Ayah dan Pendidikan Keluarga

0
435
Miswanto

Oleh: Miswanto
Dosen Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Ayah merupakan gelar untuk laki-laki yang mau dan pandai mengasuh anak yang tidak hanya sekedar “membuat” anak. Sudah menjadi keharusan dan sepantasnyalah bahwa seorang ayah mau terlibat mengasuh anak-anaknya bersama ibu, sehingga separuh persoalan dalam keluarga bahkan negeri ini bisa teratasi. Seorang ayah tidak hanya memberi uang kepada ibu atau istrinya saja, yang menyamakan dirinya dengan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM), jangan sampai mendatangi anak pada saat membutuhkannya saja. Kalau ini terjadi, maka hilanglah fungsi pendidikan dari seorang ayah untuk anaknya. Tidak heran kalau kebanyakan ayah yang tidak mengetahui kapan pertama kali anaknya masuk akil baligh. Sementara, terkadang anak dituntut untuk melakukan ibadah/solat, padahal si anak sedang dalam kondisi tidak bersih “junub” kalau lah ini terjadi adanya, pertanyaannya adalah di mana tanggung jawab seorang ayah?

Mengambil istilah dari Umar bin Khatab, kalau kita pernah mendengar istilah anak durhaka, sudah tentu ada ayah yang durhaka juga. Ayah yang durhaka bukan ayah yang bisa dikutuk lalu menjadi batu. Tetapi, ayah yang menuntut anaknya menjadi soleh solehah, namun si ayah tidak menberikan hak anak di masa kecilnya dengan tidak mendidik dengan baik anak-anaknya. Setiap ayah ingin didoakan oleh anak-anaknya. Tetapi, sang ayah malah tidak pernah mendoakan anaknya. Ayah ingin selalu dimuliakan oleh anak-anaknya, tetapi ayah tidak pernah memuliakan anaknya.

Setiap tahunnya, sebagian wilayah di negeri ini memperingati hari ayah yang jatuh setiap tanggal 12 November. Tetapi, satu sisi kita hampir kehilangan sosok seorang ayah, coba kita perhatikan secara seksama, hampir semua anak usia dini di isi oleh kaum ibu-ibu dan pantas negeri ini di lebeling sebagai fatherless country. Padahal, keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan dari usia dini. Coba kita perhatikan kembali, dunia ayah saat ini yang hanya dekat dengan gadget, televisi, komputer, koran. Malah ada Ayah yang malu untuk mengasuh anak, apalagi yang masih bayi. Walaupun ini tidak semuanya terjadi pada setiap ayah. Saya masih memiliki keyakinan bahwa, masih ada seorang ayah yang masih mendidik anak-anaknya dengan baik, meluangkan waktunya bersama anak-anaknya ketika belajar, bermain dan seterusnya.

Secara tidak langung, banyak anak yang merasa yatim sebelum waktunya, karena kehadiran seorang ayah tidak dirasakan dalam hidupnya. Satu sisi, saya meyakini bahwa kita semua sudah mengenal Lukman, Ibrahim, Ya’kub dan Imron, Nabi Muhammad SAW yang sejak kecil sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuangnya karena meninggal dunia. Tetapi nilai-nilai keayahan tidak pernah hilang dan didapat dari sosok kakek dan pamannya yang mengasuhnya. Begitu juga dengan Nabi Ibrahim yang super sibuk, jarang pulang, tetapi dia tetap bisa mengasuh anak-anaknya.

Mereka semua orang yang luar biasa dalam mendidik anaknya yang bias di teladani oleh setiap ayah. Ibnu Qoyyim pernah berkata bahwa, jika terjadi kerusakan pada anak penyebabnya utamanya adalah ayah. Seorang ayah harus terlibat dalam pendidikan baik di rumah, Taman Kanak-Kanak, Tempat Penitipan Anak maupun di sekolah, paling tidak ada kontrol sosial yang harus dilakukan. Untuk itu, ayah harus hadir dalam pendidikan bagi anak-anaknya, agar merasa tentram bukan merasa was-was atau merasa terancam dengan hardikan baik dalam bentuk verbal mapun nonverbal.

Seorang Ibu menjadi madrasah pertama bagi anak-anak dan ayah menjadi kepala sekolah yang bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak-anaknya. Tugasnya sekaligus mengevaluasinya, juga membuat nyaman suasana sekolah. Kalaulah tugas ayah hanya mengurusi TV rusak, kipas angin rusak, keran hilang, atap rumah bocor, ini bukan ayah sebagai “kepala sekolah” tetapi ayah sebagai “penjaga sekolah”. Kalau tugas seorang ibu mengasah rasa, sedangkan ayah memberi makna terhadap logika. Artinya, kedua-duanya dibutuhkan oleh anak, tentu beda halnya dengan orang tua yang berstatus sebagai single parent. Jika ibu tidak ada maka anak akan merasakan kekeringan cinta, begitu sebaliknya jika ayah tidak ada maka anak tidak mempunyai kecerdasan logika.

Ayah mengajarkan anak menjadi pemimpin yang tegas, ibunya akan membimbingnya menjadi pemimpin yang peduli dan tegas yang menjadi sikap dasar bagi anak. Untuk itu, hak seorang anak harus terpenuhi untuk mendapatkan pengasuhan yang lengkap, ayah terlibat dalam pendidikan bagi anak-anaknya apalagi ibu yang menjadi madrasah utama bagi anak-anaknya.

Dalam hasil research yang dirilis oleh Kalter dan Rembar dari Dhildren”s Psychiatric Hospital,University of Michigan.tentang keterlibatan ayah dalam kehidupan anak yang mengatakan bahwa, 63 persen anak mengalami masalah psikologis seperti gelisah, sedih suasana hati yang mudah berubah, fabio dan mudah depresi. Sedangkan 56 persen anak memiliki kemampuan di bawah rata-rata dan 43 persen anak melakukan agresi terhadap orang tuanya. Akibatnya, anak akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri di sekolah, lingkungan sosial dan penyesuaian pribadi terhadap perubahan.

Jika memang benar-benar sosok ayah sebagai pemimpin dalam keluarga yang baik, maka akan menghadirkan pengaruh yang cukup besar bagi anggota keluarga yang lain pada karakter anak dalam fase remaja. Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana karakter remaja yang kehilangan sosok ayah? Saya kira pertanyaan seperti harus segara di jawab dengan pendekatan yang komprehensif.

Tersesat Figuritas
Anak yang tidak mengenal sosok ayahnya karena sering tidak di rumah, maka anak akan mempelajari peran ayah dari orang lain. Kalau ibu bisa memberikan pemahaman yang baik kepada anak tentang sosok ayah, mereka itu jauh lebih baik. Tetapi kalau tidak, mereka akan menghadirkan sosok ayah bayangan yang bisa saja negatif, anak tidak bisa menghadirkan sosok ayah, maka anak akan mencari figur ayah yang bisa diimitasi dari luar lingkungan keluarganya. Nah, inilah yang bahaya dan harus menjadi perhatian yang serius bagi seorang ayah. Karena, bisa jadi figur yang ditemukan akan menjerumuskan anak menjadi pemberontak, melawan hukum, kenakalan remaja serta perbuatan negatif lainnya, maka untuk itu, sesibuk apa pun seorang ayah berusahalah untuk tetap memberi ruang kepada anak-anak untuk senantiasa bercengkrama supaya suasana menjadi cair.

Tidak bisa bersosialisasi
(membangun pertemuan)
Kondisi masyarakat hari ini penuh dengan kekerasan dan berbagai macan konflik dan emosi, ketidak hadiran ayah di rumah, akan membuah anak menjadi kebingungan dan tidak mengerti harus melakukan apa pada situasi tersebut. Ditambah lagi, kehilangan sosok ayah yang seharusnya bias membangun suasana dinamis di rumahnya. Ini membuat anak menjadi cendrung pendiam dan kurang bersosialisasi. Akibatnya, anak akan gamang, sulit berkomunikasi dengan orang lain dan sulit membangun hubungan di luar rumah. Pada kondisi inilah seorang ayah harus hadir, menyisihkan waktu di saat kesibukan menyelubungi aktifitas.

Mudah Trauma
Ketiadaan sosok ayah di rumah, bisa menimbulkan berbagai persepsi pada anak, bisa saja anak merasa tidak berarti, terabaikan dan merasa bersalah.
Perasaan ini bisa terbawa sampai dewasa. anak tidak bisa move on dari pikirannya, takut menjalin hubungan dengan orang lain, menunjukkan perasaan dan tergantung pada orang lain demi menghindari penolakan.

Menjadi gemulai dan terseret pergaulan bebas
Ketidak hadiran ayah dalam keluarga, waktu anak laki-laki khususnya akan menghabiskan waktunya dengan ibu, satu sisi hal ini baik, tetapi kalau menjadi kebiasaan dalam pikiran anak laki-laki akan tertanam karekter lemah lembut seorang perempuan tanpa di imbangi pemikiran tentang harus kokoh kuatnya seorang laik-laki. anak-anak akan kehilangan waktu untuk belajar pada ayahnya soal jati diri seorang laki-laki. ini bahaya yang bias mendorong banyaknya generasi laki-laki tapi gemulai. bagi remaja permpuan, akna lebih berbahaya, karena kehilangan sosok ayah di rumah.anak perempuan akan kehilangan sosok ayah sebagai pelindung, seorang anak perempuan yang akan haus kasih sayang, akan mencari sosok itu pada orang lain. anak perempuan yang terjerumus pada hubungan yang salah seperti pacaran, mereka akan mencari pelampiasan kasih sayang yang salah, misalnya mereka rela melakukan apa saja untuk pacarnya termasuk terjerumus pada pergaulan bebas.

Kenapa?
Karena otak laki-laki itu kuatnya sebelah kiri, sedangkan perempuan kuatnya sebelah kanan, karena ayah otak kirinya lebih kuat, jadi lebih fokus dalam berbagai hal. Sementara ibu masih mikir. Ayah kalau bicara mikir dulu dengan otak kirinya tentang apa yang mau di sampikan. Sementara ibu, mikir tujuan apa yang mau disampikan sambil bicara jadi panjang ceritanya. Laki-laki bicaranya pendek-pendek, terbatas tetapi langsung.

Sementara anak-anak yang biasa diasuh oleh ibunya, sangat membutuhkan ayahnya dengan kalimat yang pendek itu. Lebih jelas, lebih mudah untuk mereka lakukan. terkadang ibu-ibu suka mengeluh “kenapa suami saya pendiam, jarang ngomong, kalau ngomong pendek-pendek, terus waktunya nanti tidak ada, jadi saya yang mengatasi dari pada tidak bisa. Artinya ibu terlalu dominan juga tidak boleh dalam hal pendidikan anak-anak, maka dibutuhkan keseimbangan antara ayah dan ibu dalam mendidik anak di keluarga.

Kurangnya Pemahaman Agama
Hal yang paling mendasar di atas segala-galanya adalah agama yang menjadi panutan dalam mendidik anak.ayah kurang mempunyai pengetahuan agama tentang tugas dan tanggung jawab dalam pengasuh anak, bahwa secapek-capek apapun ayah.

Setidaknya ayah bicara dengan anak-anaknya dengan raut wajah yang penuh senyum.tidak mungkin seorang ayah tidak bisa melakukan ini semua, saya yakin semua ayah pernah sekolah, pernah persentasi di sekolahnya, berdiri di depan kelas yang menjelaskan sesuatu. di dalam groupnya ayah bisa bicara, Kalau dari kecil anak tidak dibiasakan diajak untuk berbicara, maka akan banyak persoalan yang akan timbul. di hari tua ayah akan sangat sepi. Kalau ditunda-tunda nanti saat hari tua ayah akan tertunda-tunda juga anak untuk datang menemai ayah.

Padahal, ayah banyak fungsinya yang tidak tergantikan, karena ayah adalah pelatih emosi yang meluap-luap dan ayah bisa mengendalikan, maka untuk itu, ayah harus hadir dalam pendidikan dalam keluarganya yang akan menghasilkan anak yang memiliki kecerdasan emosional lebih baik serta potensinya bisa lebih maksimal, memiliki tanggung jawab serta mempunyai perspektif yang berbeda dalam memandang masalah.
***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here