Antara Izzah dan Rebranding Perguruan Tinggi Islam

0
684
Dvi Afriansyah

Oleh: Dvi Afriansyah
ASN Kemenag Kab. Bintan

Masyarakat Indonesia tentu berharap keberadaan perguruan tinggi Agama Islam UIN, STAIN, dan lembaga pendidikan tinggi sejenisnya dapat memenuhi dua harapan sekaligus. Yang pertama, harapan yang terkait dengan eksistensi per­guruan tinggi Agama Islam sebagai lembaga keilmuan, di mana sebagai lembaga keilmuan perguruan tinggi Agama Islam dituntut untuk memenuhi tugas-tugas pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan Agama Islam, dan pengabdian pada masyarakat yang kita kenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Yang kedua, harapan yang terkait erat dengan kelembagaan perguruan tinggi Agama Islam sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam, di mana harapan yang kedua ini mempunyai dasar pemikiran, motivasi dan tujuan yang agak bahkan sama sekali berbeda dengan harapan yang pertama, karena sifat dasar keilmuan dan keagamaan yang memang berbeda.

Perguruan Tinggi Islam (PTI) didirikan dengan niat dan cita-cita mulia, untuk mencetak dan menghasilkan cendikiawan muslim yang saleh dan berilmu. Sayang, jika niat dan cita-cita mulia tersebut dirusak dan diabaikan begitu saja. Cita-cita mulia tersebut ditegaskan pada acara peringatan Sewindu IAIN tahun 1968 di Yogyakarta oleh Menteri Agama K.H.M Dachlan.

“Institut Agama Islam Negeri pada permulaannya merupakan suatu cita-cita yang selalu bergelora di dalam jiwa para Pemimpin Islam jang didorong oleh hajat-kebutuhan adanya sebuah Perguruan Tinggi yang dapat memelihara dan mengemban ajaran-ajaran syariat Islam dalam corak dan bentuknya yang suci murni bagi kepentingan Angkatan Muda, agar kelak di kemudian hari dapat memprodusir ulama-ulama dan sardjana sardjana yang sungguh-sungguh mengerti dan dapat mengerjakan secara praktik yang disertakan dengan pengertian jang mendalam tentang hukum-hukum Islam sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Yang Maha Pengasih dan Penjajang.” (lih. Sewindu Institut Agama Islam Negeri-Al Djami’ah Al Islamiayah Al Hukumijah “Sunan Kalidjaga” Jogjakarta 1960-1968, terbitan IAIN Sunan Kalidjaga, 1968)

Dari niat, tujuan, dan semangat para tokoh Islam dalam mendirikan Perguruan Tinggi Islam tampak betapa kuatnya dorongan semangat perjuangan Islam. Dari kampus inilah diharapkan akan melahirkan para cendikiawan dan ulama yang tinggi ilmu dan kuat mental keislamannya.

Padahal sejatinya, justru dengan belajar Islam semakin menambah keyakinan terhadap kebenaran Islam. Kedua, perlu digarisbawahi bahwa tujuan pendidikan tidak semata-mata meraih gelar dan mencari lahan pekerjaan, tapi lebih luas untuk mengembangkan ilmu dan mendakwahkannya kepada masyarakat, hingga akhirnya lahirlah sarjana-sarjana Islam yang memegang dan membela nilai-nilai keislaman. Dengan kata lain, tujuan pendidikan adalah pencapaian kualitas tertinggi hamba Allah.

Pesan tersebut juga menginginkan adanya integrasi pendidikan agar yang terlibat dalam PTI menguasai agamanya dengan baik dan pada sisi lain juga tidak tertinggal dalam persaingan global. Artinya, jadilah ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama. Dengan demikian, khazanah keilmuan Islam terus berkembang dan citra (izzah) PTI yang mulai memudar kembali bersina

Tetapi, sejak awal 2000-an, beberapa PTAI membuka program studi (prodi) umum. Misalnya, bahasa Inggris, komunikasi, psikologi, sosiologi, ekonomi, politik, matematika, sains, teknik, bahkan kedokteran. Diversifikasi prodi itu bertujuan merespons persaingan antar perguruan tinggi yang kian kompetitif.

Strategi itu ternyata mampu mendongkrak minat masyarakat untuk belajar di PTAI. Seiring dengan pembukaan prodi-prodi umum itulah, sejumlah PTAI beralih status menjadi universitas. Alih status dari institut menjadi universitas juga bertujuan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, khususnya integrasi ilmu agama dan ilmu umum.

Hingga kini, kajian ilmu agama dan ilmu umum dilakukan secara terpisah (separated). Penyelenggara pendidikan nasional juga terbelah menjadi dua, yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag). Dampaknya, terjadi ketimpangan mutu pendidikan karena perbedaan sumber daya dan penganggaran.

Bukan hanya itu, disiplin ilmu yang dikembangkan dua kementerian tersebut juga jarang ’’bertegur sapa’’. Produk keilmuan yang dihasilkan pun bersifat parsial.Dengan menjadikan kajian ilmu agama dan ilmu umum dalam satu institusi, diharapkan terwujud pendekatan yang saling terintegrasi (integrated approach). Pendekatan integratif itu penting agar produk keilmuan memiliki basis nilai moralkeagamaan.

Seiring dengan adanya pergeseran minat masyarakat, PTAI harus berbenah. Salah satu yang harus dilakukan adalah rebranding (memperbarui merek atau label) prodi ilmu agama. Dalam ilmu pemasaran,rebranding sangat penting. Dikatakan bahwa jika suatu produk, termasuk pendidikan, ingin diminati pelanggan, yang harus dilakukan ialah memperjelas branding.

Pemberian labelitu sangat erat berkaitan dengan profil lulusan. Karena itu, harus ditentukan profil lulusan yang diimpikan PTAI. Misalnya, lulusan PTAI adalah ahli ilmu agama, berakhlak mulia, terampil berbahasa internasional, sertamampu membaca dan memahamiAlquran. Jika lulusan yang dihasilkan seperti itu, rasanya tidak ada yang perlu diragukan. Lulusan PTAI pasti individu yang bermutu sehingga berdaya saing.

Selain itu, PTAI harus menjadi pusat kajian ilmu-ilmu keislaman (center of Islamic studies). Itu berarti PTAI harus menjadikan prodi ilmu agama sebagai yang terutama. Kondisi bangsa yang dirundung masalah moralitas dan integritas jelas membutuhkan sumbangsih civitas academica PTAI.

Sebut saja, misalnya, persoalan korupsi yang kian marak. Begitu juga, persoalan radikalisme bernuansa agama yang terus bermetamorfosis. Dalam kaitan itu, penting ditanyakan, apa kontribusi civitas academica PTAI untuk mengatasi persoalan tersebut?

Selain menentukan branding, PTAI harus jeli melihat pelanggan (customer) dan pengguna lulusan (user). Secara konvensional dapat dikatakan bahwa peminat PTAI adalah lulusan lembaga pendidikan Islam, misalnya madrasah dan pesantren.

Itu berarti harus ada kerja sama yang sinergis PTAI dengan madrasah dan pesantren. Tetapi, harus diakui, kini lebih banyak lulusan madrasah dan pesantren mengambil prodi ilmu umum bila dibandingkan dengan prodi ilmu agama.

Mengenai pengguna lulusan, memang sulit dijawab. Itu terjadi PTAI belummempersiapkan lulusannyasecara serius. Akibatnya, lulusan PTAI tidak memiliki kecakapan minimal yang dibutuhkan agar dapat bersaing. Itulah tantangan terbesar PTAI. Pimpinan PTAI harus menyadari bahwa pendidikan itu tidak sekadar transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan usaha menyiapkan generasi yang siap menghadapi problem dalam kehidupan.

Karena itu, penting direnungkan pernyataan guru marketing dunia, Hermawan Kartajaya. Menurut dia, setiap penjual produk harus memahami hubungan positioning, differentiation, dan branding (PDB). Hubungan PDB itu berarti bahwa posisi tawar suatu produk akan baik jika memiliki keunggulan yang berbeda dari yang lain. Menentukan keunggulan yang berbeda itulah yang disebut diferensiasi.

Dengan menggunakan hukum PDB dalam marketing, PTAI harus menentukan branding yang benar-benar berbeda. Penentuan branding itu penting agar lulusan PTAI mampu menunjukkan keunggulan yang berbeda dari lulusan prodi ilmu umum. Selain memperhatikan kebutuhan user, PTAI harus jeli melihat perguruan tinggi pesaing (competitor).

Kejelian menangkap kebutuhan user dan keunggulan competitor penting untuk menentukan kegiatan rebranding PTAI. Konsekuensinya, PTAI tidak boleh dikelola asal-asalan. PTAI harus dikelola secara profesional. Hanya dengan cara itulah, PTAI dapat terus eksis di tengah persaingan di antara pendidikan tinggi yang kian ketat.

Namun semua itu belumlah dirasakan cukup. Kiat-kiat yang telah dilakukan masih seperti setetes embun di gurun sahara yang luas. Masih perlu inovasi dan terobosan-terobosan jitu guna menyongsong pendidikan Indonesia yang berkualitas dan berkeadilan. Mengingat peran pendidikan dalam membentuk masa depan bangsa sangatlah besar. Bangsa yang maju selalu diukur dari indeks prestasi pendidikannya bukan aspek lain.

Terlepas dari semua kenyataan yang memprihatinkan itu, pasti ada lilin harapan bagi pendidikan di negeri ini. Semangat generasi muda yang menggebu merupakan satu di antara berbagai harapan pencerahan pendidikan. Dan ini patut dipupuk dan dilestarikan.

Ucapan terimakasih juga perlu kita haturkan kepada pihak-pihak yang peduli terhadap pendidikan, peduli terhadap sekolah dan peduli terhadap masa depan anak-anak bangsa. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here