Arungi Lautan, Berpacu dengan Lonceng

0
106
SISWA pulau saat menunggu pompong datang di Anambas. f-INDRA gunawan/tanjungpinang pos

Demi Pendidikan, Anak Pulau Harus Bangun Dinihari

Ketika anak-anak di perkotaan sedang tidur enak-enaknya di kasur empuknya, tidak demikian dengan anak-anak di pulau-pulau yang harus bangun dinihari. Demi mengejar impian, tidur enak dinihari harus dilupakan minimal tiga tahun.

Laporan : INDRA GUNAWAN, Anambas

PAGI itu anak-anak sekolah sudah berkumpul di pelantar. Wajah mereka nampak segar meski bangun pukul 04.00. Tas berisi buku di pundaknya terasa ringan ketika melangkah dari rumah ke pelantar.

Saling sapa dan senyum saat bertemu teman-teman sebayanya yang hendak berangkat ke sekolah. Pompong kayu sudah menunggu di bawah pelantar. Ya, perahu dengan suara mesin bising inilah jembatan masa depan mereka.

Setiap pagi, kecuali hari Minggu, anak sekolah di Desa Munjan, Desa Serat, Desa Tinggil, Desa Teluk Rung dan Desa Air Putih Kabupaten Anambas harus berpacu mengarungi lautan sebelum lonceng sekolah berdentang.

Tidak ada jalur lain. Anak-anak yang tinggal di pulau ini harus mengarungi lautan setiap hari meski hujan, gerimis atau berkabut demi mengejar ilmu pengetahuan di sekolah.

SMAN 1 Desa Nyamuk di Kecamatan Siantan Timur, merupakan sekolah terdekat dari kampung mereka. Sedangkan SD dan SMP ada di kampung masing-masing.

Sopya, salah seorang siswi SMAN 1 Desa Nyamuk mengatakan, dirinya bersama puluhan temannya yang lain setiap pagi harus bangun lebih awal yakni pukul 04.00 WIB.

”Jika tidak, akan ketinggalan kapal pompong. Kapalnya berangkat mengantar kami sekolah pukul 05.00 WIB dan tiba di sekolah pukul 06.30 WIB,” kisahnya kepada Tanjungpinang Pos.

Sedangkan lonceng sekolah berbunyi pukul 07.00 WIB tanda waktunya masuk kelas dan melakukan proses belajar mengajar.

”Setiap hari kami wajib bangun pagi. Karena kapal pompong sudah menunggu. Kalau satu terlambat, maka yang lain ikut terlambat. Jadi harus bangun pagi agar tak ketinggalan. Kecuali hari Minggu kami tak masuk sekolah,” kata Sopya lagi.

Awalnya tidak mudah bangun pagi. Namun sekarang sudah kebiasaan dan sudah bangun sendiri sesuai waktunya. Di dalam pompong, kadang mereka berbagi cerita, bercanda ria dan sesekali membaca buku.

Sekolah di SMAN 1 Desa Nyamuk yang merupakan ibu kota Kecamatan Siantan Timur pilihan terbaik bagi anak-anak pulau tersebut.

Sebab, sebelum sekolah ini berdiri, kakak kelas mereka harus sekolah di SMA Tarempa. Pengalaman kakak mereka di kampung itu, jika sekolah di Tarempa maka tidak bisa lagi pulang pergi (PP) setiap hari.

Mereka harus kos atau tinggal di rumah saudaranya di Tarempa. Sebab, naik pompong dari desa itu ke Tarempa sekitar tiga jam. Jika masuk pukul 07.00, maka mereka harus bangun pukul 03.00 dan mengarungi lautan di saat yang lain masih tidur pulas.

”Makanya kami sangat bersyukur ada SMA yang dibangun di wilayah Kecamatan Siantan Timur. Kalau tidak, kami harus sekolah di Tarempa atau di Tanjungpinang. Kalau tidak di luar kota sekalian. Itupun kalau orangtua sanggup,” timpal siswa lainnya.

Dengan keterbatasan penghasilan orangtua sebagai nelayan, anak-anak ini tidak meminta lebih. Yang penting bisa sekolah.

Ada tak ada jajan, tetap harus sekolah. Baju, sepatu, tas, kaos kaki sederhana dan harga murah tidak mematahkan semangat mereka sekolah. Ilmu pengetahuan itulah paling penting.

Naik pompong setiap hari, kata dia, tetap ada hambatan di laut. Bedanya, jika hambatan di kota macet atau kecelakaan lalu lintas, yang mereka alami bukan macet atau kecelakaan di laut.

Namun, hujan deras, angin puting beliung dan ombak besar lah yang selalu mengancam mereka di tengah lautan. Ombak besar ini lebih dahsyat karena seketika bisa menggulung pompong.

Dan Alhamdulillah, mereka selama ini selalu selamat di laut. Karena tekong pompong itu sudah pengalaman. Sudah tahu membaca cuaca bahaya atau tidak.

Sopya menceritakan, jika gelombang tinggi, dirinya bersama puluhan siswa dan siswi lainnya yang domisilinya di sejumlah desa yang di sekitar Kecamatan Siantan Timur terpaksa tidak bisa berangkat ke sekolah.

Musim yang selalu menghantui mereka adalah angin utara. Dipastikan banyak waktu yang terbuang karena tidak bisa sekolah. Sedih. Tapi demi keselamatan, mau tak mau mereka tidak sekolah. Pompong tidak jalan.

Pihak sekolah juga memakluminya. Apabila siswa kompak tak masuk dari desa-desa itu, maka pihak sekolah sudah tahu cuaca buruk di laut. Jika tidak cuaca buruk, berarti pompong rusak dan naik dok. Sehingga izin diberikan.

”Kalau sudah gitu, kami tidak diberi alpa. Tapi sekolah memberikan keterangan izin,” ucapnya lagi.

Sebelumnya, Kepala SMAN I Desa Nyamuk Indah, Karyawati membenarkan hal itu. Jika siswa yang berada di pulau-pulau tidak masuk sekolah dikarenakan cuaca tinggi dan pompongnya rusak, maka pihak sekolah memberikan keterangan izin. Tidak alpa.

”Kami hanya berharap tenaga pengajar atau guru dari ASN ditambah. Kuota CPNS tahun ini hanya ada satu orang saja yang akan bertugas di SMAN I Nyamuk nanti. Kami butuh lima orang guru yang sudah PNS. Sejak 2012 hanya 2 orang PNS saja yang mengajar di SMAN I Desa Nyamuk dibantu dengan guru honorer,” tutupnya.

Sekedar diketahui, awalnya SMA di Desa Nyamuk ini dikelola pihak yayasan hingga 2008. Tahun 2012 sekolah itu dijadikan negeri oleh pemerintah.*** 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here