Aplikasi Pembangkit Gairah Kota

0
201
Mohammad Endy Febri SE, MH

Oleh : Mohammad Endy Febri, SE, MH
ASN Pemerintah Kota Tanjungpinang

Jika hanya ada satu gerbang untuk masuk surga, mungkin Al-Fatih Timur akan tergabung dalam antrian VIP nantinya. Gerbang yang bernama gerbang sedekah itu akan jadi tujuan impiannya. Tahun 2015 saja, lewat kitabisa.com yang telah dirintisnya dan membangkitkan semangat berdonasi para netizen, ia kumpulkan 7,2 miliar. Melonjak drastis dari tahun 2014, yang hanya menghimpun Rp 892 juta. Hebatnya, 2016 lepas ia raup enampuluh satu miliar. Angka-angka hari ini bisa kita ikuti di www.kitabisa.com.

Lewat situs yang telah menjelma jadi ruang alternatif berderma itu, pria lulusan Universitas Indonesia yang belum genap 30 tahun tersebut membangun kepercayaan secara online. Ditengah kondisi masyarakat yang tak mudah percaya terhadap apa yang mereka baca dan tonton, apalagi untuk berdonasi, ia tetap bersikeras mendirikan PT Kita Bisa Indonesia, untuk menyalurkan dana kepada mereka yang membutuhkan. Legal, diakui negara.

Terlepas dari fenomenalnya konsep sociopreuneur Al-Fatih Timur, ia telah berhasil memicu banyak pihak untuk saling peduli dan berbagi, dibantu tim kerja yang handal. Hal seperti ini, dapat kita tiru dalam format lain. Berbentuk kausalitas simbiosis mutualisme, semacam ikatan sosial antar pemerintah daerah (pemda), pelaku ekonomi dan warga kota yang dijembatani dengan tujuan peningkatan kesejahteraan.

Misalnya, pemerintah daerah membuat database digital tentang profil usahawan yang serius sekaligus memiliki rekam jejak positif, serta berkiprah total pada pengembangan produk tertentu. Kemudian, data itu jadi acuan pengembangan bisnis untuk skala yang lebih besar.

Data swastawan terpercaya ini lalu ‘dijual’ kepada pembuat aplikasi, pengembang start up lokal maupun nasional. Pemda dan pengembang start up dapat bekerjasama dengan beragam cara. Bisa saja aplikasi tersebut dikelola langsung oleh pemda maupun pihak pengembang, dengan maintenance atau pengelolaan lainnya diurus sesuai kesepakatan.

Sebutlah Gojek misalnya. Aplikasi yang murni dijalankan oleh swasta ini dapat kita teladani. Start up milik anak negeri yang telah merambah mancanegara itu, tak diragukan lagi faedah sekaligus kepopulerannya. “Indonesia merupakan salah satu market terpenting untuk pembuat aplikasi mobile. Terbukti, tak hanya pemain lokal, tetapi pemain dari Eropa, Amerika Serikat dan Tiongkok juga mencoba meluncurkan aplikasi untuk pasar Indonesia,” kata Rama Mamuaya, CEO DailySocial.id.

Tahun lalu, DailySocial.id bersama Jakpat menggelar survei yang melibatkan 1.018 responden pengguna smartphone diseluruh Indonesia. Mereka mencoba memetakan data pengguna aplikasi mobile di nusantara. Kesimpulannya, dari lima besar aplikasi terfavorit di Indonesia, Go-Jek berada dipuncak. Lalu, penyedia aplikasi berbasis layanan on-demand tersebut secara urut diikuti oleh Tokopedia, Bukalapak, Traveloka dan Blibli.com.

Bayangkan apabila ada anak-anak tempatan nan kreatif menjadi pengembang dan menjadi mitra tetap pemda untuk mengorganisir, mempromosikan sembari terus meningkatkan profesionalisme layanan aplikasi lokal itu. Rasanya, pertumbuhan akan semakin maksimal. Pasalnya, mereka tumbuh dalam dinamika.

Kebutuhan dalam Interaksi Warga
Suatu hari, pernah saya berbincang dengan seseorang yang memiliki visi mirip seperti yang saya utarakan ini. Ia menginginkan nelayan (bukan ‘bossnya’) dikampung memiliki aplikasi yang terhubung langsung dengan seluruh warga kota. Nelayan dapat menawarkan tangkapannya saat hendak pulang melaut, dengan harga dan jenis ikan yang tergambar jelas kepada calon konsumen. Bahkan, transaksi dapat dilakukan saat hendak berlayar. Menerima permintaan yang sekiranya dapat dipenuhi. Lalu saya beri usulan agar proses itu “go public” saja. Dapat disetel model lelang atau penjualan antar personal. Begitulah obrolan kami berakhir, menggambarkan ide dasarnya.

Aplikasi itu, selain untuk menggerakkan roda ekonomi kaum laut, juga untuk menekan harga ikan. Mengimbangi pemodal besar yang meraup laba berlipat – lipat selama ini. Dengan aplikasi lokal tersebut, proses dagang tanpa perantara, fresh from the oven dan tak harus memiliki lapak khusus dengan biaya ekstra. Lagipun, lazimnya lokasi jualan strategis sudah ditempati pemain lama.

Hemat saya, berangkat dari konsep itu, bukan tak mungkin menjangkau seluruh pengusaha kecil menengah dikampung. Misalnya pemilik perkebunan, petambak, para peternak ayam atau pemilik usaha lainnya. Saat dicoba ditanyakan pada pengembang aplikasi, hal tersebut sangat mungkin diwujudkan menurutnya.

Peran pemda adalah menyeleksi dan merekomendasikan produsen terpercaya untuk dijadikan alternatif penyedia. Kedepannya, proses pendataan produsen takkan jadi kendala lagi. Sebab, mereka yang berniat serius akan menggabungkan dirinya dalam database untuk dijadikan pilihan bagi pasar lokal. Kemudian, tinggal telepon, barang datang. Bahkan apabila harga produk selalu stabil, bisa saja berdatangan para konsumen dari luar daerah. Dijual kembali dalam jumlah besar ke kawasan yang lain.

Disinilah sinergitas dengan para ‘penjaga’ aplikasi dibutuhkan, agar seluruh transaksi sesuai ketentuan dan terpantau aman lancar. Teknisnya, dapat menggunakan pola ‘persenan’ dari tiap transaksi yang terjadi atau pola kontrak; pemda membayar langsung jasa para penjaga secara berkala.

Bukan mengecilkan arti pelatihan atau seminar untuk kalangan terbatas yang kerap diselenggarakan oleh banyak pihak. Hal seperti itu tetaplah bermanfaat bagi sebuah kelompok, secara parsial. Konsep yang kita bicarakan ini merupakan ide yang jauh lebih ‘serius’ dengan meningkatkan interaksi seluruh warga kota, tiap menit. Merawat siklus ekonomi ‘harian’ sebuah daerah.

Peran pemda takkan maksimal tanpa partisipasi aktif pelaku ekonomi. Terlebih, apabila masyarakat tak peduli dengan gerakan semacam ini. Semuanya akan berjalan baik apabila tiga stakeholder besar merasa bertanggungjawab, saling menopang dan menguatkan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here