“Artis” Tahunan Warga Penyengat

0
127
Hewan kurban dalam pompong yang didatangkan ke Penyengat, Senin (20/8) kemarin. F-Fatih/Tanjungpinang Pos.

Masyarakat Penyengat lebih antusias menyambut kedatangan lembu dan kambing ketimbang pejabat atau artis. Itu bukan rahasia lagi. Sejak dahulu dan sampai hari ini.

FATIH MUFTIH, Tanjungpinang.

Tidak ada keramaian penumpang seperti hari libur atau akhir pekan. Biasa saja. Seperti hari-hari pada umumnya. Bahkan cukup mudah untuk mencari ruang parkir di pelantar dermaga penyeberangan ke Penyengat, Senin (20/8) kemarin.

Hanya satu dua yang tampak wisatawan lokal. Selebihnya penumpang yang menunggu pompong berangkat adalah warga Penyengat. Kebanyakan dari mereka menenteng kresek-kresek besar. Isinya macam-macam. Sekilas yang terlihat, adalah kebutuhan bahan-bahan pokok. Mulai dari beras, minyak goreng, gula, kerupuk, tepung, ayam potong, dan juga bumbu-bumbu dapur lain.

“Biasa habis belanja. Kan mau Hari Raya ini,” kata Ridho, guru madrasah asal Penyengat, yang sedang menanti pompong.

Iduladha memang dirayakan Rabu (22/8) kemarin. Namun, riuh semarak di Penyengat memang sudah ada sejak H-2. Hari itu merupakan hari yang ditunggu-tunggu dalam setahun. Bisa ditandai dengan situasi ramai yang ada di dermaga kedatangan di Penyengat. Anak-anak, remaja, orang dewasa tumpah-ruah di sana. Ada yang berlari-lari, bersenda-gurau, atau bercengkerama belaka.

Ridho menyampaikan, ada sesuatu yang sedang mereka tunggu dan sedang dalam perjalanan ke Penyengat. “Tadi baru satu pompong yang sudah sampai. Masih ada dua lagi,” ujarnya.

Apa sebenarnya yang sedang dinanti dan sampai semeriah ini? Apakah artis nasional yang sedang akan berwisata ke Penyengat? Bukan. Apakah pejabat setingkat wali kota, gubernur, atau menteri yang akan melakukan kunjungan kerja? Juga bukan. Yang sebenarnya membuat riuh di dermaga pada H-2 Iduladha adalah hewan kurban. Mau itu kambing atau lembu, kedatangan mereka selalu ditunggu-tunggu.

“Kami kalau artis tak sibuk macam ini nak tengoknya. Tapi kalau kambing atau lembu, bukan main lagi sibuknya,” kata Nurfatilla Afidah, warga Penyengat.

Hal semacam ini, kata dia, sudah berlangsung sejak ia kecil. Kini di usianya yang awal 20-an masih merasakan antusiasme yang sama. Semacam tak lengkap saja, kata dia, kalau tidak ikut melihat kedatangan hewan-hewan kurban ke pulaunya.

Apa yang dituturkan Nurfatilla bukan isapan jempol. Adi Boceng, warga Penyengat lainnya, juga mengisahkan pada masa kecilnya, ia tahan menunggu dari pagi di dermaga pada hari kedatangan hewan kurban. Bahkan ia dan kawan-kawannya berebut bisa ikut menuntun kambing atau lembu dari dermaga ke pelataran masjid. Ada kebangaan sendiri, kenangnya.

Kini di usia yang sudah lebih dari 30 tahun dan melihat anak-anak yang berkumpul di dermaga, Boceng seolah sedang melihat dirinya. “Ya begitulah. Kambing dan lembu selalu kami paling tunggu setiap Iduladha. Kami lebih senang menunggu hewan kurban daripada artis,” ucapnya.

Baru sejenak Adi berlalu, terdengar sorak-sorai bocah-bocah di dermaga. Mereka menunjuki arah pompong yang sedang menuju arah ke tempat mereka berdiri. Semakin dekat pompong itu, semakin ingar-bingar mereka bersorak. Ketika pompong sudah merapat, mereka berlonjak-lonjak.

Pompong kedua datang mengangkut tujuh lembu dan 12 kambing. Penataannya dengan membagi bagian depan diisi lembu yang ditata berjejer dengan bagian samping kanan-kiri ditutupi tirai, sementara bagian buritan kambing-kambing itu berebut tempat agar berlindung dari kecipak air laut yang masuk.

Maka agar lebih mudah, yang dikeluarkan dulu kambing-kambing dari bagian belakang pompong. Di sini anak-anak yang sedari tadi berjaga di dermaga berebut kebagian kambing untuk dituntun dari dermaga sampai pelataran masjid. Untuk satu kambing bisa dua sampai tiga bocah yang menggiring.

Usia menurunkan semua kambing, selanjutnya adalah lembu. Sebagian anak-anak ingin mendekat, namun lembu yang terlihat sedikit stres usai perjalanan laut kurang menurut. Orang-orang dewasa pun ambil bagian. Tetapi perlu diingat, proses menaikkan lembu dari pompong ke dermaga juga bukan hal mudah. Ada kalanya tenaga satu orang tak cukup. Ketimbang sapi tercebur ke laut, malah bukan main jadi ribut.

Selang satu jam dari kedatangan pompong kedua, datang pompong ketiga alias yang terakhir. Hewan kurban yang diangkut tidak sebanyak pompong sebelumnya. Namun, kehebohan di dermaga tak surut menyambut kedatangan rombongan terakhir hewan kurban ini. Anak-anak yang sebelumnya usai menggiring kambing kini sudah berjaga kembali di dermaga. Mereka mengulangi kegirangan yang sama seperti sebelumnya.

Koordinator penyembelihan hewan kurban di Masjid Sultan Riau Penyengat, Raja Azman menjelaskan, pada perayaan Iduladha tahun ini ada 11 lembu dan 22 kambing yang memasrahkan penyembelihan hewan kurban lewat perwakilan masjid. Jumlah ini belum bisa dikatakan total hewan kurban di pulau Penyengat lantaran ada beberapa kampung yang juga menyelanggarakan penyembelihan hewan kurban secara mandiri.

“Dari SMP 9 juga ada kurban, dari kampung-kampung yang lain juga ada. Saya cuma mengurus yang dari masjid saja,” ujar Azman.

Azman melanjutkan, pengangkutan hewan kurban di Penyengat pada tahun ini diangkut dari dermaga pelabuhan di Dompak. Ada pun pompong yang digunakan adalah milik warga Penyengat. Tradisi semacam ini memang sudah berlangsung sejak lama dan merupakan suatu yang khas setiap perayaan Iduladha.

“Dan inilah “artis” yang kami sambut kedatangannya dengan sukacita,” seloroh Lala, anak Azman yang juga ikut meriung di dermaga.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here