Bangun RKB, Siswa Belajar Tiga Shift

0
102
KETUA Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang Maskur Tilawahyu (kanan) saat meninjau lokasi pembangunan ruang kelas baru di SDN 016 Tanjungpinang Timur, Senin (1/10) lalu bersama Farida (kanan). F-martunas/tanjungpinang pos

SDN 016 Tanjungpinang Timur Tambah Ruang Belajar

Karena masih tahap pembangunan, siswa SDN 016 yang berlokasi di Perumahan Kijang Kencana III RT-002/RW-07 Kelurahan Pinang Kencana Kecamatan Tanjungpinang Timur, harus belajar tiga shift.

TANJUNGPINANG – Hal ini disampaikan Farida, Kepala SDN 016 Tanjungpinang Timur saat menerima kunjungan Maskur Tilawahyu Ketua Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang bersama Husnari Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang dan Masri yang juga dari Disdik Kota Tanjungpinang, Senin (1/10) lalu.

Kepala sekolah yang baru bertugas satu tahun itu menjelaskan, saat ini siswanya 320 orang mulai Kelas I-IV dengan jumlah rombongan belajar (rombel) ada 9.

”Ruang kelas ada enam. Namun tiga ruangan belum bisa kita gunakan karena lantai dua-nya sedang dibangun. Sekarang hanya tiga ruangan yang bisa kita pakai pak,” ujar Farida memberi penjelasan tentang kondisi sekolah itu.

Meski demikian, siswa tetap belajar seperti biasa. Bedanya, siswa harus masuk pagi hingga masuk siang. Terakhir siswa Kelas IV masuk pukul 13.00 WIB.

Saat ini, ada 11 guru di sana termasuk kepala sekolah. Diantara 11 orang itu, hanya 5 yang guru PNS (Pegawai Negeri Sipil). Sedangkan enam orang lagi guru komite, Guru Tidak Tetap (GTT) satu orang dan guru honor daerah serta guru Dinas Pendidikan.

Maskur Tilawahyu mengatakan, mengingat sekolah itu tergolong baru, maka masih banyak fasilitas sekolah itu yang kurang. Namun ke depan, pemerintah akan membenahinya perlahan-lahan.

Maskur juga berjanji akan terus memantau perkembangan sekolah itu. Apalagi, pembentukan sekolah itu hingga berdiri seperti saat ini memiliki sejarah yang panjang.

Perjuangan Maskur bahkan sempat dipermasalahkan pemilik lahan sebelahnya. Padahal, Maskur memperjuangkannya agar anak-anak di Perumahan Kijang Kencana III dan sekitarnya bisa sekolah di sana.

Awalnya, kata dia, lokasi sekolah itu adalah fasilitas umum (fasum) di perumahan itu. Rencananya hendak dibangun masjid. Namun, sebelum pembangunan masjid dilakukan, terlebih dahulu dipakai sebagai lapangan bola voli.

Lama kelamaan, warga makin mengeluh karena tidak ada sekolah di sana. Penduduk bertambah, dan mereka harus mendaftarkan anaknya jauh-jauh untuk sekolah.

Sekolah terdekat di sana adalah SDN 002 dan SDN 010. Namun, sekolah ini sering menolak siswa karena daya tampungnya terbatas. Jumlah siswa yang mendaftar membeludak dari berbagai perumahan.

Turut merasakan kesulitan masyarakat, akhirnya Maskur Tilawahyu membantu memfasilitasi agar pemerintah daerah membangun sekolah di fasum tersebut. ”Masjid sudah dibangun di tempat lain. Makanya, fasum ini dibangun sekolah,” jelas Maskur kepada Tanjungpinang Pos saat peninjauan itu.

Ternyata saat pembangunan hendak dimulai, muncul masalah dari pemilik lahan sebelah. ”Sebenarnya tidak ada masalah, tapi jadi masalah. Kita mau bangun sekolah kok. Bukan mau bikin apa-apa,” kisahnya.

Bahkan saat itu, mantan Sekdaprov Kepri Suhajar Diantoro berkali-kali turun ke lokasi untuk ikut mengatasi persoalan tersebut. Maskur sendiri beberapa kali harus berurusan dengan polisi akibat persoalan itu.

Akhirnya sekolah itu jadi juga dibangun. ”Memang tidak ada masalah. Untunglah sudah selesai. Sekarang masyarakat sudah bisa tenang. Anaknya bisa sekolah dekat rumahnya,” katanya terharu.

Dijelaskannya, berdasarkan hasil pembicaraannya dengan tukang di sekolah itu, pembangunan gedung tersebut sudah harus selesai paling lambat akhir tahun ini.

Dengan demikian, maka siswa sudah bisa menempatinya awal tahun. Dengan selesainya pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) di sekolah ini, maka ruang belajar akan bertambah menjadi sembilan dari sebelumnya hanya enam unit.

RKB yang dibangun saat ini tiga lokal di lantai II gedung yang sudah ada sebelumnya. Karena pembangunan gedung di lantai dua, maka ruang belajar di lantai bawah tidak bisa dipergunakan sementara.

Lokasi pembangunan juga dipasang pembatas. Sehingga siswa tidak masuk ke lokasi bangunan saat istirahat. Pembatasan itu untuk menjaga keamanan siswa jika sewaktu-waktu ada bahan material yang jatuh dari lantai dua.

Pantauan di lokasi, di sekeliling gedung dipasang perancah agar bisa memelester dinding bangunan. Sehingga, sebagian material bangunan ada yang terjatuh ke bawah. Karena itu, siswa dilarang mendekat ke lokasi pembangunan.

Maskur mengatakan, anggaran pembangunan tiga lokal tersebut sekitar Rp833 juta dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dengan sistem swakelola.

”Ini TP (Tugas Pembantuan) dari pusat. Sistemnya swakelola. Pihak kepala sekolah yang mengelola anggaran itu. Tapi sudah ditentukan semua untuk apa penggunaannya. Tidak bisa macam-macam,” jelas politisi Partai Demokrat Tanjungpinang itu sambil tertawa.

Dijelaskan Maskur, lahan sekolah itu masih ada sisa. Di samping gedung yang sedang dibangun saat ini, masih ada lahan yang bisa dibangun untuk dua lokal.

Artinya, jika dibangun bertingkat, masih bisa penambahan empat lokal. Kemudian, sisa lahan di ujung bisa digunakan untuk bangunan majelis guru termasuk perpustakaan maupun Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Bagian belakang sekolah itu pun masih ada lahan sisa sedikit. Sehingga ke depan harus dibangun pagarnya. ”Tak bisa langsung rampung. Nanti perlahan-lahan dibenahi seluruhnya. Anggaran kita juga terbatas,” ungkapnya lagi.

Maskur juga mengatakan, hingga ujung jalan itu masih lahan milik sekolah dan saat ini dipakai untuk jalan pembangunan perumahan di belakang sekolah itu.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here