Alternatif Kebijakan untuk Mengangkat Pariwisata sebagai Pendorong Ekonomi Kepri

0
1028
Seti Gautama Adi Nugroho, SE. MPA

Oleh: Seti Gautama Adi Nugroho, SE. MPA.
Pemerhati Wisata di Tanjungpinang

Pariwisata belum dijadikan andalan ekonomi Kepri. Hal ini tercermin dari data Kajian Fiskal Regional Triwulan II 2017 Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau. Alokasi belanja pemerintah untuk pariwisata dan budaya hanya Rp1,25milyar pada tahun 2017, dengan realisasi Rp0,35milyar atau 39%. Bobot alokasi pariwisata dan budaya hanya 0.02% dari seluruh alokasi APBN Kepri 2017 yang seluruhnya adalah Rp6.522,69milyar. Sedangkan pada data APBD 2016 gabungan Pemda pada Prov Kepri yang dihimpun Ditjen Perimbangan Keuangan, fungsi pariwisata dan budaya hanya mendapat alokasi Rp85,9 milyar atau 0,99% dari seluruh alokasi anggaran. Dengan situasi keuangan pemerintahini, pengembangan pariwisata akan sangat sulit mengandalkan pendanaan pemerintah.

Pada sisi lain, pertumbuhan ekonomi Kepri selama 2 tahun terakhir cenderung turun. Per Triwulan II 2017, pertumbuhan PDRB hanya tumbuh 1,52%(c-to-c), inflasi4,73% (yoy), dan kemiskinan di Kepri mencapai 6,06% (Maret 2017).Pertumbuhan ekonomi Kepri sejak 2012 pada umumnya di atas 5%, tertinggi di tahun 2013 yang mencapai 7,38% dan terendah di tahun 2017 (Tw II) yang hanya mencapai 1,04% (yoy).Penyebab utamanya adalah gejolak ekonomi global yang berdampak pada volume perdagangan Kepri. Bank Indonesia mencatat net ekspor 2016 hanya tumbuh 8,27%, sedangkan 2015 masih dapat tumbuh 20,19%.

Struktur ekonomi Kepri bertumpu pada3 pilar pada saat ini. Industri pengolahan, konstruksi, dan pertambangan merupakan penyumbang 68% ekonomi Kepri. Sementara itu, ketiga sektor tersebut seluruhnya mengalami penurunan, sehingga berdampak besar pada ekonomi Kepri. Selain itu, persaingan kawasan industri meningkat di ASEAN. Situasi birokrasi daerah yang kurang mendukung, membuat banyak pelaku industri Batam pindah ke Vietnam. Hal ini diungkap oleh Panusunan Siregar, Kepala BPS Prov Kepri, pada Rakorda Pelaksanaan Anggaran Semester I 2017 yang diselenggarakan oleh Kanwil DJPb Prov Kepri pada 28 Agustus 2017 .

Pada sisi lain, pariwisata tumbuh secara konsisten setiap tahun. BPS mencatat bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada bulan April 2017 naik 6.91% menjadi 170.270 kunjungan dibanding bulan sebelumnya sebanyak 167.679 kunjungan atau tumbuh 8,76%yoy. Peningkatan ini berdampak positif pada tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Kepri. TPK rata-rata pada bulan April 2017 adalah 50,32%, naik 2,98 poin dibanding TPK Maret 2017 yang hanya mencapai 47,34%.

Baca Juga :  Kompetensi Kewirausahakan Kepsek Jadi Amunisi Dunia Pendidikan

Lalu, bagaimana supaya pariwisata dapat membantu mendorong ekonomi Kepri khususnya Tanjungpinang? Di sisi lain, pemerintah tentu lebih memprioritaskan belanja untuk 3 sektor utama, sehingga pendanaan untuk pariwisata sulit ditambah dalam waktu dekat. Sumber dana apa yang dapat dipakai?

Dalam Kajian Fiskal Regional Triwulan I 2017, Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Prov Kepri memberikan rekomendasi agar sektor penyediaan akomodasi untuk pariwisata dapat didorong dengan promosi yang tepat sasaran dan terintegrasi. Pemda lingkup Kepri sebaiknya melakukan promosi secara bersama agar jangkauan dan kualitas promosi bisa lebih baik. Selain itu, travel agentdi Kepri sebaiknya didorong untuk menciptakan paket pariwisata lintas Kabupaten/Kota. Rekomendasi tersebut membutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah. Dan untuk melakukan promosi, pemerintah perlu menambah alokasi dana, dimana hal ini relatif sulit dilaksanakan pada periode saat ini.

Adakah alternatif lain untuk mendorong pariwisata? Ya, salah satunya adalah penyediaan transportasi berbasis daring (online).

Kepri memiliki sangat banyak objek wisata yang tersebar, dan sudah didukung promosi even yang cukup gencar.Namun, transportasi umum yang tersedia tidak memadai untuk mengantar kita ke sana.

Jika anda adalah wisatawan ke Tanjungpinang, lalu anda mendarat baik di pelabuhan Sri Bintan Pura atau Bandara Raja Haji Tanjungpinang, anda akan sulit untuk mendapat akses ke lokasi wisata yang ada di peta wisata Tanjungpinang. Transportasi yang tersedia pada pelabuhan atau bandara adalah taksi dengan biaya perjalanan yang relatif mahal, tidak nyaman, dan dapat diragukan keandalannya. Solusinya, anda harus merental mobil secara harian, dimana anda sebagai wisatawan mungkin tidak memiliki informasi yang memadai tentang tempat rental dan besaran sewa hariannya.

Baca Juga :  Duka Palu, Dosa Kita

Demikian juga jika anda adalah warga lokal di Tanjungpinang. Misalnya, anda tertarik untuk berwisata ke Lagoi, anda akan kesulitan untuk mencapai resort berkenaan, jika anda tidak memiliki mobil. Singkatnya, Tanjungpinang atau Kepri secara umum tidak memiliki angkutan umum yang murah dan layak untuk perjalanan wisata. Dengan kondisi tersebut, bagaimana pariwisata dapat tumbuh lebih tinggi lagi?

Jika saya boleh berpendapat bahwa sulitnya perjalanan wisata dapat diatasi dengan pembukaan ijin angkutan umum berbasis daring (online). Dalam kondisi saat ini, alokasi dana pemerintah untuk pengembangan bus wisata tentu sulit. Namun jika akses angkutan umum berbasis daring dibuka, pemerintah tidak perlu mengalokasikan dana untuk penyediaan angkutan umum. Masyarakat akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan angkutan umum secara mandiri dan memadai bahkan untuk kebutuhan wisata. Pemerintah perlu membuka mekanisme pasar yang memudahkan semua orang baik calon pengguna ataupun calon penyedia angkutan umum.Sistem angkutan daring cukup memadai untuk menyediakan mekanisme pasar yang dibutuhkan.

Sistem angkutan daring akan mengatasi beberapa hal, yaitu interkoneksi antara titik keramaian dan resort wisata dapat teratasi; tersedia ruangan kerja baru bagi pemilik mobil dan sepeda motor yang memenuhi kualifikasi angkutan daring; biaya angkutan secara umum akan turun; dan kebutuhan parkir dapat ditekan. Selain itu, kegiatan ekonomi angkutan daring terbukti mengurangi angka kemiskinan, sebagaimana laporan BPS DKI Jakarta pada tahun 2015.

Pada sisi lain, angkutan daring juga memiliki hal negatif, yaitu kecemburuan dari pengusaha angkutan umum yang saat ini sudah ada di pasar. Perlu dicermati, pemerintah seharusnya melindungi kepentingan terbesar. Penyedia layanan angkutan umum yang saat ini ada, belum dapat memuaskan kebutuhan pasar. Salah satu cirinya, penduduk Kepri lebih memilih angkutan pribadi masing-masing dari pada bertahan dengan angkutan umum yang tersedia. Sehingga dampak secara umum, usaha angkutan umum cenderung menurun profitabilitasnya dan jalan raya akan semakin macet dengan kendaraan pribadi.

Baca Juga :  Puspa Ramadan

Dengan kondisi demikian, apa perlu terus memproteksi penyedia angkutan umum yang tidak andal dan tidak sesuai selera pasar? Terdapat kepentingan konsumen yang lebih penting untuk dilindungi. Konsumen juga “wong cilik” yang berhak mendapatkan layanan sebaik mungkin atas uang yang mereka belanjakan.

Resistensi penyedia angkutan umum konvensional saat ini dapat disikapi dengan pendampingan. Penyedia angkutan umum konvensional wajib meremajakan armadanya dan diintegrasikan dengan angkutan daring. Disnaker dapat membentuk asosiasi pengemudi untuk memudahkan negosiasi dengan operator sehingga dapat diperoleh harga yang wajar dan terkendali. Selain itu, asosiasi dapat membantu pelatihan sopir terhadap peraturan jalan raya serta penggunaan aplikasi. Penyediaan smartphonedapat menggunakan mekanisme KUR sehingga lebih terjangkau.

Transportasi memang bukan satu-satunya aspek dalam pengembangan pariwisata. Masyarakat bersama pemerintah dan swasta perlu bekerjasama untuk penyediaan fasilitas wisata yang memadai misalnya souvenir yang berkualitas, paket wisata yang murah dan tersusun rapi, dan penyediaan petugas yang memahami berbagai bahasa asing yang cukup. Namun tanpa tranportasi yang baik, seluruh simpul-simpul wisata tadi tidak akan terhubung sehingga kepuasan wisatawan yang berkunjung ke Kepri akan berkurang. Dalam jangka panjang, rendahnya kepuasan wisatawan akan menggerus reputasi Kepri sebagai objek wisata di Indonesia, ASEAN, bahkan mungkin dunia.

Saat ini ekonomi Kepri dalam tekanan, dan pariwisata dapat menjadi kunci pertumbuhan ekonomi baru, namun perlu dukungan kita semua. Kitadapat yakini bahwa penyediaan akses angkutan daring tidak memerlukan pendanaanpemerintah yang signifikan, namun berdampak maksimal bagi pengembangan pariwisata Kepri, yang selanjutnya dapat meningkatkan kontribusi ekonomi pariwisata lebih tinggi lagi. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here