Alam Kepri Eksotis, Jangan Sia-Siakan

0
372

Kemendes Minta Dimanfaatkan BUMDes

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo melihat peluang Kepri menjadi daerah maju dengan pertumbuhan ekonomi tinggi sangat besar. Alam Kepri yang eksotis harus dikelola untuk mendatangkan turis yang lebih banyak lagi agar tidak sia-sia.

TANJUNGPINANG – UNTUK itu, Menteri Eko meminta pemerintah desa turut mempercepat Kepri menjadi daerah mandiri dan maju dengan memanfaatkan alam dan pantainya yang eksotis tersebut. Alam Kepri dinilai memiliki daya tarik khas karena belum banyak dikenal umum.

Jika dibandingkan dengan beberapa desa lain di Indonesia, harusnya Kepri bisa lebih unggul. Kondisi alam Kepri mendukung. Kepri alamnya jauh lebih indah. Dan untuk mengelolanya, tidak butuh modal besar. Apalagi pasarnya sudah ada yakni negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Yang diperlukan untuk mengembangkannya hanya inovasi, kreativitas dan mau mengolahnya menjadi sumber pendapatan.

Ia membandingkannya dengan Desa Ponggok di Klaten Jawa Tengah yang dulunya miskin, kini jadi daerah makmur karena sektor wisata.

Pemerintah desa setempat berhasil memanfaatkan Dana Desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Padahal, desa ini tidak memiliki laut seperti Kepri yang terdiri dari 98 persen lautan.

Dihak Desa Ponggok hanya memanfaatkan kolam bekas zaman Belanda menjadi laut buatan. Kolam-kolam bekas tersebut diisi air, dimasukkan batu karang, terumbu laut, lalu disiapkan alat snorkeling untuk menyelam bagi pengunjung.

Agar pengunjung lebih betah, disiapkan Wifi gratis, kursi, meja untuk santai, makanan khas dan minuman. Pengunjung pun bisa menyelam di kolam buatan itu seolah-olah berada di laut. Ini contoh kreativitas pihak desa tersebut.

Kolam yang sebelumnya hanya menghasilkan Rp15 juta setahun itu, setelah dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kini menghasilkan Rp6,3 miliar setahun dengan laba Rp3 miliar setahun.

”Bayangkan Kepri, sudah punya lautan dimana mana. Tak perlu lagi mambuat laut buatan seperti mereka. Hanya kreativitas. Kepri sangat luar biasa. Manfaatkanlah. Kelola dengan baik,” ujarnya di hadapan 275 kepala desa se-Kepri di Hotel CK Tanjungpinang, Selasa (5/3) malam.

Baca Juga :  Retribusi Lego Jangkar Tak Jelas

Masih contoh sektor wisata. Menteri Eko kembali mengambil contoh Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung Provinsi Bali. Desa yang sangat tertinggal. Daerah itu penuh kapur dan tandus.

Lautnya jauh di bawah tebing. Saking sulitnya mata pencaharian di sana dulu, akhirnya sebagian warga desa tersebut yang menjual narkoba.

Aparat kepolisian kerepotan karena banyaknya narkoba di desa itu. Ssetelah Dana Desa masuk dan melalui bursa inovasi desa, warga sepakat agar anggaran desa digunakan untuk membuat jalan ke laut dengan memotong tebing tersebut. Sehingga warga bisa berbudidaya rumput laut.

Selama ini warga kesulitan akses jalan ke laut karena tingginya tebing tersebut. Terakhir, akses jalan yang dibuat melalui tebing itu tak hanya digunakan untuk jalan warga ke laut. Namun dikelola juga menjadi destinasi wisata.

Pengunjung pun membeludak. Satu tahun, jumlah wisman dan wisnus yang berkunjun ke desa itu sekitar 1 juta jiwa. Akhir 2017 lalu, penghasilan BUMDes desa tersebut mencapai Rp30 miliar dengan keuntungan Rp14 miliar.

Jumlah Pendapatan Asli Desa (PADes) tersebut jauh di atas Dana Desa yang diterimanya. Bahkan sudah bisa menyumbang PAD bagi daerahnya. Atas kesepakatan bersama warga, mereka membentuk koperasi simpan pinjam dan kini aset mereka mencapai Rp127 miliar.

Karena penghasilan desa sangat besar, kepala desanya kini sudah bergaji Rp25 juta sebulan. Gaji perangkat desa juga naik dengan akumulasi disesuaikan ke pendapatan mereka.

”Sekarang desa itu sudah mandiri. Pendapatan mereka sangat besar. Tentu penghasilan kepala desa dan perangkatnya juga akan disesuaikan,” bebernya.

Kepada Gubernur Kepri H Nurdin Basirun, menteri berjanji akan membantu kepala desa untuk belajar ke beberapa desa di Pulau Jawa dan Bali yang sudah berhasil menyejahterakan warganya. Biayanya akan ditanggung pemerintah pusat.

Baca Juga :  Merasa Dizolimi, Guru Demo

Eko Putro Sanjoyo mengatakan, prestasi 4 tahun terakhir dalam pemanfaatan Dana Desa sangat membanggakan. Karena Dana Desa tersebut mampu membangun infrastruktur di desa dengan skala yang sangat massif yang belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia.

”Ini prestasi yang sangat membanggakan. Tentunya keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja sama yang baik antara para pendamping desa dengan kepala desa serta dukungan, pembinaan dari para Bupati dan Gubernur. Penghargaan patut kita berikan kepada para Kepala Desa, saya katakan bahwa Kepala Desa adalah Pahlwan Pembangunan Desa,” ujar Eko Putro Sanjoyo.

Eko Putro Sanjoyo memaparkan bahwa dengan menggunakan dana desa, dalam 4 tahun desa mampu membangun infrastruktur yang sangat massif diantaranya. 191.000 km jalan desa, membangun hampir satu juta meter jembatan, puluhan ribu PAUD, Polindes, posyandu, hampir satu juta unit sarana air bersih di rumah-rumah dan di desa sekarang sudah mendapatkan akses aman untuk MCK.

”Ada yang tidak percaya bahwa desa telah membangun jalan 191.000 Km. Ternyata banyak yang lupa bahwa Indonesia adalah negara besar dengan jumlah desanya sebanyak 74.957. 191.000 Km kalau dibagi 74.957 desa dibagi 4 tahun, jadi rata rata per tahun setiap desa hanya membangun 625 meter,” paparnya.

Menteri menceritakan pada tahun 2015 dana desa hanya dianggarkan Rp20 triliun. Berkat komitmen dari Presiden Jokowi memajukan pembangunan dari daerah pinggiran, pada tahun 2016 dana desa ditingkatkan lagi menjadi 2 kali lipat di angka Rp40 triliun dan pada 2017 dana desa berada di angka Rp60 triliun, dan penyerapan dana desa pada tahun 2018 sangat baik karena sudah lebih 99%.

”Ini menunjukkan bahwa penyerapan anggaran dana desa efektif sekali dan manfaatnya sangat terasa. Tata kelola dana desa semakin menjadi baik karena ada pendampingan dan dipantau oleh kepolisian maupun kejaksaan dalam hal penyaluran penggunaan dana desa,” ujarnya.

Baca Juga :  252 Personil Brimob Polda Kepri Diberangkatkan ke Papua

Kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau Menteri memberikan arahan agar Dana Desa digunakan lebih banyak digunakan untuk pemberdayaan masyarakat desa, dan untuk Kepulauan Riau pemanfaatan dana desa lebih tepat digunakan untuk penataan kawasan wisata alam khususnya wisata laut.

”Saya sebelum tiba, dari pesawat pak Gubernur saya lihat Kepri ini memiliki pulau, laut serta keindahan alam yang sangat unik, alami dan eksotis sekali. Sayang kalau tidak dimanfaatkan sebagai daerah pariwisata yang akan mendatangkan income bagi desa-desa di Kepri sehingga mereka tumbuh menjadi desa yang mandiri bahkan maju dan mampu membiayai diri sendiri,” jelasnya.

Kepala Desa Adalah Pahlawan
Gubernur Kepri H Nurdin Basirun berterimakasih pada para kepala desa, perangkat desa serta seluruh masyarakat yang telah bersama-sama bersinergi membangun desa.

Nurdin juga berterima kasih kepada pemerintah pusat yang dalam empat tahun ini terus mengucurkan Dana Desa.

Dana Desa ini hasilnya nyata di masyarakat. Saya ini orang lapangan, sering ke desa-desa. Saya sendiri melihat adanya perubahan mendasar dari infrastruktur di Desa.

”Bahkan ada daerah di Singkep Barat yang pernah saya datangi, fasilitas olahraganya sangat rapi. Saya tanya dari mana sumber pendanaan yang didapat, mereka bilang dari Dana Desa,” kata Nurdin saat Rapat Kerja Pemerintah Desa Tahun 2019 di Hotel CK Tanjungpinang, Selasa (5/3) malam.

Pemerintah Daerah, menurut Nurdin Basirun selalu memberikan pendampingan serta arahan agar penggunaan dana desa dapat terserap maksimal dan berdayaguna bagi peningkatan mutu desa.(MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here