Alat Peraga Ceiling Memacu Keterampilan Berfikir Siswa

0
157
Ilustrasi F-NET

Oleh: Nelwati S.Pd, M.Pd
Staf Pengajar SMPN 1 Bintan

Abad 21 pendidikan ini menitik beratkan pada upaya perubahan yang lebih maksimal dan lebih komplit. Ini juga menuntut perubahan pada proses pembelajaran. Guru yang merupakan segalanya (teacher centre) mesti menekan perkembangan pola pikir siswa dan proses idealnya mesti berpusat pada siswa (student center). Proses kerja terisolasi sudah seharusnya beralih ke proses kerja kolaborasi. Kemampuan bereksplorasi akam berkembang dengan cara berkolaborasi. Pengiriman informasi sepihak yaitu guru mendominasi pembelajaran sudah semestinya berubah ke pertukaran informasi.Pembelajaran pasif dengan siswa hanya menerima pembelajaran dan guru menjelaskan dengan metode ceramah dirubah menjadi pembelajaran aktif dan partisipatif. Perubahan dari respon reaktif ke proaktif.Perubahan konteks artificial ke konteks dunia nyata.Tingkat perkembangan teknologi yang semakin pesat menuntut perubahan dari single media ke multimedia.Metode, teknik ataupun strategi yang digunakan menuntut siswa berpikir kritis tidak lagi bersifat faktual. Intinya dalam menyiapkan peserta didik memasuki abad 21 sangat menekankan kepada seperti apa dan bagaimana pembelajaran dapat merangsang berpikir kritis siswa. Merangsang berpikir kritis bermuara pada proses pembelajaran.

Proses pembelajaran dikatakan berhasil bila berdampak pada sikap mental anak yang mampu menyelesaikan setiap permasalahannya dengan keterampilan berpikir kritis. Ketrampilan berpikir yang terasah, dapat digunakan untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan nyata.

Pengalaman sehari-hari masih ditemukan rendah keterampilan berpikir kritis matematis siswa kelas VIIIa SMPN 1 Bintan.Belajar matematika bagi siswa baru sebatas contoh dan rumus. Ketika soal sudah dikembangkan kedalam masalah terkait kehidupan sehari-hari mereka menjawab “tidak ada rumusnya bu” beberepa mereka menjawab “tidak bisa diselesaikan”. Masih belum banyak muncul kegigihan, menganalisa dan menghubungkan satu konsep dengan konsep lain. Masih kurang ditemukannya siswa yang mengemukakan pertanyaan mengapa, apa bagaimana dalam belajar. Fakta ini menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa masih rendah.

Faktor penyebab ditinjau dari aspek affektif bahwa masih banyak siswa kurang mandiri dalam menyelesaikan permasalahan.Kurang percaya diri dan takut bertanya maupun mengungkapkan pendapat.Siswa kurang mampu mengaitkan masalah dengan kehidupan sehari-hari. Aspek psikomotor membandingkan sesuatu dengan yang lain masih belum alam proses pembelajaran. Proses pembelajaran kurang menfasilitasi siswa untuk bertanya dan menanggapi sebuah permasalahan. Aspek kognitif terlihat dari hasil analisis pretes bahwa hanya 12,12% siswa yang mendapat nilai sama atau diatas KKM 75. Faktor utama dari ketiga aspek tersebut yang sanagt menentukan adalah proses pembelajaran yang kurang melibatkan siswa untuk beraktifitas menemukan dan membangun pengetahuannya. Fakta ini menunjukkan bahwa kurangnya keterampilan berpikir kritis matematis terkait pemecahan masalah matematis dalam kehidupan sehari-hari.

Munif (2009) memaparkan kelebihan metode experiential learning adalah meningkatkan semangat dan gairah belajar, membantu terciptanya suasana belajar yang kondusif, memunculkan kegembiraan dalam proses belajar, mendorong dan mengembangkan proses berpikir kreatif, dan mendorong siswa untuk melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Adanya keterbukaan, pemahaman mendalam dan kesempatan bereksperimen dalam experiential learning merupakan lahan kondusif pengembangan keterampilan berpikir kritis (critical thinking skills).

Mengutip saran dari peneliti terdahulu yaitu Purnomo (2013) bahwa Experiential learning merupakan pembelajaran yang lebih efektif jika dibantu dengan alat peraga dalam menyajikan objek matematika yang abstrak. Keterlibatan langsung dan pengalaman nyata pada pembelajaran Eksperiental learning merupakan gaya belajar yang sudah pernah dijadikan metode pembelajaran oleh peneliti terdahulu untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir kritis. Munif (2009) menyarankan dalam penelitiannya bahwa Model pembelajaran experiential learning memiliki arti yang sangat luas sehingga masih diperlukan penyesuaian mengenai pendekatan, strategi, metode, teknik pembelajaran, serta media pembelajaran yang digunakan pada waktu menyusunan tindakan yang menggambarkan alur belajar experiential learning pada setiap materi pembelajaran yang berbeda.Pembelajaran akan membimbing siswa menjadi pribadi yang berpikir kritis dan penuh dengan ide-ide brilian. mengaitkan pengalaman nyata. Pembelajaran akan merangsang otak kanan untuk bekerja melalui kegiatan berkreasi dan apresiasi. Memberdayakan metakognisi sebagai dasar untuk pengetahuan barunya.

Menyimpulkan pendapat Iswadji, D (2003) bahwa alat peraga menjembatani matematika yang bersifat abstrak ke materi yang nyata di alam pikiran siswa.Alat peraga adalah model berupa benda konkrit yang dapat dilihat, disentuh dan diungkapkan melalui verbal anak sehingga dapat lebih mudah dipahami (Iswaji, 2003).

SMPN 1 Bintan diamanahkan untuk mengemban sekolah adiwiyata tingkat nasional yang berwawasan lingkungan, sekolah model bertema media dan alat peraga sederhana dengan memanfaatkan barang bekas di lingkungan.Sebagai sekolah Sistim Penjamin Mutu Internasional (SPMI) Integrasi SMPN 1 Bintan menfokuskan pada penggunaan alat peraga sederhana yang ada di lingkungan dengan tidak menggabaikan kemahiran guru di bidang IT. Mengangkat budaya local maka SMPN 1 Bintan menggunakan alat peraga sederhana dari barang bekas terutama

Mengatasi masalah rendahnya tingkat berpikir kritis siswa SMPN 1 Bintan, peneliti mencoba mengembangkan alat peraga celingan dengan pembelajaran experiential learning untuk meningkatkan berpikir kritis matematis.

Solusi dari permasalahan pembelajaran tersebut peneliti memilih alat peraga ceilingan dengan pembelajaran experiential learning untuk meningkatkan berpikir kritis siswa kelas VIIIa SMPN 1 Bintan.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Bagaimana alat peraga ceilingan dengan ekperiental learning dapat meningkatkan berpikir kritis matematis siswa kelas VIIIa SMPN 1 Bintan.

Tujuan Penelitian
Tujuan penenlitian ini adalah: Mengetahui bagaimana alat peraga ceilingan dengan eksperiental learning dapat meningkatkan berpikir kritis matematis siswa kelas VIIIa SMPN 1 Bintan.

Kajian Teori
Kemampuan berpikir kritis adalah suatu kemampuan seseorang dalam menganalisis ide atau gagasan secara logis, reflektif, sistematis dan produktif untuk membantu membuat, mengevaluasi serta mengambil keputusan tentang apa yang diyakini atau akan dilakukan sehingga berhasil dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi.

Berpikir kritis termasuk proses berpikir tingkat tinggi, karena pada saat mengambil keputusan atau menarik kesimpulan menggunakan kontrol aktif, yaitu reasonable, reflective, responsible, dan skillful thinking. Tidak semua orang bisa berpikir kritis karena dibutuhkan keyakinan yang kuat dan mendasar agar tidak mudah dipengaruhi.Kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan untuk menganalisis suatu permasalahan hingga pada tahap pencarian solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Menurut Seriven dan Paul (dalam Suwarma, 2009:11), berpikir kritis merupakan sebuah proses intelektual dengan melakukan pembuatan konsep, penerapan, melakukan sintesis, dan atau mengevaluasi informasi yang diperoleh dari observasi, pengalaman, refleksi, pemikiran atau komunikasi sebagai dasar untuk meyakini dan melakukan suatu tindakan.

Purnomo (2013) bahwa Experiential learning merupakan pembelajaran yang lebih efektif jika dibantu dengan alat peraga dalam menyajikan objek matematika yang abstrak. Alat peraga matematika adalah sebuah atau seperangkat benda konkrit yang dibuat, dirancang, dihimpun atau disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika. Dengan alat peraga, maka hal-hal yang abstrak dapat disajikan dalam bentuk model-model, sehingga siswa dapat memanipulasi objek tersebut dengan cara dilihat, dipegang, diraba, diputarbalikkan, agar lebih mudah memahami matematika (Sitanggang, 2013).

Alat peraga yang digunakan adalah alat peraga ceilingan.Ceiling berasal dari bahasa Inggris yang artinya langit-langit.Penduduk Melayu yang akrab dengan maritime dalam kesehariannya mengenal berbagai jenis kerang.Pada pembelajaran seni budaya SMPN 1 Bintan mengembangkan budaya local yaitu membuat kerajinan dari kerang salah satunya adalah lampu hias di plafon/langit-langit rumah. Kerajinan lampu hias diberi nama ceilingan. Ceilingan ini peneliti manfaatkan dalam pembelajaran matematika sebagai alat peraga.

Berwawasan lingkungan merupakan visi SMPN 1 Bintansebagai peraih sekolah adipura dan pengemban sekolah adiwiyata tingkat Nasional tahun 2017.Mengintegrasikan lingkungan ke dalam pembelajaran dengan salah satu strategi memanfaatkan alat peraga sederhana dari barang bekas di lingkungan merupakan tema sekolah model dan Sekolah Mutu Pendidikan Internasional (SPMI) yang diemban.SMPN 1 Bintan berada diwilayah maritim yang kaya dengan hasil laut nya. Memanfaatkan hasil laut untuk alat peraga adalah hiasan lampu gantung yang terbuat dari kulit kerang dan kulit gonggong. Celingan dalam bahasa Inggris berarti langit-langit.Hiasan lampu yang terbuat dari bekas kulit kerang yang digantung di langit-langit rumah diberi nama dengan ceilingan.

Alat peraga ceilingan dipadukan dengan pembelajaran experiential learning yang pelaksanaannya mengacu pada 4 tahap yaitu: a) Tahap Pengalaman Konkrit yaitu melakukan pengamatan sederhana dengan alat peraga ceilingan. b) Tahap Observasi Refleksi yaitu tahap menuliskan dan mempresentasekan c}.Tahap Konseptualisasi yaitu membentuk rumus umum. d). Tahap menyimpulkan.

Kompetensi Dasar pola bilangan dengan indikator menemukan rumus suku ke-n dan jumlah suku ke-n. Kegiatan pembelajaran dengan langkah-langkah pembelajaran experiential learning sebagai beriukut: 1). Kegiatan pendahuluan selama 15 menit. Guru memulai dengan salam, menyiapkan kelas, mengecek kehadiran siswa, memotivasi siswa kemudian guru mengadakan pretest untuk mengetahui pengetahuan awal terkait pola bilangan. 2). Kegiatan inti selama 60 menit. Siswa sudah dikondisikan dalam kelompok 4-5 anggota.Masing-masing kelompok difasilitasi dengan alat peraga celengan dari kerang dan kulit gonggong, lembar kerja (LK), karton dan spidol.Sebelum memulai kegiatan terlebih dahulu guru menyampaikan tujuan pembelajaran.Selanjutnya guru membantu memberi pemahaman menggunakan alat peraga ceilingan dan siswa mengamati.Ceilingan yang sudah jadi hiasan utuh dibongkar secara teratur dan sama banyak serta berurutan. Di ruang kelas terdapat hiasan lampu (ceilingan) dengan bahan dasar kulit kerang.Kondisi pertama sudah tersusun 60 kulit kerang pada hiasan lampu (ceilingan).Hanif mengambil (mencopot) 2 kerang pada hiasan tersebut hingga banyak kerang berkurang menjadi 60 – 2 = 58.Berikutnya Yusuf mengambil (mencopot) lagi 2 kerang pada hiasan tersebut hingga banyak kerang berkurang lagi menjadi 60 – 2 – 2 = 56.Hasbi mengambil (mencopot) 2 kerang lagi hingga banyak kerang berkurang lagi menjadi 60 – 2 – 2 – 2 = 54. Ismi mengambil 2 kerang juga dari hiasan tersebut hingga banyak kerang sekarang adalah 60 – 2 – 2 – 2 – 2 = 52. Jika pengambilan juga dilakukan oleh ibu guru sebanyak 2 juga berapakah sisa kerang pada hiasan tersebut? Guru merangsang berpikir kritis siswa dengan bertanya setiap pengambilan akan berkurang berapa?. Berapa beda masing-masing urutan? Pada kondisi pertama apakah sudah ada beda? Pada urutan kedua ada berapa beda? Selanjutnya pada urutan ketiga ada berapa beda. Siswa dituntun terus dengan pertanyaan hingga siswa terangsang untuk mengajukan pertanyaan.Pertanyaan yang diharapkan adalah bagaimana kalau “pekerjaan dimulai dari bahan awal membuat hiasan”. Untuk bisa kokohnya hiasan tentu ada dasar yang tersusun dari 6 gonggong, kemudian untuk menjadikan sebuah hiasan tentunya pekerjaan menambah hiasan dengan urutan tertentu dan kerang yang sama banyak.

Pemahaman akan diperoleh jika siswa melakukan sendiri dan menemukan sendiri pengetahuan tersebut. guru menfasilitasi masing-masing kelompok untuk mendiskusikan dalam kelompok dengan acuan lembar kerja (LK). Kegiatan ini disebut tahap konkrit.

Dari kegiatan kongrit siswa mampu menuliskan hasil diskusi pada karton yang sudah tersedia.Selanjutnya siswa trampil mempresentasikan hasil diskusi. Masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk menanggapi hasil diskusi kelompok lain. Kegiatan ini disebut merefleksi.

Dimulai dari kegiatan konkrit kemudian merefleksi selanjutnya masuk pada tahap ketiga yaitu konseptual. Guru membimbing siswa membentuk rumus umum suku ke-n. Tahap terakhir adalah menyimpulkan pembelajaran tentang deret Aritmatika menentukan Suku ke-n Un=U1 +(n-1)b dan Jumlah Suku ke-n Sn= ½n(U1+Un). Generalisasi deret Aritmatika dapat diaplikasikan ke dalam soal latihan yang ada di buku paket. Terakhir untuk mengetahui ketercapaian indikator penelitian dilakukan posttes lebih kurang 15 menit. 3). Kegiatan penutup selama 10 menit untuk memberi latihan di rumah kemudian menutup dengan doa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here