ATB Jaga Keandalan hingga Akhir Konsesi

0
175
PROSES pengolahan air bersih di WTP Duriangkang, Batam. f-martua/tanjungpinang pos

BATAM – Tiga tahun jelang berakhir konsesi, PT Adhya Tirta Batam (ATB), mampu menjaga kebocoran di angka 15 persen. Kualitas pelayanan juga dinilai sudah baik.

Tidak heran, hingga kemudian ATB dapat 22 penghargaan dari berbagai lembaga. Walau konsesi akan tahun depan (2020), tapi ATB tetap ikut tender pengelolaan Dam Tembesi untuk menjaga keandalan distribusi air.

Ketua DPRD Batam, Nuryanto, Minggu (3/3) juga mengakui pelayanan yang dijalankan ATB selama ini sudah baik. Pengakuan itu sejalan dengan hasil lembaga survei Nielsen menyebutkan, 92 persen masyarakat Batam puas dan masih menghendaki ATB mengelola air bersih Batam.

”Saya pikir terlepas kekurangan, pengelolaan air bersih dan pelayanan di tangan ATB, sudah baik,” kata Nuryanto.

Namun ke depan, jika ATB masih dipercayakan untuk mengelola air bersih di Batam, Nuryanto meminta agar, pelayanan ditingkatkan. Terutama masyarakat di rumah liar (ruli).

”Diantara pelayanan ATB yang sudah baik, penting memperhatikan keluhan masyarakat di ruli, agar air bersih disana lancar,” pesannya.

Selain itu, di sisa masa konsesi air bersih antara ATB dan Badan Pengusahaan (BP) Batam, pelayanan air tidak bisa terganggu. Itu juga nantinya, gambaran atas profesionalisme ATB dalam proses pengelolaan air bersih di Batam nanti. ”Konsesi akan berakhir, tapi pelayanan tetap dijaga,” ujar Nuryanto mengingatkan.

Di sisi lain, Nuryanto juga menilai jika BP Batam sudah bisa mulai proses mengakhiri konsesi, sebelum melakukan tender pengelolaan air di Batam selanjutnya. Sehingga, masyarakat juga bisa melihat kepastian atas pengelolan air ke depan.

”ATB juga kan butuh kepastian dan masyarakat bisa melihat bagaimana ke depan,” imbuh Nuryanto mengingatkan.

Pelayanan ATB selama ini yang sudah berjalan baik, juga diakui Wali Kota Batam, HM Rudi. ATB dinilai salah satu aset yang sangat berpengaruh dalam menyediakan air terbaik. Mampu bersaing di tingkat internasional. Karena itu, diminta PT ATB, mempertahankan pelayanannya.

”Bagi saya ATB sudah selalu memberikan pelayanan terbaik,” tegas Rudi.

Kepuasan Rudi itu juga senada dengan dirasakan sekitar 93,2 persen pelanggan ATB, sesuai survei kepuasan pelanggan internal. Pelayanan yang maksimal ini bisa diberikan ATB, karena tingkat kebocoran air di Batam. Bisa ditekan hingga di angka 15 persen.

”Kalau kita tidak bisa mengatasi kebocoran air sampai 15 persen, kondisi air di Batam akan parah,” kata Presiden Direktur PT ATB, Benny Andrianto.

Benny mengapresiasi kepuasan masyarakat atas pelayanan mereka. ”Indeks kepuasan pelanggan atas operator air swasta, penting bagi kami. Itu bagian introspeksi ATB. Apakah kami diminati atau tidak,” ujar Benny.

Benny yang didampingi Engineering Director, Paul Raymond dan Maria menegaskan, ATB akan tetap bisa eksis ke depan di Indonesia. Terlepas apakah masih akan tetap mengelola air di Batam atau tidak, namun diakui daerah lain mereka sudah masuk dan ada juga daerah yang baru menawarkan ATB mengelola air bersihnya.

”Kami ada konsesi di Umbulan. Ada juga AT Lampung. Ada juga beberapa daerah yang menawarkan kita mengelola air bersih di daerahnya. Kalau diizinkan (pemerintah) kita akan dapat lima (daerah),” ungkapnya.

Demikian, ditegaskan jika pihaknya ingin masuk proses untuk mengakhiri konsesi dulu dengan baik. Sekarang, ATB mengaku tinggal menunggu jadwal dan langkah dari BP Batam untuk proses menuju akhir konsesi. Diharapkan, proses lebih cepat dimulai, sebelum ATB menatap lelang pengelolaan air di Batam ke depan.

”Kami ingin (konsesi) diakhiri dulu, baru yang lain (kontrak baru), walau pun tagline kami, ‘Tak Tergantikan’. Diakhiri dulu, baru dimulai lagi,” imbuh Benny.

Terkait posisi ATB saat proses lelang pengelolaan air dilakukan Badan Pengusahaan (BP) Batam ke depan, Benny memberi sinyal untuk ikut serta. ATB diakui terpanggil untuk melanjutkan pengelolaan air bersih di Batam. Terlebih, mereka sudah paham, kebutuhan dalam pengelolaan air di Batam yang mengandalkan curah hujan.

”Bagi kami, itu tanggung jawab untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Tapi kalaupun bukan ATB yang dipilih, bagi kami tidak masalah,” tegasnya.

Dijanjikan, ATB akan tetap menjaga pelayanan hingga akhir konsesi pengelolaan air di Batam. Namun diingatkan, peningkatan pelayanan itu jangan diasumsikan, sebagai obsesi ATB untuk bertahan di Batam.

”Kami pemain profesional. Jangan sampai kemudian konotasi ATB ingin terus di Batam. Tidak sampai segitulah,” imbuh dia.

Dam Tembesi Suplai Batuaji-Sagulung
Benny memberikan sinyal ketertarikan untuk tetap mengelola air bersih di Batam, mulai produksi hingga distribusi. ATB saat ini menjadi peserta lelang pengelolaan dam berkapasitas 600 liter per detik. Walau diakui, keikutsertaan lelang karena kebutuhan mereka untuk memenuhi kebutuhan distribusi air ke Batuaji dan Sagulung.

”Kita butuh cadangan air. Tiap minggu, permintaan sambungan baru air bersih masuk. Kami harus menjaga kehandalan suplai. Kita harapkan, Dam Tembesi yang menjadi sumber air ke Batuaji dan Dapur 12, Sagulung,” ujar Benny,” beber Benny.

Terkait peluang ATB untuk mengelola Dam sekaligus distribusi air bersih, Benny mengaku, sesuai aturan Peraturan Pemerintah (PP) No.112 tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum. Sementara proses lelang dam yang akan memproduksi air bersih 600 liter per detik itu, sedang berlangsung.

”Bisa. Itu sesuai Peraturan Pemerintah (PP) 112. Ada ekspesialisnya di pasal 56,” tegas Benny.

Terlepas dari konsesi air bersih, dibeberkan jika Dam Tembesi merupakan kebutuhan ATB dalam memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus meningkat.

Tahun 2018 lalu, permintaan sambungan baru di area Batuaji-Tanjunguncang sekitar 2.508. Sehingga, jumlah pelanggan sudah 81.112. Sementara pelanggan industri, permintaan tahun 2018, sebanyak 24 pelanggan.

”Jadi Tembesi itu kebutuhan kita. Permintaan sambungan baru terus meningkat. Apalagi daerah Tembesi, Batuaji, Dapur 12 sedang banyak pembangunan,” imbuhnya.

Terkait dengan Dam Tembesi dan akhir konsesi ATB, Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Edy Putra hanya menjawab singkat. Sementara mereka lebih fokus untuk lelang Dam Tembesi. Sementara untuk akhir konsesi, akan disiapkan kemudian.

”Konsesi masih tahun 2020. Kami harus mempersiapkan Tembesi dulu,” imbuh Edy singkat. (mbb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here