Anak Punk Bagian dari Korban Globalisasi

0
383
Rezki Feni Oktaviana

Oleh: Rezki Feni Oktaviana
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, FISIP, UMRAH

Di masa globalisasi ini, banyak sekali kebudayaan yang masuk ke Indonesia sehingga tidak dipungkiri lagi muncul banyak kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Kelompok- kelompok sosial tersebut muncul dikarenakan adanya persamaan tujuan dari masing-masing individu. kelompok-kelompok sosial itu di antaranya terbentuk dari beberapa anak muda yang mempunyai tujuan yang sama dengan gaya dandanan rambut dicat dihadapkan ke atas serta memakai anting-anting yang biasa disebut anak “punk”. Ini bagian dari dampak budaya luar yang masuk ke Indonesia tanpa disaring.

Setiap hari mereka biasanya berkumpul di pusat keramaian kota, seperti perempatan atau pertigaan jalan, dan memiliki gaya khas tersendiri. Namun, kadang mereka juga menempati lahan kosong maupun bangunan-bangunan yang sudah tak terpakai. Punk hanyalah aliran tetapi jiwa dan kepribadian pengikutnya akan kembali lagi ke masing-masing individu. Aliran punk lahir karena adanya persamaan terhadap jenis aliran musik Punk dan adanya gejala perasaan yang tidak puas dalam diri masing-masing. Sehingga mereka mengubah gaya hidup mereka yang normal menjadi gaya hidup punk. Di sisi lain ada juga komunitas punk ini yang mempunyai kegiatan positif.

Di Bintancenter baru- baru ini ditemukan anak punk yang berkeliaran di jalanan. Aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan adalah mengamen dari warung ke warung. Bahkan, sempat mengganggu pemandangan di beberapa traffic light. Padahal, sebelumnya tim Satpol PP Tanjungpinang sudah menangkap dan memberikan pembinaan kepada mereka, belum lama ini. Hal ini membuat warga terganggu karena keberadaan anak punk tersebut yang berkeliaran di jalanan dengan model atau cara berpakaiannya yang tak sedap dipandang.

Sementara, Kepala Dinas Sosial ( Dinsos) Kota Tanjungpinang Agustiawarman mengatakan, anak punk bukan ranah Dinas Sosial Kota Tanjungpinang. Alasannya, karena anak punk tersebut belum menjadi penyakit dan belum meresahkan. Untuk memberikan hukuman hendaknya Satpol PP bekerja sama dengan aparat penegak hukum, yaitu polisi. Agar Satpol PP tidak melanggar aturan yang telah ada.

Yang mencemaskan adalah adanya perilaku menyimpang seperti kebebasan berkumpul yang menjurus pada hal- hal yang negatif. Nah, perilaku inilah yang dikhawatirkan menular pada generasi muda di Kota Tanjungpinang. Tanpa pengaruh punk saja, kondisi moral generasi muda saat ini sudah lampu kuning. Kekerasan dalam komunitas punk sendiri tidak jarang terjadi. Perkelahian antar anak Punk atau sekedar saling melakukan tindak kekerasan ketika mereka sedang berjoget di depan panggung sebuah acara musik punk ini menjadi sorotan tersendiri. Kekerasan saat mereka menikmati musik ini seperti sudah menjadi sebuah ritual dalam komunitas punk. Saling memukul dan saling menendang menjadi hal yang biasa saat mereka berjoget mengikuti irama lagu. Hal ini mereka anggap sebagai ungkapan kebebasan. Dalam komunitas ini kekerasan tidaklah menjadi sesuatu yang anti sosial. Menurut mereka, melakukan kekerasan biasanya karena mereka diganggu lebih dahulu, namun mereka bukanlah

Meskipun begitu mereka harus dibimbing atau pun di bina dan mendapatkan hukuman yaitu diberikan didikan selayaknya. Namun, ketika hambatan labelisasi dan pencitraan tak berimbang oleh media juga golongan masyarakat saat ini membuat mereka menjadi tumbal kegagalan sistem penerapan budaya normal yang di dengungkan masyarakat umum dan pemerintah. Sehingga membuat golongan punk sebagai budaya yang tak di inginkan karena punk merupakan budaya impor dari luar. Hal ini menjadikan mereka menjadi pribadi- pribadi yang terkekang kebebasan ekspresinya dalam berpenampilan dan menjadi makhluk sosial yang tak pernah di inginkan di lingkungannya.

Tak banyak hal yang ingin saya suarakan atas kerisauan ini, akan tetapi saya hanya lebih ingin menekankan kepada khalayak umum jika mereka adalah adik- adik, saudara, atau bahkan anak- anak kita yang memerlukan uluran tangan serta perhatian yang bisa membuat mereka menjadi sebuah komunitas yang punya nilai jual tinggi karena keahlian serta kemampuannya. Mereka bukan orang-orang yang tersesat, akan tetapi mereka mempunyai jalan yang mereka anggap benar dalam menjalankan kehidupannya. Mereka juga bukan orang yang berada di kegelapan, akan tetapi mereka hanya lebih menggandrumi ketegangan malam bersama lentera, mereka bukan orang yang berisik, akan tetapi mereka hanya ingin mendapatkan perhatian karna itu mereka berteriak dengan keras .

Siapa pun boleh berpendapat bahkan beda pendapat. Persoalannya sekarang, siapa yang harus bertanggungjawab terhadap anak punk. Anak punk tidak diposisikan sebagai tertuduh, apalagi terhukum. Sebagai manusia, mereka butuh arahan. Namun, protes dan komplain tidak selamanya melahirkan solusi. Maka, yang paling penting sekarang bagaimana mencari solusi menghadapi fenomena punk di Kota kita ini. Sebagai daerah yang memiliki Semboyan yaitu Jujur Bertutur Bijak Bertindak , seyakanya tidak menyuburkan adanya keganjilan dalam masyarakat. Anak punk dalam kondisi normal memang sangat tidak lazim berkembang pesat di tanah melayu ini.

Meminimalisasikan punk adalah salah satu dari tugas penting memberangus tindakkan menyimpang, bukan hanya sekedar mengurus punk nya saja. Karena masih banyak perilaku abnormal lain yang lebih dari sekedar model rambut atau Trend bergaul. Seperti kaum muda lain yang bukan anak jalanan ataupun dari kaum punk, bahwa mereka ada yang terjebak dalam kehidupan seks bebas, LGBT, penyalahgunaan narkoba, korban keluarga pecah dan lainnya. Kita sebagai makhluk sosial dan menjunjung tinggi marwah hendaknya memberikan sedikit rasa solidaritas kita kepada mereka . bukan prasangka dan pandangan miring yang justru menjauhkan mereka dari kita.

Memang, tak semua di dalam komunitas punk memiliki nilai positif akan tetapi sebagai masyarakat kita hendaknya tidak menyeleweng kan tugas sebagai makhluk sosial karena hanya aparat kepolisian yang akan memberikan sanksi atau hukuman kepada anak punk yang beraliran negatif.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here