Banjir Rob Ganggu Lalu Lintas Pelantar II

0
94
SEORANG pengendara sepeda motor melintas di jalan Pelantar II, yang digenangi air pasang laut, Jumat (22/2) siang kemarin. f-raymon/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Sejumlah jalan menuju pasar ikan dan Pelantar II, Tanjungpinang dilanda banjir air pasang laut (rob), Jumat (22/2). Akibatnya, lalu lintas di pelantar II sedikit terganggu.

Meski jalan tergenang air pasang laut, sebagian para pengendara roda dua nekat menerobos banjir rob tersebut. Dari pantauan di lapangan, kawasan pasar yang banjir jalan menuju Pelantar II dan jalan menuju kawasan pasar ikan, serta pasar sayur di Pelantar KUD digenangi air laut.

Rolan pedagang pasar mengatakan, banjir ini dikarenakan air pasang laut yang cukup tinggi. Beruntung tidak terjadi hujan. Banjir ini juga sudah biasa terjadi di setiap tahunnya.

”Kalau enggak bulan Desember, ya sekarang. Pas bulan besar, otomatis air pasang laut tinggi,” katanya.

Rolan menyebutkan, banjir rob Jumat kemarin, sudah naik sejak pukul 10.00. Menurutnya, pasang air laut membahayakan. Semua onderdil becak dan motor bisa berkarat. Diprediksi banjir di pasar ini akan berlangsung selama beberapa hari lagi, sampai air laut mulai mereda.

”Ini hari ke dua, mungkin bisa sampai dua atau tiga hari ke depan kondisi seperti ini,” prediksinya.

Rolan mengatakan, air pasang meluap ke daratan hingga semata kaki orang dewasa. Terparah di kawasan menuju Pelantar II, banjir setinggi betis orang dewasa.

”Rata-rata jalan menuju pasar tergenang dengan air pasang,” tuturnya.

Sementara itu, Bram pengendara menuturkan, terpaksa harus mengarungi banjir dengan kendaraan.

”Dikarenakan semua jalan sudah tergenang, kita mencari daerah yang masih tinggi untuk dilalui. Ya, itu cuma akses kita lewati. Kalau tunggu surut, bisa lama banjir ini sekitar 1 sampai 2 jam,” ucapnya.

Genangan yang muncul, mau tidak mau membuat warga yang akan berbelanja mesti mencari jalan menghindari becek.

”Kan gak tahu ya, kapan pasang atau enggak. Jadi kadang balik arah cari jalan lain,” jelasnya.

Ketidaknyaman dirasakan seluruh calon pembeli yang berjalan kaki maupun berkendara roda dua. Terutama pula kepada para pedagang kaki lima. Seketika genangan meninggi, para pedagang harus rela terburu-buru mengemas dagangannya. (ray)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here