Asyik dan Haru Berlibur di Temasik

0
210
Suhardi El-Behrouzy

Oleh: Suhardi El-Behrouzy
Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana UKM Malaysia

“Libur telah tiba, libur telah tiba/Hore, Hore, Hore/Simpanlah tas dan bukumu/Lupakanlah keluh kesahmu/Libur telah tiba, libur telah tiba/hatiku gembira!”. Lirik nyanyain Tasya tersebut secara serentak dan kompak dinyanyikan cahaya mataku si bungsu Izz Hana Sofie Hiishova dan si Sulung Abyan Zhafran Behrouz jelang libur sekolah. Nyanyian mereka seakan menyindirku agar meninggalkan rutinitas sejenak dan menghabiskan waktu serta bergembira bersama mereka.

Memang waktu berlibur adalah masa yang dinanti anak-anak. Dan kali ini saya teringin mengajak mereka mengunjungi Pulau Temasik atau yang lebih dikenal dengan nama Singapura.

Perjalanan kami awali dengan menaiki kapal feri dari Sekupang Batam menuju Harbour Front Singapura. Gelombang laut yang tidak seberapa tinggi membuat perjalanan terasa aman. Sesekali si bungsu dan si sulung menatap laut luas dan menunjuk gedung-gedung tinggi yang sudah terlihat dari jauh dan berkata, ”Ayah, itukah negeri Temasik ayah?”, Indah sekali?. Saya hanya terdiam, melihat mereka gembira, sayapun ikut gembira.

Setiba di Temasik, sungguh terasa berbeda dan jarang terpandang mata dibanding negeri sendiri. Pemandangan yang jarang itu adalah kebersihan dan kedisiplinan serta kepatuhan terhadap aturan. Gedung-gedung tertata dengan rapi dan apik. Jalanan lancar, tidak terlihat polisi yang mengatur lalu lintas. Kata Tour Guide yang memandu kami, di sini sudah dilengkapi dengan CCtV. Jadi polisi tak perlu repot-repot mengatur lalu lintas. Semua mematuhi peraturan lalu lintas. Mobil-mobil sedan mewah berseliweran di jalan indah Singapura.

Kami berhenti di Taman indah yang bernama gardens by the bay. Tanaman hijau yang beraneka warna ditata dengan sempurna. Lalu lintas orang berlainan bangsa mengabadikan keindahannya. Dari jauh terlihat bangunan tinggi dengang arsitektur modern.

Cerita tempat memanjakan mata berlanjut di Merlion Park atau patung singa. Bak kata orang ini ikon negara Singapura. Bangunan patung singa sejatinya adalah bagunan patung biasa, namun karena dikemas dan ditata dengan apik serta terletak di tempat yang indah menjadikannya terlihat memiliki “magis” dalam deretan gedung-gedung pencakar langit. Semua orang berlomba mengambil foto yang berlatar singa yang berbadan ikan itu.

Tak hanya Merlion Park, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri surga hiburan bagi semua usia. Sebuah tempat hiburan yang terkoneksi dalam satu tempat yang bernama Pulau Sentosa. Sentosa sendiri terbagi dalam beberapa zona.

Ada Imbiah Lookout, Siloso Point, Pantai, Resort Word Sentosa yang ada Universal Studio. Dengan fasilitas yang serba lengkap dan modern serta dilengkapi tempat kuliner yang memanjakan selera membuat pengunjung terasa nyaman dan menikmatinya.

Dari destinasi satu ke destinasi lain, seakan menunjukkan kemajuan Temasik dari pembangunan fisik dan pengelolaanya. Namun batin saya terus mencari di mana Temasik. Dimanakah Tanah melayu yang dulu diperintah oleh Kesultanan Melayu itu?. Saya seakan-akan tidak melihat sisa-sisanya sepanjang destinasi modern yang saya kunjungi. Tulisan Melayu tak terlihat dalam signboard dan papan informasi, ataukah karena mata saya tidak bisa melihat dengan sempurna. Mata saya hanya melihat tiga tulisan dalam tiga bahasa, yakni bahasa Cina, Inggris dan India.

Kegelisahan saya akan pencarian Temasik, akhirnya sedikit terobati dengan mengunjungi Masjid Sultan yang berada di Kampong Glam. Masjid yang struktul awalnya dibangun pada tahun 1824-1826 ini dan telah mengalami renovasi berapa kali.

Dan semenjak tanggal 14 Maret 1975 mendapat pengakuan dari pemerintah Singapura sebagai national monument. Meskipun tidak terlalu besar, namun keindahannya tak kalah dibanding masjid-masjid lain di nusantara. Satu hal yang patut diacungi jempol adalah kebersihannya, khususnya tempat wudhu. Deretan alat semprotan parfum terlihat berjejer di setiap kran air wudhu. Tak ada aroma pesing yang biasa saya temui di masjid-masjid lain.

Rasa penasaran saya akan Temasik membuat saya menemui seorang jemaah tua yang baru saja keluar dari masjid. Dalam pandangan saya, jemaah ini bukan pelancong seperti saya. Dengan bergegas saya menyambanginya dan menanyakan beberapa hal, termasuk pasal azan di masjid.

Saya memancing dengan pertanyaan, benarkah masjid ini tidak boleh Azan hingga terdengar ke luar masjid pak cik?. Dengan penuh semangat ia mengungkapkan. Di Masjid Sultan setiap waktu salat, azan akan berkumandang hingga terdengar ke luar. Jawaaban jemaah tua itu saya buntuti dengan pertanyaan berikutnya.

Bagaimana dengan masjid-masjid yang lain pak cik?. Dia terdiam sejenak, kemudian berucap,”dulu semua masjid boleh mengumandangkan azan hingga terdengar keluar, tapi sekarang, hanya masjid Sultan saja yang dibolehkan, sedangkan masjid yang lain hanya boleh azan di dalam saja.

Mendengar cerita pak cik tersebut, membuat batin saya menjadi terusik dan haru. Tanah yang dulunya dimiliki dan diperintah oleh orang melayu, kini berubah sudah. Ketuanan itu sudah lama hilang. Tercerabut bersama hilangnya tuah para pendahulu.

Anak cucu hanya bisa membaca sejarah, bahwa leluhur mereka dahulu adalah pemilik sah negeri Temasik. Mereka mungkin hidup berkecukupan dan tinggal di negeri yang serba maju, namun ada yang hilang dalam jiwa mereka, yakni ketuanan di negeri sendiri.

Pikiran saya pun terbang jauh ke negeri yang terbentang luas, yang dilimpahi ilahi keindahan dan kekayaan alam melimpah. Negeri itu bernama Indonesia. Mungkinkah negeri luas ini akan bernasib serupa dengan Temasik? Uar-uar yang saya dengar, tanah di Indonesia lebih 50 persen dimiliki dan dikuasai oleh segelintir orang. Kalau uar-uar itu benar, boleh jadi ini ancaman bagi negeri ini. Sepintas terbersit dan terlintas dalam pikiran saya, jangan-jangan negeri tempat saya lahir dan dibesarkan juga akan bernasib sama dengan Temasik?.

Pikiran jauh saya terusik oleh keceriaan si sulung Abyan dan si Bungsu Sofie. Mereka terlihat asyik menikmati perjalanannya ke Temasik. ”Ayah-ayah, ini bukan Temasik ayah, ini bukan tanah orang Melayu. Ini negara Singapore ayah!,. Ayah bohong!. Saya hanya bisa diam, dan pikiran saya melayang jauh. Jangan-jangan nanti cucu dan cicit saya berkata pada ayahnya, ”Ini bukan Indonesia ayah, ini negeri…., entahlah, kok saya takut sekali kehilangan negeri dan ketuanan di negeri sendiri.

Matahari yang terlihat dari Vivo City sudah akan segera keperaduannya. Itu berarti saya harus meninggalkan Temasik. Anak-anak saya terus berlari-lari dan terlihat asyik menikmati liburan di Temasik, namun dibalik batin saya terukir dan tersimpan haru.

Saya mengajak mereka duduk dan mengatakan kepada mereka. ”Habis libur sekolah ni, belajar baik-baik dan jaga negeri kita ya?”. “Ayah cakap apa ni!, bukankah negeri kita aman ayah, tak ada penjajah macam dalam buku sejarah?”. Hmm..kelak engkau akan paham hai anakku.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here