tua di kampung ini. Mereka seperti dilema. Anak-anak mereka menjadi buruh Pak Muhtar, mereka senang dan sejahtera. Tapi para ayah terisak, mereka memendam luka yang tak terzahirkan. Mereka bungkam lantaran tak punya keberanian. Mungkin tak ada yang mengecapi bangku universitas di antara mereka. Yang ada hanya sorot ketakutan manakala Pak Muhtar datang beserta anak buahnya. Mereka pura-pura menunduk hormat, lalu tersenyum palsu. Kami sekali lagi belum mengerti, kenapa risalah kami dibenci. Kenapa para orang tua menanggung luka terpendam.

“Pak, kau harus berani bilang pada si Muhtar.”
“Aku takut, Bu.”
“Tapi tanah kita Pak, aku tak mau toke tanah hanya membayar sebagian hak kita.”
“Kurang berapa meter?”
“Lima meter Pak. Itu cukup banyak. Bagaimana kita bisa menuntaskan bangunan rumah kalau lima meter tak dibayar toke?”
“Tapi Bu, aku tak mau si bujang dipecat. Itu resikonya, Bu. Mau kerja apalagi dia? Gabung dengan preman-preman kampung? Itu juga tak mungkin kubiarkan terjadi. Aku ingin dia tetap seperti sekarang, bisa lebih sejahtera dari kita.”

Selalu begitu. Bukan cuma Pak Madi yang takut anaknya dipecat. Semua lelaki di kampung ini berpikiran sama, takut anak bujangnya jadi preman dan sengsara. Jadilah mereka memilih menahan luka. Luka yang kami pun tak mengerti sabab musababnya. Yang kami lihat hanya air mata di sudut mata para wanita. Mereka mengeluh pada pria-pria penakut. Tapi, kenapa mereka mengeluh pada risalah kami? Apa dosa kami? Apa yang salah dengan janji kami pada bumi? Atau jangan-jangan si pria berkumis itu yang sudah merusak takdir suci kami?

Akhirnya kegaduhan terjadi di sore hari. Istri Pak Madi lemas lunglai mendapati amplop berisi uang yang disodorkan si toke tanah kepadanya. Ia memandanginya dengan mata berlinang. Sementara sang suami bungkam menunduk. Lelaki itu membenci keadaan. Ya, entah siapa yang hendak disalahkan.

“Madi, kau jangan dendam pulak padaku. Aku tak salah. Tanah kau tu memang tinggal sepuluh meter saja. Itu yang kami ukur barusan.” Toke tanah bercelutuk serba salah melihat pasangan suami istri itu dirundung duka.

“Tapi kau lihat di sertifikat ini! Kau tengok lah kemari, ini angkanya lima belas meter. Jangan pulak kau mau ambil hak kami.”

“Madi, kau tak tau si Muhtar? Aku tak mau berurusan dengan dia. Pokok akasia itu sudah tumbuh di sana, jadi itu memang sudah jadi tanah dia. Kau jangan pulak menyuruh aku dihajar anak buah si Muhtar. Sudah lah, kau ikhlaskan saja lima meter tu. Lagi pula anak kau si bujang kan dah punya motor sekarang. Suruh lah dia bantu kalian bangun rumah. Aku tak salah, Madi.”

“Aku tau itu. Tapi tidak kah kau mau menolong aku? Aku butuh uang. Aku dizhalimi si Muhtar. Kau kaya, kau punya kuasa. Kenapa tak kau lawan si Muhtar?”

“Aku tak bodoh Madi. Bisnisku bisa mati kalau kulawan si Muhtar. Sudah lah, kau ikhlaskan saja lah yang lima meter tu. Kalau kau ikhlas, nanti tanah tu kembali juga lagi pada kau.”

Akhirnya kami mengerti. Dan kami pula lah yang menjadi saksi atas fragmen-fragmen kisah yang terjadi. Betapa manusia mencintai bumi, mereka ingin tinggal kekal di sana meski menautkan luka di hati sesama. Mereka ingin mengabadikan hidup diri sendiri meski bertaruh sengsara dengan saudara. Tapi sudah lah. Itulah ihwal dunia. Tugas kami hanya singgah sejenak memberi kesejukan pada siapa saja.
****

Begitulah manusia. Kami ditanam hanya untuk menghidupkan luka. Juragan kaya bernama Muhtar itu sengaja menanam kami dalam jumlah besar, ribuan hektar. Ia menyimpan rahasia maksud menanam kami. Suatu waktu ia pun bercerita pada istrinya di beranda rumah. Dan kami lah lagi-lagi yang menjadi saksi atas fragmen-fragmen kisah yang terjadi.

“Bisnis itu tak harus pintar, Munah. Tapi juga harus pintar-pintar.”

“Maksud Abang?”

“Selama ini memang aku tak pernah kasi tau kau kenapa aku pilih bisnis pohon akasia. Barangkali kalau bukan akasia yang kupilih, bisnisku sekarang tak sebesar ini.”

“Maksud Abang apa? Abang menyembunyikan sesuatu?”

“Ya, Abang memang menyembunyikan sesuatu, tapi ini demi kau dan anak-anak. Kalau abang nanti meninggal, tak takut rasanya abang mewariskan harta benda ini pada kau dan anak-anak. Abang memilih pohon akasia karena pohon itu mudah tumbuh. Bunganya yang gugur akan cepat jatuh ke tanah-tanah di sekitarnya. Dan orang hanya tau kalau setiap tanah yang ditumbuhi pohon akasia itu adalah milik kita.”

Dan kami pun terisak. Akhirnya kami mengerti kenapa kehadiran kami dianggap petaka oleh warga kampung. Inilah manusia perusak risalah langit. Ia punya kejujuran yang sia-sia. Mungkin saja sebentar lagi kejujuran itu akan melahap hidupnya. Entah berapa meter tanah warga ia ambil dengan cara curang. Lalu ia pura-pura menerima anak-anak bujang di kampung ini sebagai karyawan di kebunnya. Ia gagah berkacak pinggang di hadapan warga. Merasa telah memberi sepiring nasi pada anak-anak dari para bapak-bapak yang dengan bodohnya malah kegirangan, ‘Anakku jadi karyawan Muhtar, terimakasih Muhtar, kau lah pahlawan kami.’ Ada yang dengan tololnya bicara demikian. Memuji-muji Muhtar, padahal tak sadar pelan-pelan ia sedang digusur dari kampung itu.

****

Dan tanah pun menyimpan luka. Ia kini tak lagi punya aneka pohon besar yang melingkari tubuhnya. Ia marah, ia mengamuk. Lalu ia pun meretakkan bagian-bagian tubuhnya. Saat itu kawanan harimau mulai sadar akan bahaya. Mereka takut kepada tanah tempat mereka bernaung. Ketakutan yang tak pernah disadari oleh Muhtar dan anak buahnya. Gajah-gajah mencaci Muhtar, puluhan burung mengutuk. Mereka tak tega melihat tanah menangis sepanjang hari. Lihat lah betapa satwa mencintai tanah. Mereka tak sanggup menyaksikan kesedihan si tanah. Kini yang dimiliki tanah hanya kami. Ia telah kehilangan hutan sebagai mahkotanya. Kami yang selalu diperas oleh Muhtar untuk menghasilkan rupiah ke dalam dompetnya. Hingga kami semakin mengerti kenapa risalah kami dibenci. Kami sungguh telah sangat mengerti.

Di malam hari yang sunyi, saat daun-daun memuntahkan butiran bening ke udara, tanah pun bersujud pada ilahi. Ia memohon agar dibebaskan dari siksa. Daun-daun tersentak mendengar doa tanah. Lantas mereka bangun dari tidur. Beramai-ramai mengamini setiap kata yang terlontar dari mulut tanah. Daun-daun juga memanggil kawanan penduduk hutan lainnya untuk turut sama mengamini. Hewan-hewan datang mengerumuni tanah. Mereka menghibur tanah, membantu tanah berdoa, dilepaskan dari petaka.

Seluruh penduduk hutan khusyuk berdoa, mereka ingin dibebaskan dari sengsara. Mereka ingin hidup tanpa cengkraman manusia. Doa-doa yang mengerikan mereka lantunkan. Kami bergidik, kami sungguh ngeri mendengar doa-doa itu. Ingin rasanya kami mendongakkan kepala Muhtar agar ia mendengar doa tanah. Dan sekali lagi, kami lah yang menjadi saksi atas fragmen-fragmen kisah yang terjadi.

*****

Ketika manusia membungkam diri dari bicara yang ahsan, langit pun siap menumpahkan sengsara pada setiap makhluk. Manusia lupa bila bumi meradang, mereka akan ditenggelamkan. Sebab tak ada lagi yang mampu bersuara. Bahkan untuk menentang sepatah kata saja pada pria bernama Muhtar. Semua setia pada kebodohan yang diagungkan.

Langit memuramkan wajahnya. Ia mengerti derita bumi, meski ia tak pernah bersentuhan dengan tanah. Tapi manusia yang saban hari menginjak tanah, mereka sedikit pun tak paham dengan bahasa alam. Mereka memicingkan mata melihat binatang-binatang hutan yang sudah berani berjalan-jalan di perkampungan. Tersebab mereka tak punya lagi rumah bernaung. Yang dilakukan manusia semakin bodoh. Mereka memasang jerat, lalu dua tiga ekor harimau tertangkap. Lalu dibawa lah si raja hutan itu ke pertengahan kampung. Ditonton beramai-ramai oleh anak pinak manusia. Sehinggakan langit mulai menyimpan dendam. Ia akan mengabulkan doa-doa tanah di tengah malam. Ia akan membahagiakan dedaunan yang berzikir menitiskan embun.

Di pagi hari yang buta, orang-orang berlarian membawa anak-anaknya. Langit pun mengadzab manusia. Banjir bandang terjadi. Rupanya rintik-rintik hujan tadi malam yang membuat semua orang lena dengan nyenyak adalah pengundang mau di pagi hari. Tanah-tanah berjalan mengitari kampung. Seolah mereka ingin memuntahkan kekesalan pada manusia. Entah dimana Muhtar dan istrinya. Orang-orang sibuk mengurus diri sendiri. Ada yang selamat karena diselamatkan Tuhan. Mereka bertasbih usai subuh. Mata mereka lah yang lebih dulu melihat saat bongkahan tanah bercampur air kecoklatan menghantam apa saja yang dilalui. Lalu mereka buru-buru berlari ke tempat yang lebih tinggi. Semua terisak kehilangan saudara. Anak-anak kehilangan bapak dan ibunya. Rintihan di mana-mana. Tanah kian mengamuk. Ribuan hektar kebun akasia milik Muhtar lesap dalam hitungan menit. Dan lagi-lagi, kami lah yang menjadi saksi atas fragmen-fragmen kisah yang terjadi.***

NAFI’AH AL-MA’RAB,
Nama pena dari Sugiarti.
Sejak 2009, aktif di komunitas Forum Lingkar Pena Riau,
menulis berbagai antologi puisi, cerpen, essay,
resensi, opini, novel dan sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here