Anak di Bawah Umur Rawan Jadi Korban Pelecehan Seksual

0
483
Nazreen Banu

Oleh: Nazreen Banu
Mahasiswa Ilmu Administrasi Umrah, FISIP,UMRAH

Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah (titipan) yang Allah berikan kepada setiap orangtua. Oleh karena itu orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak-anaknya, agar mereka tumbuh menjadi anak yang sehat, baik jasmani maupun rohani, dan barakhlaqul karimah.

Apa yang sedang terjadi di Indonesia beberapa minggu terakhir sungguh menghentak kita. Anak-anak yang seharusnya gembira dan bahagia harus bersedih karena mereka mengalami pelecehan seksual dari orang-orang yang ada di sekitarnya

Kekerasan seksual terhadap anak adalah kontak atau interaksi anak dan orang dewasa, dimana anak digunakan untuk mendapat kepuasan seksual oleh orang dewasa atau orang lain. Biasanya, penganiayaan seksual dilakukan oleh orang yang lebih tua dari korbannya, atau yang memiliki posisi lebih tinggi dari anak tersebut, jenis kelamin berbeda bisa juga sama, aktivitas seksual tidak sesuai dengan umur anak, terdapat unsur paksaan, tekanan, ancaman atau harus merahasiakan dan sering disertai penganiayaan fisik.

Patricia A Moran dalam buku Slayer of the Soul, 1991, mengatakan, menurut riset, korban pelecehan seksual adalah anak laki-laki dan perempuan berusia bayi sampai usia 18 tahun. Kebanyakan pelakunya adalah orang yang mereka kenal dan percaya. Gejala seorang anak yang mengalami pelecehan seksual tidak selalu jelas. Ada anak-anak yang menyimpan rahasia pelecehan seksual yang dialaminya dengan bersikap “manis” dan patuh, berusaha agar tidak menjadi pusat perhatian. Meskipun pelecehan seksual terhadap anak tidak memperlihatkan bukti mutlak, tetapi jika tanda-tanda di bawah ini tampak pada anak dan terlihat terus-menerus dalam jangka waktu panjang, kiranya perlu segera mempertimbangkan kemungkinan anak telah mengalami pelecehan seksual. Tanda dan indikasi ini diambil Jeanne Wess dari buku yang sama: Balita Tanda-tanda fisik, antara lain memar pada alat kelamin atau mulut, iritasi kencing, penyakit kelamin, dan sakit kerongkongan tanpa penyebab jelas bisa merupakan indikasi seks oral.

Upaya pencegahan tindakan kekerasan seksual terhadap anak sangat perlu kita lakukan sebagai orangtua. Kita sebagai orangtua harus senantiasa mendampingi dan membimbing anak agar berkembang optimal dan agar anak memperoleh hak-haknya (rasa aman, perlindungan, penghargaan dari lingkungannya).

Menyadarkan anak bahwa nilai-nilai dan kekerasan itu salah, mengajari dan melatih anak agar mampu melindungi diri dari ancaman kekerasan, dan mendorong lingkungan peduli dalam mencegah kekerasan pada anak.

Di Indonesia, pelaku pelecehan seksual dapat dihukum dengan berbagai pasal, salah satunya adalah pasal penganiayaan yang diatur dalam Pasal 351 KUHP yang menurut yurisprudensi berarti penganiayaan yang sengaja dan menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, atau luka terhadap anak. Selain itu, ketentuan Pasal 80 ayat (1) UU Perlindungan Anak juga sudah secara khusus mengatur tentang penganiayaan terhadap anak, dengan menyatakan :

“Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).

Bagi para orang tua, berikut ini ciri-ciri anak yang mengalami tindakan kekerasan atau pelecehan seksual :1. Menirukan tindakan seksual yang tidak pantas dengan mainan atau benda lainnya.2. Mimpi buruk, sulit tidur dan mengigau saat tidur.3. Sering mengasingkan diri dan tampak lebih murung.4. Tidak lagi menceritakan kegiatannya pada orang tua dan jadi pendiam.5. Sering merasa tidak aman.6. Tiba-tiba menjadi pemberontak atau justru penuh rahasia,7. Kemunduran perilaku di usianya, misalnya mengompol. 8. Takut dengan orang yang memiliki ciri tertentu (biasanya yang mirip pelaku).9. Takut dan trauma dengan barang tertentu (biasanya berhubungan dengan proses pelecehan yang dialami).

Selain itu, ada juga cara bagaimana mengatasi anak yang mengalami tindak pelecehan seksual agar anak anda tidak trauma berkelanjutan pada masa lalunya, simak langkah-langkah berikut :1.Jangan mengisolasi anak,Hal ini justru akan menimbulkan rasa kesepian pada anak sehingga kemungkinan untuk mengikat kejadian buruk yang pernah menimpanya akan semakin besar.2.Alihkan pada kegiatan yang positifAgar ia tidak terlalu larut dalam rasa sedih dan takut, arahkan dirinya untuk melakukan hal-hal yang lebih positif.3.Tetap optimis,Anak yang masih kecil meniru setiap tindakan yang Anda lakukan sebagai orangtua. Karena itu Anda tidak perlu terus menyesal serta menyalahkan segala sesuatunya. Tetaplah optimis dan teruslah bersemangat untuk mengajari anak Anda agar sembuh dari trauma psikisnya.

Itulah beberapa ciri-ciri anak yang mengalami tindak pelecehan seksual dan bagaimana cara orang tua untuk menangani anak-anak yang menjadi korban pelecehaln tersebut.
Semoga saja kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur tidak terjadi lagi, dan semoga para orang tua lebih waspada untuk menjaga putera puterinya agar tidak menjadi salah satu korban tindak kekerasan dan pelecehan seksual yang sedang terjadi saat ini. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here