Banjir dan Moralitas Lingkungan

0
221
Nazaruddin

Oleh: Nazaruddin
Dosen STAI Miftahul Ulum Tanjungpinang,
Wakil Ketua Orda ICMI Tanjungpinang

Dunia menjadi saksi semakin cepatnya penigkatan dampak bencana yang disebabkan oleh perpaduan dan kerentanan, yang selalu mengancam kehidupan dan penghidupan masyarakat. Akibat bencana tersebut berdampak kemunduran pertumbuhan social ekonomi, dan lingkungan.

Kebutuhan secara sistematis untuk mengurangi dampak bencana dan akibat perubahan iklim perlu semakin ditingkatkan guna mendapatkan pengakuan dan komitmen dari pengambil keputusan (pemerintah) yang didukung oleh lembaga usaha dan masyarakat dalam membuat kebijakan baik secara politik, hokum, ekonomi, lingkungan, social budaya. Kebijakan tersebut kemudian di turunkan melalui upaya membangun kesadaran masyarakat, pengetahuan ilmiah, perencanaan pembangunannya yang terpadu. Penegakan hukum,peringatan dini berbasis masyarakat, dan mekanisme kesiapsiagaan dan tanggap darurat yang efektif .

Pengalaman juga mengajarkan bahwa pergantian musim sering di warnai gangguan alam tak hanya gempa bumi, tanah longsor, melainkan juga banjir. Banjir merupakan fenomena alam yang hamper dapat di pastikan terjadinya berbarengan dengan datangnya musim hujan. Sebagaimana yang terjadi saat ini, banjir merupakan sebuah rutinitas yang senantiasa terjadi dari tahun ketahun, dan bahkan ada kecendrungan terutama diberbagai kota besar. Berbagai solusi dari permasalahan banjir yang ditawarkan senantiasa tidak dapat optimal dalam catatan operasional untuk menanggulangi atau mengurangi banjir, baik secara volume maupun persebarannya.

Banjir hendaknya, juga dipandang sebagai sebuah akibat dari suatu sikap perilaku dan hasil kerja manusia dalam memberlakukan dan mengelola sumber daya alam dan lingkungannya (Qs:Ar-Rum:41). Kesalahan pengelolaan terhadap kondisi alam dan sumber dayanya merupakan factor penting yang menjadi penyebab utama terjadi bencana banjir.

Lebih jauh dapat di katakana bahwa setiap kejadian bencana alam (termasuk banjir) terjadi karena ada kesalahan pandang dan paradigm manusia dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Pengelolaan sumber daya alam dan teknis operasional semata dengan tujuan untuk pemenuhan kebutuhan manusia dan kebutuhan segala bentuk-bentuk pembangunan secara materialitas. Dinegasikannya paradigm dan filosofi etik dan moralitas dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan telah menjustifikasi segala bentuk kegiatan manusia yang justru memberikan dampak negative dan efek kerusakan yang lebih besar terhadap sumber daya alam dan lingkungan itu sendiri.

Fenomena banjir merupakan salah satu dampak dari kesalahan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan tersebut. Banjir terjadi karena beberapa hal : pertama, terjadinya penggundulan hutan dan rusaknya kawasan resapan air di daerah hulu. Seperti diketahui bahwa daerah hulu merupakan kawasan resapan yang berfungsi untuk menahan air hujan yang turun agar tidak langsung menjadi aliran permukaan dan melaju ke hilir. Melainkan ditahan sementara dan sebagian airnya dapat diresapkan menjadi cadangan air tanah yang memberikan manfaat besar terhadap kehidupan ekologi dan ekosistem. Tindakan penebangan hutan dan perusakan daerah hulu tidak terlepas dari alasan untuk memenuhi kebutuhan material manusia.

Kedua, beralihnya fungsi penggunaan lahan didaerah hulu dari kawasan pertanian dan kawasan terbangun juga mengakibatkan aliran permukaan yang lebih besar ketika hujan turun, aliran permukaan yang besar akan menyebabkan terjadinya banjir apabila kapasitas daya tamping saluran sungai dan drainase tidak mencukupi. Fenomena perkembangan pemukiman juga tidak dapat dielakkan lagi seiring dengan perkembangan pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Ketiga, banjir juga disebabkan oleh terjadinya erosi didaerah hulu. Dengan demikian kapasitas daya tamping menjadi berkurang dan air diluapkan keberbagai tempat sebagai banjir.

Keempat, banjir juga tidak luput dari perilaku manusia dan dampak dari pembangunan fisik perkotaan. Banyak kawasan terbuka hijau menjadi kawasan terbangun. Daerah terbuka hijau yang dulunya bermanfaat menjadi kawasan peresapan sekarang menjadi kurang semakin berkurang. Implikasinya tidak ada lagi atau sangat sedikit sekali air hujan yang dapat diresap kedalam tanah sebagai cadangan air tanah, dan sebagian besar dialirkan sebagai aliran permukaan sehingga kapasitas saluran drainase terutama didaerah perkotaan menjadi tidak memadai.

Kelima, tidak adanya kesadaran dan kepekaan lingkungan dari perilaku masyarakat, kegiatan pembangunan sampah dan limbah padat industry menyebabkan terjadinya pendangkalan dan penyumbatan aliran air.

Keenam, tidak dipatuhinya bergbagai regulasi terutama berkaitan dengan kegiatan pembangunan. Aturan dalam pembangunan perumahan dan ruko misalnya, keharusan menyisakan lahan terbuka untuk menjadi daerah peresapan air hujan dan terdapatnya sumur respan untuk penampungan air hujan, ternyata tidak mendapatkan respons yang signifikan dari masyarakat modern saat ini. Kebutuhan ruang yang sangat mendesak ternyata telah menegasikan berbagai regulasi yang ada.

Berbagai faktor tersebut diatas sebetulnya mencerminkan bahwa presepsi, pola piker dan pola tindak manusia daam merespons dan menyikapi sumber daya alam dan lingkungannya sangat jauh dari kepekaan akan dampak lingkungan yang ditimbulkan kemudian hari. Apalagi apabila dampak tersebut tidak secara langsung berimbas kepada pelaku pada kegiatan tersebut. Sering kali dampak dari kerusakan lingkungan justru dialami oleh masyarakat yang tidak berkaitan dengan kegiatan-kegiatan eksploitasi lingkungan tersebut. Sampai dengan taraf ini maka dapat dikatakan bahwa sebetulnya permaslaahan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan bukan semata-mata merupakan permasalahan teknis operasional saja, melainkan perlu dilandasi etika dan moralitas.

Moralitas lingkungan mengedepankan sikap saling menghormati dan memberikan apresiasi terhadap berbgai komponen-komponen lingkungan yang ada (selain manusia) secra proporsional dan seimbang. Artinya setiap komponen yang terkait dalam lingkungan dan ekosistem mempunyai nilai dan kemanfaatan tertrntu sehingga hal tersebut tidak seharusnya dilanggar untuk menghindari ketimpangan dan kritis lingkungan.

Pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia tidak saja dipandang dari sudut pemenuhan kebutuhan materialitas dan pembangunan fisik semata-mata melainkan juga kebutuhan akan kualitas kehidupan yang lebih baik dalam arti luas. Moralitas lingkungan memberikan peluang hak dan kewajiban yang seimbang dari setiap komponen dalam ekosistem dan lingkungan untuk saling menghargai dan berfungsi secara sinergis. Moralitas lingkungan juga memberikan ruang gerak dan penghormatan terhadap interaksi antara manusia dengan manusia, manusia dengan komponen lingkungan lainnya, dan antar komponen lingkungan itu sendiri. Secara lebih jauh moralitas lingkungan memberikan penekanan pada bentuk pola piker dan perilaku manusia dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungannya.

Implemantasi dari filosofi moralitas lingkungan diharapkan dapat mengurangi kejadian-kejadian dari permasalahan lingkungan yang secara rutin terjadi setiap saat, seperti halnya banjir.

Pertumbuhan lahan terbangun yang begitu cepat dikawasan perkotaan hendaknya tidak saja dipandang sebagai sebuah keberhasilan dari bentuk pembangunan namun harus juga dipahami sebagai bentuk kekhawatiran yang sangat terhadap hak-hak lingkungan dan penghormatan terhadap ekosistem. Dengan demikian pemecahan permasalahan yang terkait dengan lingkungan juga menjadi titik prioritas yang signifikan yang harus dilakukan dalam rangka penigkatan pembangunan.

Pada akhirnya, harapan paling ideal yang menjadi cita-cita bersama adalah munculnya kesetaraan bobot analisis dari berbagai bidang dalam segala kegiatan dan perilaku hidup manusia dalam rangka peningkatan pembangunan dan pemenuhan kebutuhan manusia, artinya bidang ekonomi, kebutuhan materi dan pembangunan fisik tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran yang dominan dalam menghitung suatu keberhasilan pemenuhan kehidupan manusia. Factor keberlangsungan ekologi dan kenyamanan lingkungan hendaknya juga menjadi parameter signifikan dalam menghitung keberhasilan pembangunan. Hal inilah yang secara lebih jelas disebut dengan peningkatan kualiatas kehidupan. Ayo waspada bencana banjir. Semoga bermanfaat. Amien. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here