Bandara Busung Fokus Layani Turis

0
277
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso saat meninjau Bandara Busung Bintan, Minggu (11/2). f-suhardi/tanjungpinang pos

Perusahaan Pelat Merah Wajib Ikut Mengelola

Bandara Internasional Busung di Bintan sedang dibangun perusahaan swasta. Bandara ini juga akan menjadi pendaratan pesawat jet pribadi orang-orang berkantong tebal.

BINTAN – Namun, untuk pengelolaannya nanti, tidak bisa murni swasta. Harus ada kehadiran perusahaan pelat merah di sana. Kehadiran bandara ini tidak saling mematikan dengan Bandara RHF Tanjungpinang.

Untuk Bandara Busung akan lebih fokus penumpang luar negeri untuk membawa turis ke Lagoi. Dan Bandara RHF untuk pengembangan transportasi Tanjungpinang termasuk sektor wisatanya.

Dirjen Perhubungan Udara, Kemenhub RI, Agus santoso saat mengunjungi lokasi pembangunan Bandara Busung, Bintan mengatakan, perusahaan swasta pengelola bandara itu harus bekerjasama dengan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dalam hal ini Angkasa Pura (AP).

Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Kepri, Syamsul Bahrum menambahkan, untuk menambah pintu masuk turis, penumpang, pebisnis dan investor ke Pulau Bintan, Gubernur Kepri H Nurdin Basirun sangat mendukung pembangunan bandara berskala internasional tersebut.

”Info terakhir, belum lama ini gubernur menyurati Menhub, bahwa beliau mendukung keberadaan bandara itu. Bahkan beliau minta kehadiran bandara itu nantinya, tidak hanya carter flight melainkan juga reguler,” terang Syamsul Bahrum kepada Tanjungpinang Pos, Minggu (11/2) kemarin.

Di samping itu, Syamsul juga menambahkan, saran Menhub bersama Dirjen Perhubungan Udara, bahwa salah satu persyaratannya tetap koordinasi pengelolaannya bersama AP II.

Soal jenis penerbangan apa, tujuannya kemana, Pemprov menyerahkan hal tersebut antara perusahaan yang satu dengan lainnya. Dengan kata lainnya, Business to Business (B to B). Bahkan ada kabar, kehadiran bandara ini pun akan menggandeng pihak swasta dari Singapura. ”Silahkan saja, tapi yang paling penting regulasinya di penuhi,” terang Syamsul.

Jadi ke depan, dengan kehadiran bandara swasta di Busung dengan bandara internasional Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang bisa saling berkoordinasi, saling komperatif dan bersaing sehat.

”Jadi kita berharap, kalau Bandara Busung lebih mengedepankan pasarnya ke Lagoi, sedangkan RHF saat ini tujuan destinasi wisatanya ke Kota Tanjungpinang,” terang Syamsul Bahrum.

Syamsul Bahrum menceritakan, progres fisik yang dia terima atas pembangunan Bandara Busung, ketersediaan lahan yang sudah ada. Dana sudah ada, runway, izin pun sedang berjalan.

Syamsul Bahrum juga menerangkan bahwa kehadiran bandara tersebut juga salah satu menjadi kebanggaan nantinya khususnya masyarakat Bintan.

Saat itu, Syamsul Bahrum didampingi Senior Manager Corporate Communications PT Sriwijaya Air Group Agus Soedjono, General Manager (GM) AP II RHF Tanjungpinang, Hotasi Manalu.

”Ya, karena di situ nanti juga dibangun hanggar bandar udara terbesar tidak hanya sekelas Indonesia barat, melainkan Indonesia pada umumnya,” timpal Hotasi Manalu.

Hotasi Manalu sebagai pengelola Bandara AP II RHF Tanjungpinang, menjelaskan, pada umumnya AP II sangat membuka diri, jika memang diminta mengelola bandara tersebut.

Karena memang aturan yang disampaikan Dirjen Perhubungan Udara bahwa tidak boleh ada dua bandara melainkan, satu bandara harus digabung jadi satu.

”Mereka tidak bisa ngelola sendiri, karena bukan perusahaan bandar udara. Karena Badan Usaha Bandar Udara itu punya PP tersendiri di beberapa negara juga begitu, menggunakan badan usaha,” terang Hotasi.

”Targetnya 2019, sudah dibangun. Tapi kita tidak dapat memastikan juga, namanya juga investasi, bisa cepat bisa lambat,” tambahnya.

Karena nanti di bandara tersebut, tidak hanya pesawat sekelas Sriwijaya serta Garuda Indonesia, melainkan pesawat jet pribadi milik swasta pun bisa turun di bandara tersebut.

”Bagi kami regulasi dipercepat dulu, saat ini Politeknik Batam sudah mempersiapkan, satu kelas khusus untuk mempersiapkan, fasilitas penerbangan ini,” timpal Syamsul Bahrum.

E Presley L Sumanti, Distrik Manager (DM) Sriwijaya Air Tanjungpinang menyampaikan, bahwa klien utama dari perusahaan swasta di Bintan yang mencanangkan pembangunan Bandara ini adalah Sriwijaya Air.

”Jadi pengelolaanya oleh Sriwijaya Maintenance Facility. Anak perusahaan Sriwijaya group,” terang Presley. ”MRO-nya diminta Sriwijaya,” timpalnya.

Jadi nanti, sekitar 2020 ke atas, dengan kehadiran Bandara Busung ini, denyutnya operasional Sriwijaya Air ke depan itu adanya di Pulau Bintan. Mengingat, juga akan dibangun hanggar. Jadi bisa ditargetkan, informasi terakhir bisa sampai 10 ribu tenaga kerja yang akan direkrut.

”Kenapa Bintan dipilih Sriwijaya, karena Bintan wilayah yang sangat strategis di apit oleh negara Singapura dan berpotensi,” terang Presley.(SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here