Almarhum Ayah Sadar, Keteladanan dan Kesiapan Kita

0
602
Raja Dachroni

Raja Dachroni
Direktur Gurindam Research Centre

WAFATNYA H. M Sadar atau lebih akrab disapa Ayah Sadar mantan anggota DPRD Kepri 2009 – 2014 yang juga merupakan politisi senior Kepulauan Riau Selasa (21/2) pukul 01.30 WIB dini hari di rumah kediamannya, meninggalkan duka yang mendalam tidak hanya keluarga tapi seluruh masyarakat Kepulauan Riau.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik sepeninggalan almarhum, hidupnya yang sederhana, sosok anggota DPRD yang ikhlas mengabdi dan beragam pelajaran yang bisa kita ambil dari sikapnya selama menjadi anggota DPRD dan politisi.

Satu hal yang membuat penulis terkesima adalah sejak penulis bertakziah dari pukul 08.00 hingga 11.00 WIB tidak ada sedikit pun papan bunga ucapan turut berduka cita seperti layaknya pejabat atau politisi yang wafat pada umumnya. Mengapa? Apa memang karena sudah tidak memegang amanah publik lagi.

Siangnya penulis duduk di sebuah kedai kopi bersama salah seorang anggota DPRD Tanjungpinang dan hal ini terkonfirmasi. Ternyata, ini bagian dari amanah atau pesan beliau sebelum wafat.

Anggota DPRD Tanjungpinang itu yang juga telah menganggap almarhum sebagai mentor politiknya mengatakan bahwa almarhum sebelum wafat berpesan agar tidak ada kaum kerabatnya mengucapkan ucapan duka cita melalui papan bunga dan walaupun dia merupakan seorang purnawirawan militer dia juga tidak minta disemayamkan di makam pahlawan atau upacara militer, biasa saja dan dia meminta untuk dimakamkan di pemakaman umum biasa.

Mendengar jawaban ini penulis pun menahan air mata. Sosok yang sederhana wafatnya pun mudah dan tetap dimakamkan secara sederhana. Padahal penulis tahu, sebagai purnawirawan plus pejuang dan tokoh tentu dimakamkan di makam pahlawan adalah haknya tapi ternyata dia tidak menuntut hak. Sebagai tokoh tentu harusnya ada papan bunga ucapan duka cita tapi dia berpesan kepada kerabat untuk tidak melakukan itu.

Hal lain yang penulis ingat dari almarhum waktu menjadi mahasiswa S1 tahun 2006 dulu, tepat semester III penulis mengundang beliau untuk membuka acara sebuah pelatihan kepemimpinan organisasi mahasiswa. Pembukaan dimulai jam 8.00. Almarhum hadir di tempat pelatihan pukul 7.45 WIB.

Duh, penulis cemas. Kebetulan jadi ketua panitia waktu itu. Untunglah, para mahasiswa pada waktu itu hadir tepat waktu dan pembukaan bisa dimulai pukul 08.00 WIB yang penulis terkesan waktu itu adalah kedisiplinannya jarang sekali anggota DPRD atau pejabat yang penulis undang bisa tepat waktu. Almarhum mengajarkan betapa pentingnya disiplin bagi kami waktu itu.

Sudah Siapkah Kita?

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa secerdas-cerdas manusia adalah manusia yang selalu mengingat akan mati. Demikian ungkap baginda nabi dan rasul termulia Nabi Muhammad SAW ketika menjawab pertanyaan sahabat tentang orang yang cerdas atau pintar.

Kalau ditilik lebih jauh hadis ini, tak perlulah kita meragukannya bahwa hakikat kehidupan adalah untuk ibadah kepada Allah SWT dan sebagai manusia yang beriman sudah semestinya kita meyakini kematian yang datang tidak mengenal waktu, usia dan dimanapun kita berada.

Ketika Allah SWT berkehendak untuk mencabut nyawa ketika itulah usai sudah amal-amal yang kita kerjakan kecuali tiga hal yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh yang mendoakan kedua orangtuanya ketika berada di alam akhirat sana. Subhanallah, kita berharap kitalah orang-orang yang cerdas itu. Orang-orang yang senantiasa mengingat kematian.

Lantas, pernahkan kita bertanya tentang persiapan apa yang telah kita lakukan untuk menghadapi kematian? Renungi dan resapilah pertanyaan ini. Mestinya, bukan hanya asuransi atau harta warisan yang kita persiapkan tetapi bekal bagaimana kita dapat hidup damai dan terteram di akhirat kelak.

Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS. Qaaf ayat 19, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya,”. Kematian adalah suatu kepastian.

Masihkah kita larut dengan fatamorgana dan kesenangan-kesenangan yang memabukkan kita dunia.

Dalam firman-Nya yang lain Allah SWT juga menegaskan, Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62: 8). Lalu, sebenarnya apa yang membuat kita larut dan melupakan kematian?

Yang jelas, orang-orang yang melupakan kematian adalah orang-orang yang sudah mulai memudar kepercayaannya kepada Allah SWT sehingga dia lebih mencintai dunia daripada kehidupan atau alam setelah dunia ini akan berakhir dan orang-orang itu juga lupa bahwa hakikat hidup ini sebenarnya adalah sebuah ibadah.

Sehingga Muadz Ibnu Jabal seorang sahabat Nabi mengingatkan kepada kita semua bahwa ia bahagia hidup di dunia dengan tiga hal. Pertama, berpuasa pada hari puasa. Kedua, melakukan qiyamulail. Ketiga, ikut serta bersama majelis ilmu.

Luar biasa dan menakjubkan. Kendati demikian, bukan berarti kita meninggalkan kehidupan dunia sama sekali karena Rasullullah SAW telah mengajarkan konsep tawazun (keseimbangan / hidup secara profesional) dalam menjalan aktivitas antara dunia dan akhirat antara aktivitas penyehatan rohani dan jasmani.

Kemudian bagaimana kita agar selalu mengingat kematian itu, setidaknya ada tiga hal yang membuat kita akan selalu mengingat kematian. Pertama, sering berziarah kubur. Kedua, membaca Alquran dan mentaburinya (memaknai secara mendalam setiap ayat yang dibaca).

Ketiga, bergaul dengan orang-orang yang saleh yang selalu ingat akan kematian. Selayaknya orang yang ingin pergi berkemah atau berpergian ke luar kota maka orang tersebut harus mempersiapkan bekal dan begitu juga dengan keberangkatan kita menuju alam kematian. Apa saja bekal yang perlu dipersiapkan oleh seorang muslim dalam rangka menghadapi kematian yang datangnya tidak disangka-sangka.

Ada enam bekal minimal yang harus kita lengkapi dalam setiap gerak-gerik kita. Pertama, ikhlas dalam beramal. Kedua, memperbanyak sujud. Ketiga, memperbanyak zikir. Keempat, memendekkan angan-angan dalam dunia. Kelima, memperbarui taubat setiap waktu. Keenam, mengembalikan hak kepada yang dimilikinya.

Tidak rindukah kita dengan surga yang dijanjikan Allah SWT yang digambarkan Allah SWT dalam setiap firman-Nya bahwa surga itu indah dan mengalir air di dalamnya?

Itulah sebabnya, dengan mengedepankan konsep tawazun (keseimbangan) dalam kehidupan ini. Sudah saatnya kita berpikir terus beramal seolah-olah kita akan hidup 1000 tahun lagi dan berhenti berbuat maksiat karena kematian akan datang setiap detik hentakan nafas kita atau esok hari bisa saja dicabut oleh Allah SWT.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita semua dan almarhum Ayah Sadar yang telah meninggalkan kita untuk meneruskan semangat perjuangannya. Semoga! Amin. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here