Akhir Kontroversi Jurnal dan Penerbit Predator

0
1351
Dr.Agung Dhamar Syahkti

Oleh: Dr.Agung Dhamar Syahkti
– Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Maritim Raja Ali (UMRAH) Tanjungpinang
– Editor Kepala Jurnal Terakreditasi Nasional

Bagi kalangan akademisi dan ilmuan di dunia, laman sebuah blog (scholarlyoa.com) yang ditulis Jeffrey Beall seorang pustakawan dari Universitas Colorado Denver sangat berpengaruh dalam menentukan jurnal dan penerbit yang akan dipilih untuk mempublikasikan hasil riset dan gagasan-gagasan pemikirannya.

Beall, sejak 2008 mempublikasikan daftar penerbit (publisher), jurnal tanpa penerbit (stand alone journal) dan lembaga pengindeks sesat (misleading metric companies) serta jurnal bajakan (hijacked journals) yang harus dihindari oleh para akademisi dan ilmuan dalam mendiseminasikan haril pemikiran dan riset- risetnya.

Absennya sistem peer review menjadi kriteria utama Beall dalam menentukan rendahnya kualitas suatu jurnal, atau kalaupun proses review ada, seringkali hanya berupa sedikit perbaikan dari dewan redaksi yang dilakukan bersamaan dengan layoutting.

Permasalahan kedua adalah agresifitas para penerbit dan jurnal dalam mencari penulis dengan janji publikasi internasional setelah penulis membayarkan biaya yang dibebankan untuk mempublikasikan artikelnya terlepas baik atau buruknya kualitas tulisan penulis.

Yang juga menarik adalah, imperfect English dan komposisi dewan redaksi yang non-native speaking tidak serta merta membuat jurnal menjadi predatori.

Contoh yang menarik adalah Hindawi, penerbit Mesir pernah dianggap predator pada suatu waktu dan setelah memperbaiki sistem peer review dan kualitas bahasa tidak lagi masuk dalam daftar Beall.

Daftar hitam yang dinamis ini misalnya mencatat pada tahun 2011 terdapat 18 penerbit masuk dalam “Beall’s list of potential, possible, or probable predatory publishers and journals” dan tahun 2016 menjadi 1152 penerbit.

Setiap penerbit sendiri dapat memiliki puluhan sampai ratusan jurnal. Belum lagi stand alone journal yang jumlahnya 1294 jurnal. Tentunya, daftar ini tentunya mengusik pengelola dan pebisnis di bidang penerbitan jurnal-jurnal ilmiah dan bahkan para kontributor tulisannya.

Kontroversi ini membuat Beall memiliki banyak penentang, di negara dunia ketiga (baca: Indonesia) kegalauan berasal dari para kandidat Doktor yang wajib publikasi internasional dan sebagain Guru Besar yang resah mempertahankan tunjangan kehormatannya dimana mereka kesulitan mempublikasikan di jurnal terindek bereputasi seperti “Scopus” dan “Thompson and Reuters”.

Kegusaran lain muncul dari kelompok penerbit dan jurnal ilmiah Open-Access dimana beberapa diantaranya memiliki pengaruh seperti penerbit Frontiers yang dimiliki Grup Holtzbrinck di Stuttgart, Jerman, yang juga memiliki saham dari penerbitan raksasa Springer Nature.

Spekulasi muncul bahwa mereka melayangkan surat protes dan memaksa Universitas Colorado Denver menghentikan publikasi Beall. Perlu dicatat bahwa beberapa jurnal dari mega penerbit seperti Elsevier dan Springer yang sebelumnya terindeks Scopus-pun mulai masuk kedalam dafter hitam Beall sehingga pengindeksan mereka di Scopus-pun dicabut.

Hal ini menepis anggapan bahwa mega penerbit mengendalikan lembaga pengindeks Scopus. Konon setelah digempur habis habisan, akhirnya per 15 Januari 2017, Beall menarik dan menghilangkan daftar hitam dan semua konten pada blognya serta menolak memberikan keterangan terkait keputusannya tersebut.

Banyak pihak menduga bahwa tekanan dari beberapa penerbit kepada Universitas Colorado Denver menjadi alasan kuat hilangnya daftar tersebut. Jika ini yang benar-benar terjadi maka kebebasan akademik dan scholar menjadi tercoreng hanya karena kepentingan politik bisnis.

Dugaan lain seperti dipublikasikan majalah Science adalah Beall sebagai konsultan Cabell Internasional di Beaumont Texas telah mentransfer daftar hitam yang dimaksud.

Apa implikasi dari hal tersebut bagi akademisi dan ilmuan Indonesia?, Kemristekdikti bahkan melaui Permenristekdikti No. 20 Tahun 2017 akan mengevaluasi tunjangan profesi dan tunjangan kehormatan Guru Besar jika orang-parang cerdas dan pintar ini tidak mampu mempublikasikan hasil risetnya di jurnal internasional.

Sepuluh tahun terakhir, untuk memastikan kualitas tulisan ilmiah bertaraf internasional tim evaluator kinerja dosen dan peneliti di bawah naungan Kemristekdikti seperti Universitas dan Lembaga Pemerintah Non Departemen seperti LIPI dan BPPT mensyaratkan jurnal jurnal yang terindeks pada lembaga pengindeks raksasa “Scopus” dan “Clarivete Analytic ” (sebelumnya bernama Thompson and Reuter) artinya daftar Beall harus dihindari!.

Paska hilangnya daftar hitam Beall pastinya akan membuat hilangnya informasi kunci dalam membantu mengevaluasi angka kredit akademisi dan ilmuan.

Kemristekdikti dengan mencoba membuat evaluasi standar kualitas terbitan internasional dan juga jurnal jurnal ilmiah nasional.

Harapannya, Kemristekdikti menyiapkan dapat panduan baru terkait dengan evaluasi standar kualitas jurnal ilmiah internasional dan juga jurnal jurnal nasional, Sistem Indeksasi dan Sitasi Indonesia (Science and Technology Index) atau lebih dikenal dengan akronim SINTA diharapkan dapat segera di-launching agar kebingungan dan kegaduhan yang baru saja terjadi akibat hilangnya daftar hitam jurnal berkualfikasi “predatory” dapat segera teratasi.

Terkait Jeffrey Beall, apapun alasan yang mungkin, saya sangat mengagumi totalitasnya dalam membantu meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya kualitas suatu kajian ilmiah untuk dipublikasikan.

Keberaniannya yang dengan tanpa keraguan menantang musuh musuh masyarakat ilmiah dan instrument publikasinya dengan menuangkan daftar hitam penerbit dan jurnal predator.

Upayanya jelas membantu kita mendorong kualitas sebuah jurnal melalui kehadiran sistem peer review, itulah kontribusi bear Beall dalam dunia ilmiah (scholarly).

Pelajaran yang dapat dipetik adalah, Beall berjuang sendirian, sudah seharusnya proyek individu Beall diadopsi oleh komite ilmuan yang independen untuk mengawasi lembaga penerbit.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here