Ancaman Krisis Air Masih Panjang di Tanjungpinang

0
359
ANGGOTA DPRD Kepri Rudi Chua saat mengikuti musrenbang, baru-baru ini. F-martunas/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Anggota DPRD Kepri Dapil Tanjungpinang, Rudi Chua mengatakan, ancaman krisis air bersih di Tanjungpinang masih panjang. Sebab, pemerintah seakan-akan tidak menganggapnya persoalan penting yang harus diselesaikan.

Padahal, kejadian tahun 2009 dan tahun 2014 saat kemarau panjang, bisa dijadikan pengalaman untuk segera mencari solusi menangani persoalan air bersih di Ibu Kota Provinsi Kepri ini.

Rudi Chua mengatakan, pemerintah sibuk menurunkan personelnya mengirimkan air ke rumah penduduk saat kemarau. Jika air masih lancar, pemerintah tidak lagi memperhatikan persoalan ini.

”Kalau sudah bising, barulah sibuk. Turunkan lori, kirim air. Padahal, persoalan mendasar adalah kebutuhan air. Tapi sampai sekarang belum ada solusinya,” jelasnya via ponselnya, Selasa (6/3).

Ia mengibaratkan, pemerintah baru mencari payung setelah hujan turun. Tunggu basah dulu baru cari hujan. ”Harusnya sediakan payung sebelum hujan. Jangan tunggu basah dulu,” pesannya.

Ia menjelaskan, sebenarnya Pemprov Kepri sudah ada program penanganan krisis air Tanjungpinang untuk jangka pendek yakni Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dan Waduk Kawal.

Almarhum HM Sani gencar meminta pemerintah pusat membangun SWRO di Tanjungpinang karena pendapat BMKG, daerah ini tidak cocok untuk tadah hujan dan hujan buatan juga tidak cocok. Karena itu, salah satu solusi mengatasi air baku adalah dengan mengolah air laut.

Kenyataannya sampai saat ini, SWRO Batu Hitam belum dioperasikan. Pemko Tanjungpinang sudah membentuk Unit Pelaksana Teknsi Daerah (UPTD) untuk mengelola SWRO tersebut, namun anggaran operasional tidak disediakan.

Pemko hanya menyediakan anggaran untuk gaji dan perkantoran. Sedangkan anggaran untuk listrik, membeli bahan-bahan kimia agar bisa memproduksi air bersih tidak disediakan. Inilah yang menjadi kendala sampai saat ini, kenapa SWRO tidak dioperasinalkan sepenuhnya.

Pemberitaan sebelumnya, SWO sudah dioperasikan lima jam sehari dengan anggaran dari Satker Kementerian Pekerjaan Umum yang ada di Tanjungpinang. Hanya saja, bahan kimia untuk memproduksi air bersih tersebut akan segera habis.

Sementara Pemko Tanjungpinang tidak menyediakan anggaran untuk itu. Artinya, SWRO terancam tidak operasi lagi setelah bahan kimia itu habis. (mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here