Anak Hebat Anak ABK

0
983
Raja Dachroni

Oleh: Raja Dachroni
Dewan Juri Lomba Menulis Kreatif Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Disdik Kepri

Senin (20/3) kemarin malam, penulis dengan beberapa dewan juri mengikuti kegiatan pembukaan lomba literasi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tingkat SDLB, SMPLB dan SMALB. Pesertanya merupakan wakil-wakil terbaik dari kabupaten dan kota yang ada di Kepulauan Riau, tetapi terus terang ada banyak keberkesanan dari sekian banyak lomba menulis yang penulis ikut andil di dalamnya sebagai dewan juri.

Pada malam pembukaan lomba penulis dan para tamu undangan disuguhkan penampilan tarik suara atau menyanyi oleh seorang anak ABK dan pada Selasa (21/3) saat penulis menjadi dewan juri, penulis kagum dengan tulisan-tulisan yang cukup bernas yang ditulis oleh anak-anak ABK.

Penulis akan mengawali tulisan ini dengan cerita penampilan tarik suara yang dibawakan seorang anak ABK.

Kalau tidak keliru, anak itu bernama Rizda yang menyanyikan lagu berjudul Kutemukan Keistemewaan. Suaranya merdu. Banyak yang bertepuk tangan setelah anak ini selesai bernanyi pertanda memang suaranya bagus.

Secara kebetulan pula, dia mengikuti lomba karya tulis kreatif sambil menulis penulis sedikit mewawancarainya, kata dia, lagu itu dia yang menciptakan di sekolahnya. Wuih, penulis berdecak kagum setelah mendengarkan hal itu. Anak hebat.

Di acara pembukaan itu terlepas dari beragam kelemahan yang dimiliki anak-anak ABK, penulis menemukan beragam potensi sikap yang mereka miliki dan belum tentu dimiliki anak-anak yang biasa kita katakan normal.

Pertama, tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi. Ada satu penampilan lagi selain Rizda, penampilan pantomim dari salah seorang anak SLB, nah penulis lupa namanya tapi dia begitu tampak percaya diri. Ini modal menurut penulis karena anak-anak generasi milineal saat ini justru hilang rasa percaya diri. Anak-anak ABK ini memiliki rasa percaya diri yang luar biasa.

Kedua, solidaritas. Selain dengan isitilah ABK mereka kerap disebut dengan anak autis, bahkan istilah autis kerap diberikan kepada orang-orang yang susah bergaul atau tidak memiliki rasa kebersamaan terhadap lingkungannya. Faktanya, penulis tidak menemukan itu. Mungkin karena mereka dididik di sekolah formal. Mereka sangat akrab dan cepat bergaul, dewan juri yang lain sempat juga diusik. Dewan juri mereka panggil-panggil dan mirip-miripkan dengan tokoh kartun idolanya.

Ketiga, terampil dan ulet. Melihat hasil tulisannya penulis rasa tak percaya, untuk anak-anak sekelas mereka bisa menulis dengan rapi, runut tentunya sangat menyentuh hati. Mereka bisa mengoperasikan laptop walau memang tak selincah anak-anak pada umumnya, tapi ini prestasi.

Mereka begitu ulet untuk menuntaskan hasil karyanya. Fokus dan tak kenal jenuh. Pokoknya, mereka anak-anak hebat yang perlu dibina dan diasah potensinya.

Orangtua dan Guru yang Sabar
Di balik cerita penulis dimuka, penulis menemukan hal lain yakni orangtua dan guru yang sangat sabar. Beruntunglah para anak-anak ini. Di saat ada anak-anak lain yang orangtuanya begitu mudah memarahi anak-anaknya karena prilaku usil anak-anak, tetapi mereka dengan segenap prilaku usil yang plus dengan tingkah polahnya mendapatkan orangtua dan guru yang gigih mendidik.

Kita tentu perlu belajar banyak. Guru-guru di sekolah umum mungkin perlu belajar banyak dari guru-guru SLB. Kesabaran dan keuletannya penulis akui. Para guru-guru ini mungkin harus diapresiasi.

Penulis memang belum memiliki data spesifik berapa gaji yang mereka terima tapi memang mereka patut menerima bayaran yang mahal walau jumlah siswa memang tidak sebanyak sekolah pada umumnya tapi satu siswa mungkin rasanya seimbang dengan lima atau sepuluh anak normal dalam penangannya.

Sekali lagi penulis ucapkan kesalutan yang mendalam kepada para guru mereka. Kemudian, penulis juga melihat ada orangtua yang cukup sabar. Di saat hari ini kita begitu mudah mendapatkan berita orangtua yang memukul anaknya tapi kita perlu belajar dari orangtua anak ABK ini yang setia menanti dan bersabar dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Ah, menjadi orangtua sabar di era digital ini memang banyak ujiannya. Barangkali bersyukur dan bersabar adalah kunci dari keberhasilan kita mendidik anak.

Anak Hebat dan Juara
Satu pekerjaan rumah yang tidak sederhana bagi dewan juri. Anak-anak ABK yang dinyatakan juara nanti akan mewakili Propinsi Kepulauan Riau dalam lomba tingkat nasional di Pekanbaru. Tentu ini beban moral bagi dewan juri. Alumni lomba kami targetkan harus juara ah minimal masuk sepuluh besar. Kalau penulis secara pribadi menargetkan anak-anak yang kami nyatakan juara akan tembus tiga besar bersaing dengan 34 provinsi yang ada. Semoga.

Oh, hari ini Selasa (21/3) adalah hari yang sangat bahagia bagi penulis bisa membersamai anak-anak hebat. Anak ABK. Berkaryalah terus nak. Semoga kalian bisa mewakili Kepri dan membawa harum provinsi betuah ini. Jadilah anak hebat, anak juara anak yang mampu mengharumkan nama Kepri tercinta. Anak hebat anak ABK. Doa kami semoga kalian menjadi anak sukses dan selalu Berjaya. Amin! ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here