Anies, Istana dan Citra Jokowi

0
773
Raja Dachroni

Oleh: Raja Dachroni
Direktur Gurindam Research Centre (GRC)

Sejak viralnya video dan pemberitaan tidak diikutsertakannya Gubernur Jakarta Anies Baswedan dalam penyerahan piala presiden beberapa waktu yang lalu, muncul beragam tafsir yang ujungnya membuat netizen bersimpati kepada Gubernur Anies dan menyeret-nyeret istana adalah dalangnya. Jika dilihat dari sudut pandang citra politik, tentu sedikit banyak mempengaruhi citra Jokowi sebagai Presiden.

Tak mau berpolemik panjang akhirnya SC Piala Presiden Maruar Sirait atau akrab disapa Ara pun meminta maaf kepada Gubernur Anies atas dosa pencegatan Paspampres. Persoalannya, mampukah permintaan maaf Ara itu menyelamatkan citra politik Presiden Jokowi. Sadar atau tidak, upaya pencegatan yang dilakukan oleh Paspampres memberikan efek penurunan citra Jokowi hingga partai pengusungnya PDI P dan membuat masyarakat terpesona dengan sikap Anies yang kalem dan dingin ketika dilarang ke podium oleh Paspampres.

Bisa kita lihat dari komentar di pemberitaan yang ada dan diperparah lagi dengan sikap istana yang memandang persoalan ini merupakan persoalan biasa dan informal. Wajar kemudian publik membandingkan perbedaan perlakuan yang jelas antara Gubernur Ahok yang dulu pernah mendampingi Jokowi, sementara Gubernur Anies yang secara kepartaian didukung partai yang berbeda tidak diperlakukan hal yang sama.

Seperti beberapa media pada Senin (19/2), “Maruarar Minta Maaf soal Anies Dicegah ke Podium Piala Presiden”. Ketua SC Piala Presiden Maruarar Sirait memohon maaf atas insiden pencegahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat final. Maruarar menegaskan insiden ini sepenuhnya kesalahan dia. “Saya berterima kasih kepada Presiden RI dan Gubernur DKI, kalau ada masalah di luar sana saya mohon maaf,” kata Maruarar dalam konferensi pers, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (19/2/2018).

Baca Juga :  Krisis Komunikasi

Pesan yang disampaikan Ara ini sedikit banyak juga telah menyelamatkan citra Jokowi. Pasalnya, istana juga merespon dengan foto-foto kemesraan Jokowi dan Anies yang sebenarnya bertolak belakang dengan sikap pencegatan Paspampres sebagai pihak yang diasumsikan dibawah keprotokolan istana.

Tahun Politik dan Citra Jokowi
Sejak peristiwa ini tentu pihak istana ekstra hati-hati. Ini tahun politik. Sekecil apapun peristiwa yang dialami pejabat politik akan ditafsirkan ke arah politik. Bolehlah kita berkesimpulan sementara bahwa permintaan maaf Ara paling tidak sudah menghapus pandangan-pandangan negatif tentang istana. Beragam lembaga survei memang mengungkapkan popularitas Jokowi masih di atas angin, tapi perlu diingat ada kata belum aman dalam setiap rilis yang diberitakan di media massa.

Peneliti LSI Adjie Alfaraby mengatakan elektablitas Jokowi masih kuat dibanding calon lainnya. Jika Pilpres 2019 dilakukan hari ini, 48,50% responden akan memilih Jokowi. Sedangkan 41,2 % pemilih akan memilih pemimpin baru dan 10,30% tidak menjawab atau tidak tahu. Ada alasan Jokowi belum aman (detik.com, 2 Februari 2018). Dari survei ini Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA Joko Widodo (Jokowi) masih menjadi kandidat capres terkuat tapi belum sepenuhnya aman.

Baca Juga :  Implementasi SDGs untuk Kemajuan Ekonomi Indonesia Masa Depan

Dikuatkan juga survei Poltracking yang diberitakan detik.com Ahad (18/2) kemarin hasil survei Poltracking Indonesia bertajuk ‘Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019’, dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (18/2/2018). “Jokowi adalah capres terkuat. Namun demikian yang perlu dicatat, meskipun elektabilitas Jokowi jauh di atas Prabowo dengan selisih 20% atau lebih sehingga Jokowi terbilang capres kuat, tetapi pada posisi elektoral masih belum aman sebagai capres incumbent, karena elektabilitasnya masih di bawah 60%, dan masih di bawah 50% jika simulasi berpasangan,” tutur Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR, dalam paparannya.

Dari hasil survei ini, jika Presiden Jokowi ingin memimpin kembali pada periode kedua pihak istana dan tim sukses memang harus hati-hati tidak gegabah dalam persoalan citra yang sederhana. Maaf Ara, bisa saja berefek positif untuk menyelamatkan citra Jokowi namun bisa juga berefek negatif jika publik sudah terlanjur bersimpati dengan Gubernur Anies apalagi Ara dari pemberitaan yang ada bukan sekali dua kali terlibat dalam event besar ini.

Baca Juga :  Mengawali Revolusi Mental dari Kebersihan

Menguntungkan Anies
Menyikapi persoalan ini Anies meresponnya dengan santai dan ini menambah lagi kekaguman publik padanya. Bisa dilihat dari pernyataannya.”Begini, dari tadi malam itu, yang penting Persija menang, saya di mana enggak penting, yang penting Persija menang, saya merasa bangga,” kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta di sela menerima Tim Persija yang membawa tropi Piala Presiden 2018, pada Minggu (18/2/2018) seperti dikutip Antara.

Jika melihat video yang viral Anies juga tidak marah dengan Paspampres dan segera balik badan kembali ke tempat duduknya. Dari hal ini, pandangan publik terhadap Anies tentu sebagai sosok negarawan. Belum lagi usai pertandingan Jakmania memboyongnya bak sang bintang.

dari persoalan ini, kita berharap, ini tidak hanya persoalan citra Jokowi atau persoalan simpati publik terhadap Gubernur Anies, namun ada persoalan yang lebih substantif lagi bagaimana olahraga kita ke depan khususnya sepakbola bisa lebih maju lagi, suporter yang damai dan kualitas pemain dan permainan yang semakin bermutu itu jauh lebih penting. Semoga! ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here