Banjir Tertingggi Sepanjang Sejarah

0
333
banjir

Belum diketahui pasti berapa rumah dan ruko yang terendam akibat banjir di Tanjungpinang. Namun jumlahnya diperkirakan ratusan. Bahkan bisa mencapai 200-300-an unit.

Belum lagi banyaknya masyarakat yang terganggu akibat jalan banjir, becek dan penuh sampah. Persoalan ini harus segera dituntaskan.

Sekitar 30 unit rumah warga di kampung Nusantara RT 5 RW 11 Kelurahan Seijang Kecamatan Bukit Bestari digenangi banjir sejak dini hari sekitar pukul 03.00, Jumat (18/1).

Hujan mengguyur kota Tanjungpinang sejak pukul 02.00, banjir di Kampung Nusantara mengakibatkan barang peralatan rumah tangga milik warga ikut terendam akibatnya sebagian warga yang terkena musibah harus mengungsi ke rumah sanaksaudara.

Ketua RT 03 RW 11 Adrianus mengatakan, sebanyak 30 rumah terendam banjir setinggi dada orang dewasa atau sekitar 1 meter. ”ujan turun sekitar pukul 02.00 di kampung kita. Sekitar satu jam setelah terjadi hujan air sudah mulai naik,” katanya.

”Ketinggian air tadi malam setinggi dada orang dewasa, ini banjir yang tertinggi terjadi,” katanya.

Menurutnya, di Kampung Nusantara ini sering dilanda banjir namun tidak pernah setinggi kali ini. Biasanya hanya sebatas betis saja. Itu juga terjadi di jalan. Kali ini jalan raya Dompak juga menjadi genangan air.

”Di Kampung Nusantara ada 70 rumah. Yang terkena banjir 30 rumah,” sebutnya.

Adrianus menjelaskan, akibat dari banjir ini perabotan rumah warga tidak terselamatkan begitu juga dengan kendaraan seperti sepeda motor dan mobil milik warga ikut terendam banjir.

”Mau gimana lagi sudah tenggelam. Warga juga mengungsi. Untuk mengurangi banjir, masyarakat melakukan penjebolan pembatas jalan untuk membuang air ketempat yang lebih rendah,” jelasnya.

Camat Bukit Bestari, Faisal Pahlevi menuturkan, untuk langkah ke depan pihaknya sudah mengusulkan dan sudah memprioritas masalah banjir ini.

Jalan keluar dari permasalahan banjir di kampung ini tidak hanya diselesaikan di sini. Tetapi harus diselesaikan satu rangkaian mulai dari hulu Sungai Sri Andana yang diperbaiki.

”Kalau sungai tidak dibenahi maka kampung ini tetap menjadi titik banjir,” tuturnya.

Menurutnya, nanti pihaknya akan mendata dan melaporkan siap-siap saja yang terkena banjir ini. Nantinya akan dilaporkan ke BPBD Tanjungpinang yang menangani hal itu.

”Supaya minimal ada bantuan dari mereka, saat ini juga kita masih mendata rumah yang terkena banjir,” ujarnya.

Perlu Komitmen Tangani Banjir
Anggota DPRD Kota Tanjungpinang, Reni juga menaruh rasa duka atas kejadian jatuhnya pengendara sepeda motor beserta dua anaknya di dalam drainase di Jalan Gatot Subroto, Jumat (18/1) pagi itu.

Atas kejadian itu, Putra (9) tahun meninggal dunia saat dibawa ke RSUD Tanjungpinang.

Menurut Reni, dari kejadian ini harus ada hikmah yang diambil. Yaitu pemerintah memiliki sikap dan keinginan yang keras menyelesaikan banjir.

Reni menurutkan, banjir di Tanjungpinang sudah tidak bisa dianggap sepele. Bahkan puluhan rumah di beberapa kawasan terendam. Hal ini pun meninggalkan kecewa dan rasa sedih di setiap pemilik rumah.

Belum lagi menimbulkan kerugian materil, sebab tak sedikit yang alat eletroniknya bisa juga rusak.

Genangan banjir dengan tinggi lebih dari satu meter terjadi di beberapa lokasi. Diantaranya di Kawasan Tanjungpinang Timur, Dompak, Bukti Bestari dan Yudowinangun, Tanjungpinang Barat serta kawasan lainnya.

Ia menilai, keinginan pemerintah menyelesaikan banjir ada, namun tidak bertekad dengan berkorban mengalokasikan anggaran sesuai dengan kebutuhan.

Menurutnya, anggaran penangan banjir yang diberikan masih sedikit. Bahkan belum sampai dari 10 persen yang dibutuhkan yang diperkirakan lebih dari Rp60 miliar.

Data ini dari Dinas PU Kota Tanjungpinang, bila ingin menyelesaikan banjir secara terpadu bahkan bisa lebih dari nilai itu.

Menurutnya, pemerintah setiap tahun fokus menyelesaikan titik banjir yang mengkhawatirkan.

”Masyarakat butuh bukti nyata, terkait anggaran menjadi kewenangan pemerintah untuk memikirkan. Apakah berkoordinasi dengan provinsi, pihak pengembang atau swasta dan bahkan pusat,” ucapnya.

Untuk sementara, Reni menyarankan Pemko melalui OPD terkait bisa memasang penutup di drainase yang besar. Menghindari kejadian yang sama terulang. Bahkan ia pun meyakini, pihaknya dari DPRD tidak akan mencoret anggaran terkait kebutuhan warga secara langsung, termasuk penanganan banjir.

Reni menambahkan, sebagai Ibukota Provinsi Kepri, sudah seharusnya terbebas dari banjir.

Meski demikian, ia juga meminta keberlibatan masyarakat. Bila lahannya diperlukan untuk menyelesaikan banjir bisa diajak berkomunikasi. (dri/ray)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here