Bantuan ke Nelayan Keramba Dihentikan

0
213
nelayan budidaya keramba Anambas panen, belum lama ini. f-dok/tanjungpinang pos

Dinilai Tak Efektif dan Tak Biasa kerja kelompok

Kelompak nelayan pembudidaya ikan di keramba harus gigit jari tahun 2019 ini. Sebab, mereka tidak akan mendapatkan bantuan lagi dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemprov

TANJUNGPINNAG – ALASANNYA, para pembudidaya ikan keramba ini tidak efektif dalam mengelola dan menjalankan usahanya. Tahun ini, DKP fokus bantuan sampan ketinting dan peralatan alat tangkap nelayan pesisir lainnya.

Meski demikian, nelayan tetap meminta kebijakan itu dipertimbangkan kembali mengingat mereka sama-sama mencari nafkah di laut. Harusnya duduk bersama membahas kenapa hasil keramba tidak efektif.

Kepala DKP Pemprov Edy Sofyan mengatakan, bantuan untuk pembudidaya ikan keramba ini sifatnya per kelompok. Sementara nelayan di Kepri belum terbiasa kerja berkelompok. Biasanya, mereka kerja sendiri-sendiri pergi melaut, hasilnya untuk diri sendiri.

”Begini, masyarakat kita sekarang ini belum terlatih untuk bekerja kelompok, makanya kita pecahkan, fokus ketinting saja,” jelas Edy kepada Tanjungpinang Pos, Jumat (11/1) kemarin di Tanjungpinang.

Pengalaman selama ini, kata dia, banyak nelayan keramba ikan yang dibantu Pemprov, justru tidak dimanfaatkan dengan baik oleh nelayan. Inilah salah satu yang menghilangkan kepercayaan pemerintah kepada pembudidaya tersebut.

”Sudah diberikan kepercayaan misalnya, diberikan ke orang lain. Bahkan ada juga yang membayar, dia sendiri duduk diam di rumah,” cerita Edy selama ini melihat kondisi realita nelayan pesisir Kepri.

Intinya, Edy menegaskan, untuk aktivitas nelayan keramba berdasarkan pantauan petugasnya di lapangan belum efektif.

Kedua, misalnya anggaran untuk bantuan kelompok tersebut sangat besar, tidak sebanding dengan apa yang dihasilkan dan diharapkan pemerintah.

”Kita ingin menyiapkan SDM dulu. Sudah siap, barulah kita membangun budidaya,” sebut Edy.

Edy menceirtakan, di zaman Kadis DKP sebelumnya, memang bantuan untuk keramba ini terus diberikan tanpa melihat efektivitas bantuan yang diberikan tersebut. Saat dirinya masuk menggantikan posisi Kadis DKP yang sebelumnya, bantuan untuk keramba ini dihapuskan.

”Karena belum termanfaatkan dengan baik. Kalau potensi besar, tapi SDM belum siap, percuma juga. Kita bantu tapi perlahan-lahan, lah,” sebut Edy demikian.

Tahun 2019 ini, DKP akan memfokuskan bantuan sampan ketinting dan alat tangkap lebih banyak. Dari sebelumnya hanya puluhan, 2019 ini kata dia mampu mencapai 200-an unit yang diserahkan ke nelayan, bantuan tersebut satu paket dengan alat tangkap.

”Tapi tidak semua permohonan dari nelayan kita bantu. Kita takut tidak tepat sasaran,” sebut Edy demikian.

Meski Kepri dengan luas laut 98 persen dan lumbungnya ikan, namun harga ikan yang mahal justru sering salah satu pemicu tingginya inflasi.

Di saat musim tertentu, stok ikan di pasar sedikit. Sehingga harganya mahal. Minimnya ikan di pasar di musim tertentu karena nelayan tak berani melaut.

Nelayan takut kapalnya yang kecil digulung ombak di tengah laut. Sehingga mereka hanya mencari ikan di pinggiran laut saja dan hasilnya juga tidak sebanyak di tengah laut.

Di Natuna, nelayan masih menggunakan perahu kecil dan alat tangkapnya juga masih tradisional sementara lautnya penuh ikan. Karena potensi ikan laut Natuna tidak tergarap maksimal, pemerintah pusat mulai mengirimkan nelayan dari Pulau Jawa ke sana.(SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here