Akta Lahir Gratis atau Bayar?

0
621

Pak saya mau tanya? kalau bikin akte kelahiran lambat apa benar kena biaya sedangkan anak itu baru 6 bln lahirnya.
+6282385839648

TANGGAPAN:
Sejak Januari 2017 hingga 2018 yang membuat akta kelahiran cukup ramai. Pada Angustus 2017 lalu minat pembuatan akta kelahiran yang mencapai 1.276. itu sudah merupakan angka yang sangat baik dari rata-rata target nasional. Untuk pembuatan akta kelahiran tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis. pembuatan akta kelahiran itu merupakan tanggungjawab orang tua.

Kita berterima kasih kepada masyarakat Tanjungpinang yang sudah peduli dan mau mengurus akta kelahiran anaknya di Kantor Disdukcapil Kota Tanjungpinang. Antusias masyarakat membuat Akta Kelahiran di Disukcapil Kota Tanjungpinang melebihi target secara nasional akta kelahiran 0-18 tahun. Persentase di Tanjungpinang yaitu 84,17 persen. Sedangkan target nasional akta kelahiran 0-18 tahun hanya 80 persen.

Alhamdulillah, pencapaian akta kelahiran kita melebihi angka nasional. Dari data yang dimiliki Disdukcapil Kota Tanjungpinang, masih ratusa anak yang belum memiliki akta kelahiran. Angka tersebut dikurangi dari jumlah kelahiran anak Tanjungpinang.

Alasan Disdukcapil tidak mencetak akta kelahiran untuk 240 anak tersebut karena orangtua anak tersebut tidak menyerahkan berkas untuk mengurus akta kelahiran. Seperti surat kebidanan, fotokopi KTP orangtua, dan fotokopi KK. Padahal gratis, buat akta kelahiran di Didisdukcapil. Tapi syarat-syaratnya mesti dipenuhi.

Membuat akta kelahiran itu sebentar saja. Kalau berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP), kepengurusan akta kelahiran membutuhkan waktu selama tujuh hari jam hari kerja.

Tetapi, di Disduk Capil Kota Tanjungpinang waktunya lebih singkat. Hanya hitungan jam saja selesai. Ini karena saja selaku Kepala Disducapil Kota Tanjungpinang mengintruksikan staf saya agar menyelesaikan akta kelahiran antara tiga.

Bahkan, kalau saat listrik bagus dan tdiak ada gangguan tekni, bisa hitungan jam langsung selesai. Kalau tidak percaya, silakan urus akta kelahiran anaknya.

Kami selalu mengimbau kepada orangtua untuk agar segera mengurus akta kelahiran anaknya. Karena akta kelahiran merupakan identitas penting buat anaknya. Akta kelahiran identitas kebangsaan kita. Jadi, uruslah akta kelahiran anaknya. Jangan ditunda-tunda lagi. (dri)

Irianto,
Kepala Disdukcapil Kota Tanjungpinang

Tanggapan:
Berdasarkan data dari Ditjend Administrasi Kependudukan (Adminduk) Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Kepri yang belum mengantongi akta lahir ada 137.811 orang.

Yang sudah memiliki akta lahir sekitar 489.534 orang. Jika dilihat dari persentasenya, jumlah anak yang sudah memiliki akta lahir di Kepri sekitar 78,03 persen. Namun, ini data periode I tahun 2017 (Juni). Jumlah ini berpotensi naik mengingat data Juli-Desember 2017 hingga Januari-Februari 2018 belum dirilis pihak Ditjend Adminduk Kemendagri.

Persentase pemilikan akta lahir di Kepri di bawah rata-rata nasional yang sudah mencapai 85,6 persen. Kepri tergolong lambat dalam pengurusan akta lahir, mengingat target nasional adalah 85 persen tahun 2019 nanti.

Persentase kepemilikan akta lahir di Kepri paling tinggi Tanjungpinang yakni 89,2 persen atau di atas rata-rata nasional. Kemudian Natuna sebesar 87,25 persen juga di atas rata-rata nasional.

Sedangkan lima kabupaten/kota lainnya masih di bawah rata-rata nasional. Karimun pada posisi paling buncit di Kepri dengan persentase 64,28 persen. Bintan 68,55 persen. Lingga 82,59 persen, Batam 78,82 persen dan Anambas 82,99 persen.

Karena itu, hanya Natuna dan Tanjungpinang yang sudah bisa menerapkan Kartu Identitas Anak (KIA) karena salah satu syarat untuk menerapkan program ini adalah, kepemilihan akta lahir di atas 85 persen. Jika tidak, KIA tetap bisa dilakukan dengan biaya APBD.

Saya sangat yakin, persentase kepemilikan akta lahir anak di Kepri sudah tinggi. Apalagi, masing-masing Disdukcapil di Kepri selalu berusaha keras menyadarkan penduduknya dan juga sering turun ke lapangan untuk melakukan pelayanan.

Kepri, berbeda dengan provinsi daratan lainnya di Indonesia. Kalau di provinsi lain, jika hendak mengurus akta lahir, maka bisa naik ojek atau naik motor sendiri atau naik angkot.

Di Kepri, banyak penduduk yang tersebar di daerah pulau-pulau dan sulit menjangkau ibu kota kecamatan apalagi ibu kota kabupaten. Itu karena geografis Kepri yang 96 persen lautan. Transportasi laut sangat mahal.

Sedangkan di darat, ongkos paling jauh ke ibu kota kecamatan atau ibu kota kabupaten/kota tak sampai seratusan ribu. Mungkin hanya ribuan, belasan ribu atau puluhan ribu.

Meski demikian, semua ini bukan penghalang bagi Disdukcapil di Kepri. Sekarang ini, sudah dikembangkan dan diterapkan pola jebol (jemput bola). Petugas dengan peralatan lengkap menyewa pompong atau speadboat lalu memasuki perkampungan penduduk. Jika ada penduduk lain yang dekat, disuruh datang ke tempat itu agar sekaligus direkam datanya.

Memang, pejabat Kemendagri selalu mengingatkan seluruh Disdukcapil di Indonesia agar terus mensosialisasikan program nasional Gerakan Indonesia Sadar Administrasi (GISA) dalam upaya tertib data kependudukan. Selain jemput bola, tugas kita yang lain adalah menyadarkan masyarakat. (mas)

Sardison,
Kepala DPMD Dukcapil Pemprov Kepri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here