Ayo Bijak Bersosial Media

0
631
Hatiman, SH

Oleh: Hatiman, SH
Pranata Humas di Kepulauan Riau

Perjuangan panjang Baiq Nuril Makmun untuk mendapatkan keadilan seakan terus menghiasi halaman media belakangan ini. Baiq Nuril Makmun terus berjuang untuk mendapatkan keadilan. Setelah Peninjauan Kembali (PK) atas kasusnya ditolak oleh Mahkamah Agung (MA), Baiq Nuril memohon pengampunan (amnesti) dari Presiden Joko Widodo pada Senin (15/7/2019) yang lalu.

Berdasarkan UUD 1945 Pasal 14 ayat (2), amnesti dan abolisi merupakan kewenangan Presiden selaku Kepala Negara. Namun dalam prakteknya Presiden membutuhkan pertimbangan DPR RI.

Kasus Baiq Nuril merupakan salah satu contoh kasus bagaimana di era sosial media, seseorang bisa dipidanakan karena tidak cermat dalam menggunakan media sosial. Demikian pula kasus yang menimpa Prita Mulyasari, musisi Ahmad Dhani, dan sederet kasus sejenis lainnya.

Sejak Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang merupakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 menjadi hukum positif di Republik ini, satu persatu kasus bermunculan. Memang banyak kalangan yang menginginkan agar UU ITE direvisi khususnya Pasal 27 ayat (3) untuk dihapuskan. Pasal 27 ayat (3) UU ITE menyebut melarang orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Alasan usulan agar pasal tersebut dihapus, karena pasal tersebut dianggap berbahaya. Terlebih lagi jika diterapkan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki pemahaman soal dunia maya. Menanggapi usulan tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara secara tegas pernah mengatakan Pasal 27 ayat (3) UU ITE tidak mungkin dihapuskan. Menurutnya jika pasal tersebut dihilangkan, maka efek jera terhadap para pelanggar hukum akan hilang. Bahkan menurutnya pasal tersebut sebenarnya memiliki peran besar dalam melindungi transaksi elektronik khususnya di dunia maya.

Terlepas dari beragam penafsiran terhadap regulasi tersebut, penulis mengajak pembaca agar lebih baik mengambil jalan bijak bersosial media. Populasi pengguna internet di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur teknologi informasi di Indonesia dan program pemerintah yang memperkenalkan sarana internet hingga ke pelosok Indonesia. Pertumbuhan pengguna internet semakin berlipat ganda, seiring dengan pertumbuhan penjualan telepon seluler pintar (smart phone) yang dapat mengakses internet bergerak (mobile) sehingga khalayak dapat mengakses internet di mana saja dan kapan saja.

Penggunaan media sosial telah membentuk dan mendukung cara baru dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan berkolaborasi atau yang penulis sebut era konvergensi media. Media sosial menawarkan cara yang lebih cepat dan tepat untuk berpartisipasi dalam pertukaran informasi melalui daring (dalam jaringan/online).

Pada zaman sekarang hampir semua pengguna internet memiliki akun media sosial. Dulu mungkin kita masih menggunakan Friendster atau Facebook saja, namun saat ini sudah banyak sekali pilihan media sosial dengan fungsi yang hampir sama atau berbeda-beda. Bahkan Facebook terus mengembangkan aplikasinya agar tidak ketinggalan zaman. Mereka yang gemar dengan konten video akan menggunakan Youtube, berbagi gambar dengan Instagram, tempat chatting seperti Whatsapp, berbagi tulisan di micro blog seperti twitter dan masih banyak lagi.

Dengan menjamurnya media sosial sekarang ini, berdampak semakin mudahnya kita untuk mendapatkan dan membagikan informasi dengan cepat dan biaya murah. Karena memang salah satu fungsi media sosial adalah mempermudah kegiatan manusia sehari-hari. Kecanduan menggunakan media sosial terjadi di berbagai kalangan. Tidak hanya kaum muda dan remaja saja, melainkan anak-anak hingga orang tua seakan tak mau kalah dalam bersosial media.

Pertumbuhan internet dan smartphone di Indonesia terus mendorong orang untuk aktif bersosial media. Sosial media pasti memiliki dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif. Dampak-dampak ini akan muncul tergantung pada bagaimana kita menggunakan media sosial.

Dampak positif bersosial media antara lain menambah pertemanan sehingga semakin luas. Media sosial bisa dijadikan sebagai tempat untuk memperluas jaringan pertemanan kita. Media sosial secara positif juga digunakan sebagai tempat berkomunikasi, berbagi informasi dan ilmu pengetahuan dan tanpa sadar dengan bersosial media secara positif akan membuat kita bertambah kecerdasannya.

Sosial media menjadikan kita berpengetahuan luas karena banyaknya informasi. Bahkan media sosial dijadikan wahana untuk beropini dalam menyampaikan pendapat dan solusi atas berbagai permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat.

Selain memiliki manfaat baik, media sosial juga tentu saja memiliki pengaruh buruk bagi para penggunanya. Pengaruh buruk media sosial antara lain, media sosial sering dijadikan ajang hoax dan fitnah. Dengan menjamurnya informasi yang beredar di media sosial, tentu saja hal ini bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan berita-berita palsu dengan tujuan dan maksud tertentu. Bahkan pemerintah, pernah dibuat kerepotan dengan memblokir media sosial beberapa saat tatkala menjelang pengumuman pemenang pemilu tahun ini.

Media sosial juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membuat akun cloning. Bahkan Facebook sebagai media sosial dengan pengguna terbesar pada awal tahun lalu mengumumkan sebagian besar pengguna Facebook memiliki kloningan dengan akun palsu. Duplikasi akun Facebook oleh penggunanya mencapai 10% dan khusus akun palsu mencapai 4% dari jumlah pengguna aktif bulanan.

Sebenarnya akun sosial media juga membuat terganggunya privacy seseorang. Dengan update status pada akun media sosial setiap hari akan mengganggu ranah pribadi seseorang dan orang lain. Dengan berbagai fitur yang kekinian di media sosial, akan semakin membuat kita kecanduan. Ada keingintahuan terhadap segala sesuatu yang sedang hangat diperbincangkan dari waktu ke waktu sehingga terkadang media sosial cukup menyita waktu.

Pengaruh paling buruk bagi aktivitas sosial media tentu saja adanya kemungkinan tindak kejahatan. Media sosial sudah sering digunakan sebagai sarana untuk melakukan kejahatan. Kasus paling baru adalah seorang ASN asal Bandung yang dimutilasi oleh seseorang yang dikenalnya melalui akun media sosial.

Dengan pengaruh positif dan negatif yang dimiliki media sosial, penulis akan memberikan sejumlah tips yang mungkin dapat diaplikasikan agar kita bijaksana dalam bersosial media.

Pertama, lakukan filter pertemanan. Media sosial menyediakan menu agar kita selektif dalam memilih teman. Hal ini untuk membatasi informasi yang dapat diakses publik tentang privacy kita. Kedua, gunakan foto profil sewajarnya. Visualisasi tentang diri kita menjadi hal yang pertama yang akan dilihat oleh orang lain. Foto digunakan sebagai ukuran yang paling standar dalam menilai profil diri kita di akun media sosial.

Ketiga, pikirkan terlebih dahulu sebelum membuat status. Meskipun terlihat saran yang sederhana, namun cukup berdampak pada diri kita. Pikirkan apakah status dan komentar di media sosial dapat menyakiti perasaan orang lain sehingga masuk dalam delik pasal yang kita bahas di atas. Keempat, publish informasi yang bermanfaat saja. Jangan mempublish informasi yang bersifat pribadi. Informasi pribadi dapat menjadi celah bagi orang lain untuk melakukan kejahatan.

Kelima, bijak dalam membagikan konten. Pastikan konten yang kita bagikan bernilai positif. Jangan sekali-kali membagikan konten negatif karena akan merugikan diri kita dan orang lain. Dan pastikan pula konten yang kita bagikan sudah diperiksa kebenarannya. Keenam, bijak memilah informasi. Banyak sekali informasi yang kita dapatkan di media sosial, setengah dari informasi tersebut mungkin saja palsu. Maka diperlukan kebijaksanaan dalam memilah informasi.

Ketujuh, jangan suka pamer. Sifat pamer terkadang menimbulkan kesan merendahkan orang lain, dan terlihat sombong. Kedelapan, jangan spamming. Pastikan informasi yang kita bagikan di media sosial bermanfaat bagi orang lain. Meskipun kadang terasa membosankan, informasi positif yang kita bagikan jauh lebih baik dari pada spam yang kita bagikan. Kesembilan, selalu beretika saat berinteraksi di media sosial. Etika menjadi penting dalam dunia nyata dan dunia maya. Dengan etika yang tinggi akan menambah keluhuran pribadi kita. Selalu hormati perasaan orang lain. Terakhir, interaksi sewajarnya. Batasi interaksi di media sosial seperlunya saja, baik itu berupa komentar, dan interaksi lainnya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here