Antusiasme Sampai ke Negeri Jiran

0
182
Muhammad Haji Salleh

BINTAN – Setiap gelaran sastra di Kepulauan Riau selalu memantik antusiasme besar dari khalayak luas. Dari tahun ke tahun kian sahih dan fasih juga rasa-rasanya tidak berlebih untuk menyebut Negeri Segantang Lada ini sebagai episentrum sastra Indonesia.

Tak terkecuali pada Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) tahun ini. Pada helatan 29 November sampai 2 Desember mendatang ini juga menarik antusiasme para penyair dari negeri jiran.

Beberapa penyair dari Malaysia dan Singapura ikut berkompetisi dengan menyertakan puisi mereka sebagai prasyarat keikutsertaan.

”Termasuk di antaranya Muhammad Haji Salleh, seorang peneliti kawakan dari Malaysia yang begitu antusias mengikuti festival ini,” kata penggagas FSIGB, Rida K Liamsi, kemarin.

Nama yang sama, sambung Rida, tidak cuma mengirimkan puisi-puisi bertajuk Hang Tuah yang tercantum dalam Antologi Puisi Jazirah, melainkan akan didaulat sebagai pembicara utama pada sesi seminar internasional di Hotel Aston Tanjungpinang.

”Beliau akan mendedah tema sumbangan penyair dalam sejarah. Ini merupakan tema yang penting agar para penyair semakin mengenali arti penting dari eksistensi karya-karya mereka,” ujar Rida.

Muhammad Haji Salleh hanya sebarang nama. Selebihnya masih ada banyak penyair dari negeri jiran yangakan mengikuti rangkaian kegiatan FSIGB selama tiga hari di Tanjungpinang dan Bintan.

Rida menyebutkan, tema Hang Tuah sebagai tajuk utama dari gelaran FSIGB memang dasar yang memantik antusiasme para penyair jiran untuk terlibat dalam festival sastra paling akbar di Kepri tahun ini.

Namun, karena persyaratannya adalah kualitas puisi yang diajukan ke dewan kurator, membuat tak semua penyair bisa diundang untuk berpartisipasi. ”Itu memang tantangannya. Sehingga puisi-puisi yang yerangkum dalam buku antologi ini adalah yang terbaik dari para penyair dalam dan luar negeri,” sebut Rida.

Para penyair dari Malaysia dan Singapura ini tidak cuma akan duduk manis dalam serangkaian gelaran. Akan tetapi, kata Rida, akan juga diajak membacakan puisinya.

Ada tiga lokasi pembacaan puisi mulai dari Kompleks Purna MTQ Bintan sebagai lokasi malam gala pembukaan, lalu keesokan harinya disambung di kaki Gunung Bintan, dan pada malam terakhir akan dihabiskan sepanjang malam di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman.

”Selain ikut menunjang kunjungan wisman ke Bintan dan Tanjungpinang, saya berharap festival ini dapat menjadi wahana pertukaran wawasan antarpenyair. Itu yang saya kira paling penting,” pungkas Rida. (tih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here