Albothyl, Obat Sariawan Tak Boleh Digunakan

0
2081
Albothyl

TANJUNGPINANG – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, telah membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat, karena penggunaan policresulen di dalamnya.

Penggunaan policresulen dianggap memiliki risiko 36 persen dan cukup berbahaya untuk obat luar bagi penggunanya. Albothyl selama ini diketahui masyarakat sebagai obat luar untuk sariawan.

Terkait pembekuan izin edar Albothyl tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tanjungpinang mengaku telah mengetahui dan menerima surat edaran BPOM atas larangan penggunaan dan izin edar Albothyl.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Tanjungpinang, Rustam, BPOM telah mengirimakn surat resmi ke pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Kesehatan Tanjungpinang.

Dalam surat tersebut, disebutkan kalau Albothyl merupakan obat bebas  terbatas berupa cairan obat luar yang mengandung policresulen konsentrat dan digunakan untuk hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan, serta penggunaan pada kulit, telinga, hidung, tenggorokan (THT), sariawan, gigi dan vaginal (ginekologi).

”Kita akan turun bersama dengan BPOM wilayah Kepri untuk melakukan sweeping dibeberap apotek dan penjual obat di Tanjungpinang,” kata Rustam, kemarin.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak mengunakan Albothyl lagi sebagai obat sariawan. Masih banyak jenis obat sariawan di jual ditempat obat.

”Yang penting masyarakat perlu diberitahu bahwa sekarang sebaiknya tidak mengunakan Albothyl untuk mengobati sariawan,” tegasnya.

Masih kata Rustam, dalam surat edaran BPOM RI, juga menyatakan kalau BPOM RI secara rutin melakukan pengawasan keamanan obat beredar di Indonesia melalui sistem farmakovigilans untuk memastikan bahwa obat beredar tetap memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan dan mutu.

Terkait pemantauan Albothyl, dalam dua tahun terakhir BPOM RI menerima 38 laporan dari profesional kesehatan yang menerima pasien dengan keluhan efek samping obat Albothyl untuk pengobatan sariawan. Di antaranya efek samping serius yaitu sariawan yang membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi (noma like lession).

BPOM RI bersama ahli farmakologi dari universitas dan klinisi dari asosiasi profesi terkait telah melakukan pengkajian aspek keamanan obat yang mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat dan diputuskan tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan. Serta penggunaan pada kulit (dermatologi), telinga, hidung dan tenggorokan (THT), sariawan (stomatitis aftosa), dan gigi (odontologi)

”BPOM RI membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat hingga perbaikan indikasi yang diajukan disetujui. Untuk produk sejenis akan diberlakukan hal yang sama,” tegasnya.

Lanjut Rustam, dalam surat edaran tersebut, juga dibunykan, selanjutnya kepada PT. Pharos Indonesia (produsen Albothyl) dan industri farmasi lain yang memegang izin edar obat mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat diperintahkan untuk menarik obat dari peredaran selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Pembekuan Izin Edar. BPOM RI juga mengimbau profesional kesehatan dan masyarakat menghentikan penggunaan obat tersebut.

Bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan obat ini untuk mengatasi sariawan, dapat menggunakan obat pilihan lain yang mengandung benzydamine HCl, povidone iodine 1%, atau kombinasi dequalinium chloride dan vitamin C. Bila sakit berlanjut, masyarakat agar berkonsultasi dengan dokter atau apoteker di sarana pelayanan kesehatan terdekat.

Masih kata Rustam, dalam surat edaran BPOM, juga dijelaskan bagi profesional kesehatan yang menerima keluhan dari masyarakat terkait efek samping  penggunaan obat dengan kandungan policresulen atau penggunaan obat lainnya, dapat melaporkan kepada BPOM RI ke website www.e-meso.pom.go.id.

Dan, BPOM RI mengajak masyarakat untuk selalu membaca informasi yang terdapat pada kemasan obat sebelum digunakan, dan menyimpan obat tersebut dengan benar sesuai yang tertera pada kemasan. Ingat selalu CEK KLIK (Cek Kemasan, informasi pada Label, Izin Edar, Kedaluwarsa). (bas) 

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here